Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Blog SABDA

Syndicate content
melayani dengan berbagi
Updated: 24 weeks 2 days ago

Roadshow SABDA di GKI Ngupasan, Yogyakarta

Mon, 2018-04-30 11:39

Oleh: Liza

Pada 10 April 2018, tim SABDA kembali mendapat kesempatan untuk mengadakan Roadshow #Ayo_PA! di GKI Ngupasan, Yogyakarta. Ini bukan pertama kali tim SABDA melayani di tempat ini (sudah keempat kalinya), tetapi pertama kali bagi saya. Acara dimulai pukul 18.00 WIB. Namun, saya, Bu Yulia, dan Tika sudah mempersiapkan alat dan booth SABDA mulai pukul 15.30 WIB. Saat persiapan, ada beberapa kendala teknis yang kami alami. Hanya ada satu LCD yang sudah terpasang di atas sehingga posisi LCD tidak bisa diubah, padahal rencananya kami akan menggunakan dua LCD; satu untuk presentasi dan satu lagi untuk demo. Saya dan rekan saya, Tika, mencoba beberapa alternatif agar dengan satu LCD kami bisa menggunakannya untuk presentasi sekaligus untuk demo tutorial. Menjelang pukul 18.00 WIB, kami bersyukur karena ada Pak Triyono atau yang biasa dipanggil Pak Tri, yang membantu kami. Ternyata, ada satu LCD lagi di gereja. Pak Tri membantu mempersiapkan LCD dan layar tambahan tersebut. LCD dan layar tambahan ini bisa kami gunakan untuk menampilkan demo menggunakan lima aplikasi SABDA.

Pelatihan yang dibawakan oleh Bu Yulia ini berlangsung selama kurang lebih dua jam. Materi pertama tentang apa itu Pendalaman Alkitab (PA) dan apa pentingnya melakukan PA. Materi kedua adalah cara menggunakan lima aplikasi SABDA, yaitu Alkitab, Tafsiran, AlkiPEDIA, Kamus Alkitab, dan Peta untuk melakukan PA, disertai demonya. Bu Yulia membawakannya dengan bagus. Seiring berjalannya waktu, Bu Yulia bisa membangun koneksi dengan peserta. Peserta juga langsung praktik dengan HP mereka. Mayoritas peserta usianya sudah tidak muda lagi. Namun, saya terkagum dengan semangat mereka untuk belajar. Walaupun mereka rata-rata masih canggung dalam menggunakan aplikasi, tetapi mereka tidak putus asa untuk mencoba dan belajar. Antarpeserta juga sudah akrab, sehingga ketika ada yang tidak bisa, mereka bisa saling membantu.

Pada akhir acara, kami berfoto bersama dan mempersilakan peserta untuk mengunjungi booth SABDA. Mereka sangat antusias untuk mengetahui lebih dalam tentang produk-produk SABDA. Tidak lupa kami mengambil testimoni para peserta. Ada enam orang yang memberikan testimoninya tentang pelatihan SABDA ini. Mereka sangat bersyukur dengan acara ini karena telah menambah wawasan mereka tentang bagaimana belajar Alkitab. Mereka juga mau membagikan apa yang telah mereka pelajari pada rekan maupun keluarga mereka.

Melalui roadshow kali ini, saya diingatkan untuk belajar fleksibel terhadap kondisi, khususnya dalam persiapan teknis yang kami lakukan. Tidak boleh ragu mengubah rencana untuk beradaptasi dengan situasi yang ada. Saya bersyukur bisa berbagi berkat dengan peserta di GKI Ngupasan, Yogyakarta. Doa saya, semoga mereka bertambah semangat untuk melakukan PA.

Pelatihan SABDA: Studi Alkitab pada Era Digital

Fri, 2018-04-20 07:19

Oleh: Danang

Pada Kamis, 5 April 2018, tim SABDA mengadakan roadshow di STT AIMI, Solo, berupa pelatihan "Studi Alkitab pada Era Digital". Pelatihan ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta yang terdiri dari komunitas pendeta, dosen, dan mahasiswa/i STT AIMI. Tim SABDA yang terlibat dalam pelayanan kali ini adalah Bu Yulia, Aji, Ody, Tika, Kun, Lena, dan saya sendiri. Selain memberikan pelatihan, SABDA juga membuka booth SABDA yang ramai dikunjungi oleh peserta. Booth SABDA menyediakan produk-produk pelayanan dari SABDA, seperti CD Alkitab Audio, DVD Library SABDA Anak, DVD Dengar Alkitab, DVD Konseling Kristen, SD Card bahan-bahan digital dari SABDA, dsb.. Staf SABDA yang melayani juga membantu beberapa peserta untuk menginstal aplikasi SABDA antara lain Alkitab, Alkipedia, Kamus, Tafsiran, dan Peta. Namun, tampaknya tidak semua peserta cukup memahami gawai mereka. Beberapa gawai bahkan tidak memiliki ruang penyimpanan yang cukup untuk semua aplikasi SABDA. Jadi, sebagian peserta tidak mempunyai aplikasi secara lengkap.

Acara pelatihan diawali oleh Bu Yulia yang menyampaikan tentang overview acara pelatihan di STT AIMI ini dan pentingnya pendalaman Alkitab. Setelah itu dilanjutkan oleh Ody yang memaparkan tentang bahan-bahan apa saja yang dipakai dalam melakukan studi Alkitab baik dengan versi cetak maupun yang telah didigitalkan oleh SABDA. Berikutnya, Aji memaparkan tentang metode S.A.B.D.A., yaitu metode PA dengan lima tahap: Simak, Analisa, Belajar, Doa + Diskusi, dan Aplikasi. Lalu, dilanjutkan oleh Tika yang menjelaskan secara spesifik tentang langkah Simak, yaitu langkah pertama PA untuk membaca, mendengar, dan melihat Alkitab dengan berbagai bahan dan alat-alat digital. Peserta tampak antusias menyimak di setiap sesi, bahkan banyak juga peserta yang penasaran dengan aplikasi SABDA dan mencoba-coba sendiri di gawainya. Ada juga peserta yang tidak membawa gawai atau gawainya bukan Android, tetapi mereka tampak penasaran dengan isi materi. Ada juga tanggapan lucu dari peserta karena mungkin belum memahami PA secara digital, dan menanyakan apakah pembicara sedang berniat menjual smartphone dengan bonus produk-produk SABDA. Kemudian, pembicara menjelaskan bahwa SABDA adalah lembaga yang menyediakan berbagai bahan-bahan biblika untuk dipakai dalam dunia pelayanan Kristen. Produk-produk SABDA diberikan secara cuma-cuma karena YLSA adalah yayasan nirlaba. Bagi digital imigran, dunia digital memang hal baru yang kurang dipahami. Dan, salah satu misi SABDA adalah menjadi "digital evangelist", yaitu memberi kesadaran dan mengajarkan kepada masyarakat untuk hidup dalam dunia digital secara bijaksana dan efektif, terutama untuk memakainya bagi pembangunan iman mereka, yaitu pembelajaran Alkitab yang intensif dengan peralatan digital.

Ini merupakan pelatihan Tahap I di STT AIMI, Solo. Selama tiga bulan ke depan masih ada tiga tahap pelatihan PA di STT AIMI untuk menolong pendeta, mahasiswa, dan jemaat belajar melakukan PA di era digital termasuk bagaimana menyiapkannya menjadi bahan khotbah. Secara pribadi, saya sendiri berharap agar semua pelatihan dan bahan yang diberikan kepada peserta dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemajuan pelayanan Tuhan di Solo dan sekitarnya. Salam IT 4 GOD!

Roadshow #Ayo_PA! dalam Persekutuan Alumni Perkantas, Solo

Sun, 2018-04-15 15:32

Oleh: *Lena

Perkenalkan, nama saya Lena Lumbanraja, staf masa percobaan di Yayasan Lembaga SABDA. Saya ingin membagikan pengalaman pertama saya ketika mengikuti roadshow #Ayo_PA! di Griya Konseling, Solo, pada 4 Maret 2018. Sebelum mengikuti roadshow #Ayo_PA!, saya dan Yoel (staf magang) mendapat orientasi sesuai dengan tugas kami masing-masing. Indah memberikan orientasi mengenai booth dan penjelasan produk-produk SABDA, dan Yoel mendapat orientasi dari Pioneer mengenai hal-hal teknis seperti pemasangan LCD, cara merekam video, dokumentasi, dsb..

Acara dimulai pukul 11.00 WIB. Sebelum berangkat, saya dan Yoel memastikan lagi barang yang diperlukan untuk roadshow. Perjalanan menuju ke lokasi cukup terkendala karena macet, tetapi puji Tuhan kami bisa datang lebih awal dari waktu acara. Saya tidak khawatir bagaimana situasi dan kondisi tempat roadshow karena tempat diadakannya roadshow ini adalah tempat saya berkuliah. Setelah sampai di tujuan, kami langsung menyiapkan booth. Yoel segera menyiapkan LCD dan peralatan multimedia lainnya. Saya dan Bu Yulia menata booth SABDA yang awalnya ditata di luar ruangan, tetapi akhirnya bisa diletakkan di dalam ruangan sehingga saya bisa mengikuti jalannya acara. Proses perpindahan booth dari luar ke dalam ruangan cukup membuat saya panik karena barang-barang sudah tidak tertata dengan rapi, tetapi semua bisa diatasi dengan cepat karena saya ditolong oleh Bu Yulia.

Sebelum presentasi #Ayo_PA! disampaikan oleh Bu Yulia, perwakilan dari alumni Perkantas membuka acara dengan doa dan pujian. Acara pembukaannya cukup lama sekitar 30 menit. Acara hari itu dihadiri oleh lebih dari 30 peserta. Sesuai dengan tema yang diberikan, yaitu "Studi Tokoh Alkitab: Petrus", oleh Bu Yulia dipakai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan gerakan #Ayo_PA!. Sebelum melakukan PA, Bu Yulia terlebih dahulu menyampaikan pentingnya PA dalam kehidupan para alumni PERKANTAS. Beliau menjelaskan bahwa seperti kita membutuhkan makanan dan minuman setiap hari untuk jasmani kita, begitu juga dengan rohani kita. Kita bisa menyajikan sendiri tanpa harus menunggu hari Minggu untuk mendengarkan khotbah di gereja. Firman Tuhan itu bisa disajikan dan dikonsumsi setiap hari. Masalahnya adalah kita belum ahli, dan ketidakahlian itu membuat kita ingin semuanya tersaji dengan cepat oleh orang lain, yaitu dengan mendengarkan khotbah dari pendeta atau pelayan-pelayan Tuhan yang disampaikan hanya seminggu sekali pada ibadah Minggu. Hal yang berkesan dari presentasi ini adalah penekanan bahwa sebenarnya kita bisa menyajikan makanan rohani setiap hari sendiri tanpa harus menunggu hari Minggu. Dan, hal inilah yang menjamin kita akan bertumbuh secara rohani, karena makan makanan rohani secara teratur setiap hari.

Setelah itu, Bu Yulia menyampaikan tentang bagaimana beberapa aplikasi Alkitab SABDA yang terintegrasi dapat dipakai sebagai alat bantu untuk melaksanakan PA secara mandiri. Untuk itu, Bu Yulia meminta peserta menginstal lima aplikasi yang akan memudahkan kita dalam melakukan PA, yaitu Alkitab, Kamus, Tafsiran, Alkipedia, dan Peta. Dengan cepat saya langsung menghampiri kelompok untuk memastikan apakah mereka sudah memiliki lima alat bantu itu, dan apakah mereka kesulitan dalam menggunakannya. Dari 30 lebih peserta, sebagian besar sudah memiliki Alkitab SABDA, tetapi belum memakai fitur-fitur yang ada untuk membantu PA. Saya dan Yoel membantu peserta yang belum bisa menggunakannya dan menginstal aplikasi di HP mereka. Setelah selesai penginstalan dan mengajarkan peserta menggunakan aplikasi dengan benar, selanjutnya setiap kelompok melanjutkan PA. Saya melihat semua peserta antusias dalam PA dan antusias juga memakai aplikasi dari SABDA, karena saya melihat mereka seakan-akan menemukan "mainan baru" dengan fitur-fitur dalam aplikasi Alkitab SABDA.

Sebagai praktik PA, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil (masing-masing terdiri dari empat orang), dan dalam kelompok tersebut, mereka melakukan PA serta berdiskusi sesuai dengan ayat-ayat yang diberikan untuk masing-masing kelompok. Untuk mengetahui hasil PA-nya, masing-masing kelompok mempresentasikannya di depan semua peserta. Meskipun terkendala oleh waktu yang sangat singkat dan belum semua peserta terbiasa melakukan PA dengan alat-alat biblika yang telah tersedia dalam gawainya, proses PA dapat berlangsung dengan baik. Sebagian besar peserta mendapatkan pengalaman baru ketika melakukan PA ala SABDA ini dan peserta menjadi lebih antusias dalam melakukan PA. Setelah presentasi, Bu Yulia juga menawarkan bahan-bahan SABDA untuk sekolah minggu, remaja, konseling, dan audio Alkitab bahasa daerah, PL dan PB, dll.. Mendengar hal itu, semua peserta antusias dan langsung menemui saya dan Yoel untuk mengambil bahan yang mereka perlukan.

Kesan saya mengikuti roadshow #Ayo_PA! di Griya Konseling yang dihadiri alumni PERKANTAS, yaitu ternyata masih banyak orang yang perlu tahu pentingnya melakukan PA dan memanfaatkan teknologi untuk belajar firman Tuhan. Saya sendiri masih baru di SABDA dan bersyukur dapat belajar tentang pentingnya melakukan PA dan bagaimana kita dapat memperkenalkan PA dengan metode S.A.B.D.A., baik kepada para digital native maupun kepada para digital imigran. Kiranya pengalaman saya ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. #Ayo_PA!

Ibu-Ibu di Dapur YLSA

Thu, 2018-04-12 07:50

Oleh: Davida

"Kami juga berdoa untuk ibu-ibu di dapur yang telah menyiapkan makan siang pada hari ini, kiranya Tuhan Yesus memberkati mereka ...."

Kalimat di atas hampir selalu terucap oleh staf SABDA yang mendapatkan giliran berdoa sebelum kami menyantap makan siang. Ya, kami menyadari bahwa tanpa tangan-tangan para ibu yang sudah mengolah bahan-bahan mentah dari pasar, kami tidak dapat menyantap makan siang untuk memulihkan tenaga kami. Ada empat orang ibu yang menolong pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di YLSA. Dua orang ibu, yaitu Ibu Reso dan Mbak Dikem, bertugas untuk meracik bahan-bahan mentah, memasaknya, dan menghidangkannya untuk staf SABDA. Sementara itu, dua ibu lainnya, yaitu Mbak Ros dan Mbak Tiwi, memiliki tugas utama yang lain di luar tugas memasak. Namun, terkadang, mereka berdua juga terjun ke dapur untuk membantu memasak apabila Ibu Reso atau Mbak Dikem berhalangan masuk.

Setiap siang, kami menyantap makanan yang bergizi bagi tubuh kami. Namun, masakannya bukan masakan ala resto berbintang, masakan Ibu Reso adalah masakan rumahan yang "ngangenin". Salah satu jawaban terbanyak dari teman-teman yang pernah bekerja di SABDA ketika diberi pertanyaan apa yang mereka rindukan dari SABDA adalah: "Kangen masakan Ibu Reso!" Salah satu masakah favorit yang disukai hampir semua staf SABDA adalah "nasi goreng". Masakan-masakan lainnya adalah soto ayam, kare, tumpang, sayur bening sawi, tempe mendoan, semur ayam, tongseng, dan sebagainya. Setiap hari, sepertinya Ibu Reso dan Mbak Dikem melakukan "scrum" atau "daily meeting" untuk membahas akan masak apa hari ini dan mengevaluasi apa yang sudah dimasak kemarin. Beberapa kali, saya juga mendengar mereka merencanakan masak apa hari ini berdasarkan suhu, cuaca, dan kondisi kesehatan staf. Betapa mereka sangat perhatian, ya. Yang lucu adalah terkadang menu yang sudah direncanakan bersama akan berubah ketika hasil belanjaan Ibu Reso tidak sesuai dengan rencana masak hari ini, hahaha. Meski begitu, mereka tidak kapok untuk membahas akan masak apa hari ini sebelum Ibu Reso berangkat ke pasar.

Mbak Tiwi dan Mbak Ros akan datang ke dapur SABDA menjelang makan siang setelah mereka selesai mengerjakan tanggung jawabnya masing-masing; Mbak Tiwi di kantor Griya SABDA, sedangkan Mbak Ros mengerjakan tugas rumah tangga untuk area kantor lama dan AYT Center. Mereka berdua datang untuk membantu menata piring untuk semua staf SABDA dan setelah itu akan membantu mencuci piring. Keempat ibu ini sangat riang. Kalau mereka sudah berkumpul bersama, biasanya mereka akan membicarakan apa saja seputar anak, cucu, maupun keseharian mereka. Sambil bekerja, mereka saling sharing.

"Makasih Buk," begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh staf SABDA ketika mereka memasuki ruang dapur untuk meletakkan piring kotornya di tempat cuci piring. Dan, senyum dari bibir ibu-ibu itu pun merekah ketika melihat piring-piring kami bersih ludes tanpa ada sisa .... Mereka senang ketika melihat kami kenyang dan kembali segar melanjutkan tugas kami melayani Tuhan di kantor.

Saya bersyukur karena melalui ibu-ibu ini, saya belajar tentang tubuh Kristus. Semua orang punya peran yang berbeda dalam tubuh Kristus sesuai dengan bagian yang Tuhan tetapkan bagi mereka. Dan, ibu-ibu di dapur YLSA ini menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga kami tetap sehat dan bertenaga sehingga dapat terus melayani Tuhan di YLSA. Sekali lagi, "Terima kasih Ibu Reso, Mbak Dikem, Mbak Tiwi, dan Mbak Ros, Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati Ibu-Ibu semua."

Serangan Pasukan Rayap di Griya SABDA

Mon, 2018-04-02 09:35

Oleh: Maskunarti

Shalom, pembaca setia blog SABDA yang terkasih dalam Kristus!

Pada Jumat, 16 Maret 2018, seusai acara persekutuan doa, seluruh staf SABDA dikejutkan dengan munculnya pasukan rayap yang menyerbu beberapa rak buku di perpustakaan. Kak Elly yang pertama berteriak: "Ada rayap!" sembari menunjukkan foto rayap di beberapa rak buku yang diambil melalui kamera handphone-nya. Hal itu membuat kami terkejut dan panik. Saya bertanya-tanya, "Dari mana ya rayap-rayap tersebut datang?" Kepanikan kami ada alasannya. Ruang training di Griya SABDA (GS) juga merupakan perpustakaan YLSA yang penuh dengan buku. Kalau ada rayap, itu berarti buku-buku tersebut sedang terancam keselamatannya.

Kami pun tidak tinggal diam. Kami langsung bergegas mengecek rak-rak mana saja yang sudah diserbu rayap. Ada beberapa titik di lantai aula SABDA yang sedikit berlubang, bisa jadi itu merupakan celah bagi pasukan rayap untuk datang dan akhirnya memakan buku-buku beserta raknya. Tidak perlu menunggu lama, teman-teman cowok bergegas mengangkat beberapa rak dan buku keluar dari ruangan. Rak dan buku yang terkena serangan pasukan rayap harus segera ditangani supaya tidak menular ke rak dan buku yang masih dalam kondisi baik. Setelah rak dan buku di halaman luar, saya dan teman-teman cewek bergegas membuka buku-buku yang ada satu per satu dan membersihkannya dengan kuas. Untuk itu, kami menyediakan ember-ember yang diisi dengan air, dan semua rayap disapu dimasukkan ke air dalam ember. Saya dan teman-teman yang lain bahu-membahu. Beberapa orang membersihkan rayap di rak dan buku, dan beberapa orang yang lain menyapu ruang training. Tidak lupa, kami juga memakai obat penyemprot rayap untuk membasmi pasukan rayap. Lalu, kami memisahkan antara buku-buku yang kondisinya masih baik dengan buku-buku yang kondisinya sudah termakan rayap. Dan, karena waktu sudah sore, rak-rak buku yang di luar dimasukkan kembali ke dalam ruangan. Bersyukur kami semua bisa mengerjakannya dengan baik sampai sore hari.

"Lega," itulah kata yang terucapkan oleh saya. "Setidaknya, pasukan rayap yang kelihatan sudah berhasil kami basmi," itu pikir saya. Jadi, tugas saya dan teman-teman SABDA tinggal menata ulang buku-buku yang sudah dibersihkan untuk diletakkan kembali di dalam rak buku. Dan, ternyata dugaan saya keliru. Beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis, 22 Maret 2018, ketika kami semua sedang merapikan dan mengategorikan buku-buku yang sudah bersih dari pasukan rayap, ada salah satu teman kami, yaitu Kak Hadi, yang berkata, "Di sini juga ada rayap!" Kami sempat panik, jangan-jangan masih ada pasukan rayap yang tertinggal. Kami semua langsung bergegas melihat ke rak buku tersebut. Dan, puji Tuhan, rak buku dan buku-buku masih dalam kondisi aman, setidaknya kondisinya tidak separah seperti sebelumnya. Teman-teman cowok segera mengeluarkan rak buku tersebut dan membersihkannya. Sama seperti saat pembersihan yang pertama, lantai yang ada disemprot obat rayap ditambah dengan minyak solar, lalu lantai dialasi dengan seng. Lantai dialasi dengan seng supaya dapat mengantisipasi pasukan rayap datang kembali. Sementara itu, rak buku disemprot dengan obat rayap dan buku dibersihkan, dan sebagian yang lembab dijemur. Saya dan teman-teman bahu-membahu dalam membersihkannya. Bersyukur, pembersihan kedua ini tidak separah seperti saat pembersihan yang pertama. Kami bisa jauh lebih cepat membersihkannya karena buku-buku yang terkena pasukan rayap tidak sebanyak seperti pembersihan pertama. Proses pembersihan sudah selesai dan kami tinggal mengembalikan buku-buku dan rak-raknya di tempatnya seperti sediakala. Kesempatan ini kami pakai untuk sekalian menata ulang buku-buku di rak buku.

Koleksi buku yang beraneka ragam di SABDA merupakan "harta" yang harus dirawat karena buku-buku tersebut adalah jendela dunia. Dari buku-buku tersebut, saya dan teman-teman SABDA bisa memperoleh informasi dan belajar banyak hal. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari SABDA. Itu berarti saya juga harus ikut merawat dan menjaga kebersihan perpustakaan. Selain itu, momen bersih-bersih seperti ini menjadikan saya dan teman-teman SABDA lain semakin akrab. Kami bekerja sama dan bahu-membahu. Capek dan kotor sudah pasti, tetapi hal tersebut tidak membuat kami kelelahan yang berlebih karena kami mengerjakannya bersama-sama. Kiranya kita semua bersedia merawat dan menjaga setiap koleksi yang kita miliki. Ayo, budayakan menjaga tempat agar aman dari rayap, mengamati kalau ada tanda-tanda rayap datang, dan bersihkan secepat mungkin sebelum menular ke tempat lain! Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.