Hujan turun tiba-tiba. Bukan sekedar jatuh dalam tetes atau titik. Ia tumpah dalam satu guyuran hebat diiring kilatan yang merobek langit dan dentum Guntur yang membuat gentar. Setelah panas setengah hari, mengapa pula hujan apel tanpa peringatan tepat pada saat aku hendak melangkah keluar menuju gereja untuk mengenang peristiwa Jum’at Agung?
Ah, terpaksa kukerahkan daya untuk melawan keengganan untuk berjalan kaki seorang diri menerjang hujan. Sendirian. Ya, sendirian. Ibu memilih mengurungkan niat untuk pergi, sementara adik sudah memiliki agenda sendiri. Bisa saja aku memaksa mereka menemaniku, tapi akhirnya aku memilih untuk menghargai kehendak bebas masing-masing. Maka bermodal payung lusuh warna biru aku melangkah sendiri.
Payung itu tak banyak berguna. Angin yang bertiup kencang tak kenal ampun menghempas titik-titik hujan ke arah tubuhku. Bukan itu saja, mobil-mobil yang melaju kencang itu seperti tidak peduli pada kaum pejalan kaki. Seenaknya saja ia menerjang kubangan yang serta merta menyembur ke arahku. Basah kuyuplah aku dari ujung rambut ke ujung kaki. Duh Gusti, belum pernah aku merasa sesendiri ini.
Lucunya. Tiba di gerbang gereja, hujan tiba-tiba reda; setiba-tiba kedatangannya tadi. Lord, You indeed have a good sense of humor. Ha.. ha… pastinya rupaku lucu sekali – bak tikus yang baru saja jatuh ke dalam got. Untunglah, aku memang tak pernah nampak elok dalam pandangan kebanyakan orang. Tuhan melihat hati—begitulah aku menghibur diri seperti biasa kulakukan.
Tiba-tiba aku merasa begitu bersalah. Seharusnya hari ini semuanya tentang Dia. Mengapa aku justru dengan cengengnya mengasihani diri sendiri? Apa yang kualami belum seberapa. Yang harus kupanggul hanyalah salib gabus yang demikian enteng. Itupun masih ada saja hal yang kukeluhkan.
Ah, malu aku. Sering dalam hidup, ketika ujian datang aku mudah sekali mengeluh, dan bersikap cengeng. Padahal ini belum seberapa……
Belum seberapa dibanding apa yang harus dilalui-Nya hanya demi menyelamatkan “tikus got” kecil macam aku.....