weekend kemaren saya nonton film yang sangat menarik ini di teve. judulnya "the sea is watching".
sangat menarik bukan karena penuh tangis atau pun full tembak2an, tapi karena film ini berusaha untuk menampilkan kebudayaan jepang ketika para samurai masih berkuasa secara apa adanya.
di masa itu, hanya ada tiga alternatif "survival" bagi seorang wanita.
[1] menjadi istri seorang lelaki dan kalo bisa melahirkan minimal satu anak lelaki. kalo tidak bisa melahirkan anak lelaki, yah survive sih, tetapi akan hidup dengan penuh rasa terhina.
[2] alternatif berikutnya adalah dengan menjadi "geisha". geisha bukanlah pelacur. tugas geisha adalah menemani para lelaki dengan cara memainkan lagu, bercanda-tawa, menghidangkan minuman dsb, tanpa unsur sex.
[3] alternatif terakhir adalah dengan menjadi "oiran" atau "geisha kelas rendah". oiran disini adalah pelacur, yaitu geisha kelas rendah yang menjalankan tugas2 geisha ditambah dengan sex.
selain tiga kemungkinan ini, wanita jepang pada masa itu tidak punya akses ke bidang pekerjaan apa pun.
kembali ke film ini, karena salah satu oiran nya bernama "o-shin" maka saya menyangka bahwa film ini adalah film tentang Oshin versi layar lebar. makin saya tonton makin bingung lah saya karena seinget saya serial Oshin di TVRI dulu itu nggak pernah menyinggung bahwa Oshin pernah jadi oiran. hehehe.
o-shin dalam film ini dikisahkan sebagai oiran yang termuda. dia masih "hijau" dalam dunia pelacuran dan selalu jatuh cinta kepada pelanggan2 nya. sekali waktu o-shin jatuh cinta kepada seorang samurai muda, anak dari keluarga samurai yang cukup terpandang.
senior2 o-shin digambarkan sangat mendukung cinta ini. kenapa? karena mereka berpikir bahwa adalah suatu kebanggaan tersendiri kalo rumah pelacuran mereka dapat "meng-ekspor" seorang wanita untuk menjadi istri keluarga samurai. sial, ternyata samurai muda ini tidak mencintai o-shin. ternyata o-shin terlalu ge-er dan bertepuk sebelah tangan.
setelah acara tangis menangis dan menyesali nasib, o-shin bertemu dengan seorang pria lain. dasar o-shin sial, pria ini mempunyai latar belakang yang tidak bagus dan hanya bekerja sebagai kuli di sebuah restoran. itu pun sudah dipecat karena menentang majikan nya.
tidak ada senior o-shin yang mendukung cinta o-shin ke cowok "gagal" ini. bahkan mereka memperingatkan bahwa kemungkinan cowok ini akan memperalat o-shin hanya untuk mendapat uang dan sex gratis.
selanjutnya desa tempat mereka dilandai tsunami. semua orang kabur dan o-shin terjebak banjir yang sampai serumah. o-shin ditemani oleh seorang seniornya. mereka berdua bertahan hidup dengan mati2an, menjadi lebih akrab, dan jujur satu sama lain karena menyangka bahwa sebentar lagi mereka akan mati.
film ini ditutup dengan scene yang cukup mengharukan. si cowok "gagal" tadi menjemput o-shin. sialnya dia cuma bawa perahu berukuran kecil, hanya cukup untuk dua orang saja. jadi hanya o-shin yang bisa diselamatkan, sementara si seniornya ditinggal (nasib pemeran pembantu, hehehe). and the end, abis. gantung begitu, ga tau deh seniornya selamet atau nggak (lagi2, nasib pemeran pembantu).
kalo diceritain gini, film ini jadi gak menarik yah? hehehe, saya emang parah koq skill menulisnya. tapi percaya deh, film ini sangat recommended buat merka yang tertarik dengan kebudayaan jepang pada masa samurai.
dibandingkan keadaan jaman itu, saat ini para wanita harus sangatlah bersyukur. sampai point tertentu, pada jaman sekarang, wanita dapat hidup tanpa harus bergantung pada pria. untuk itu, harusnya wanita bangga bila karena satu dan lain hal mereka "terpaksa" hidup single. lucunya kebanyakan wanita (bahkan pria juga) merasa bahwa hidup single adalah "pencobaan", atau "hukuman", atau "nasib sial".
bagi mereka yang merasa begitu, cobain deh tonton film ini. kalian pasti bersyukur banget dengan kondisi kalian.
saya cowok. buat saya nggak ada masalah berarti hidup di jaman apapun. tapi menonton film ini saya pun bersyukur bahwa saya hidup di jaman sekarang dimana emansipasi mulai dan sedang berkembang. kenapa? karena saya nggak suka sama cewek bodoh yang hidup hanya "ngegemprok" (baca: "bergantung") pada suami nya.
cewek atau istri haruslah bertindak sebagai partner bagi cowok atau suami. udah nggak jaman lagi deh kalo istri cuma jadi "hiasan" atau pun "alat pemuas" belaka bagi suami nya.
go emancipation!
cheers to you all girls 

>
>
>
>
>
>
>
>
sabdaspace.org |
Se-7
saya setuju ma pendapat bung dennis. saya juga ga mau jadi perempuan yang tergantung ma laki-laki dlm hal ini jadi istri yang tergantung ma suami. saya memimpikan untuk tetep punya karier meski punya suami. abis jaman dah berubah. kalo jadi istri cuma DRS alias di rumah saja, saya takut nanti kurang dihargai. hidup emansipasi!!!
Rab, 2006-11-22 12:30.
Chi,
tanggal tersebut adalah tanggal terakhr kamu menulis artikel. Kemana aja? senang melihat tulisan kamu lagi.
Ngomong-ngomong, apa yang kamu maksudkan dengan emansipasi itu?
soalnya selama ini aku cuman dengan emansipasi sebagai seloganaja sich. nulis dong dalam artikel, biar kita bisa komentarin dengan baik dan gampang waktu dicarinya
karena di surga yang tebesar adalah anak anak
jadi partner
saya ada kok bung.
emansipasi buat saya mungkin ga beda jauh dengan pengertian yang lain.
saya ga mau diperlakukan sama dengan perempuan di jaman ibu kita
kartini yang posisinya hanya menjadi "konco wingking" alias temen
belakang. saya ingin punya peranan yang seimbang, tidak sebagai teman
laki-laki yang berada di belakang, tapi berada di sampingnya.
saya setuju kalo perempuan jadi partnernya laki-laki, bukan tukang
laden-nya. saya membayangkan, besok (belum tau kapan) kalo saya punya
suami, udah jadi tugas saya sebagai ibu rumah tangga masak buat suami,
tapi saya juga ingin suami memiliki keterbebanan yang sama untuk masak
buat saya. gitu loh..
kalo bung hai hai sendiri, pernah ga masak buat istri tercinta?
Saya bukan suami yang baik
Saya kenal istri saya sejak tahun 1992, hingga hari ini, saya baru dua kali mengucapkan selamat ulang tahun padanya pada waktu yang tepat, itupun karena ada yang mengingatkan. Mengucapkan pada waktu yang tepat, namun hadiahnya gak ada persiapan. Itulah salah satu kebebalan saya.
Namun, setiap valentine, saya mengiriminya 3 tangkai mawar merah. Ketika kangen, saya mengiriminya 3 tangkai mawar merah. Dia sering pulang kerja sampe rumah jam 10 malam, saya cuman menyiapkan air panas buatnya.
Dulu masakan saya lebih enak dari masakan dia, jadi saya yang sering masak, namun sejak 5 tahun terakhir, masakan dia yang lebih enak, jadi dia yang masak terus.
almarhum Munir...
saya ingat dulu almarhum Munir pernah bercanda dan berkata sesuatu... jadi dia itu selalu dibawakan makan siang oleh istrinya... lalu teman saya berkata... enak ya Cak... punya istri, selalu dimasakin... lalu Cak bilang... emangnya punya istri supaya bisa dimasakin doang... kita semua terdiam lalu tertawa bareng... itu ucapan terakhir Cak yang saya dengar...
BIG GBU!
S.E.T.U.J.U!!!
S.E.T.U.J.U!!!
Ran
Ini cuma sekadar nimbrung karena saya juga salah satu penggemar film Jepang. Salah satu yang sangat berkesan bagi saya adalah RAN, karya Akira Kurosawa. Tidak berhubungan dengan masalah emansipasi. Tapi mempertanyakan slogan "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Itu bukan nilai utama film klasik ini, tapi itu membuka problem perebutan kekuasaan.
"Karena bahasa Indonesia dahulunya adalah lingua franca"