Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Membaca Naura

victorc's picture

Teks: Yohanes 8:32
"...dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."


Shalom, selamat malam saudaraku. Setelah tiga kali saya "kecelik" di beberapa bioskop, akhirnya saya mendapatkan sebuah bioskop yang masih memutar film "Naura dan Genk Juara."
Film musikal garapan Eugene Panji ini digarap apik, dan seperti komentar beberapa penulis, film ini cukup berhasil menjawab kerinduan banyak orang tua akan film anak-anak yang berbobot. Kalaupun ada kritik yang beredar di medsos dan lain-lain, saya kira itu wajar karena penonton juga berasal dari beragam latar belakang.
Jadi saya tidak akan berkomentar tentang kritik tersebut. Apalagi hal ini sudah ditanggapi oleh Ahmad Basuki, Ketua LSF (1).
Karena itu izinkan saya menulis tanggapan reflektif saat dan setelah menonton film ini.*


# Pembacaan "literal"

Film dibuka dengan suatu lomba sains di sebuah sekolah, dan akhirnya ditunjuklah Naura sebagai ketua tim sekolah untuk ikut berkemah selama 2 hari di sebuah kawasan hutan lindung. Lalu berangkatlah mereka ke hutan tersebut untuk berkemah.
Ketika Naura dan timnya sedang asyik mengejar baling-baling drone yang dibawa oleh Cepot (seekor monyet), ternyata mereka menemukan mobil jip yang berisi hewan-hewan curian dari kawasan hutan lindung tersebut. Akhirnya mereka terlibat dalam suatu petualangan seru sampai akhirnya berhasil membekuk kelompok penjahat yang ternyata dipimpin oleh Marsono, koordinator hutan lindung di situ. Demikian garis besar alur film.
Ada beberapa pengamat yang menghubungkan film ini dengan keberhasilan "Petualangan Sherina" beberapa puluh tahun silam. Ya, itu ada benarnya, kalau dihubungkan dengan perjalanan film anak-anak di negeri ini yang kian langka. Meski demikian, saat menonton film ini timbul kesan bahwa film ini ingin "mengadopsi" tradisi serial MacGyver (yang populer tahun 90an) dan serial novel-novel detektif cilik karya Enid Blyton (populer sekitar 80an).

a. Menurut hemat saya, film ini cukup berhasil menggabungkan kisah petualangan anak-anak dengan kecintaan akan sains. Hal ini patut diacungi jempol, karena jangankan sutradara di negeri ini, sutradara kelas Holywood sekalipun boleh jadi akan kesulitan untuk mengemas tema sains menjadi film anak-anak yang menghibur (hanya sedikit film anak-anak yang mengangkat tema sains, misalnya Spiderman.) Jadi, saya mesti angkat jempol bagi sutradara yang berani keluar dari pakem HCL (horor, cinta, lawak) dalam kebanyakan film Indonesia.

b. Satu hal lagi yang patut diacungi jempol adalah keberhasilan sutradara mengemas adegan lucu, haru, tegang, dan asyik sekaligus dalam satu film. Bukankah film-film anak-anak sekelas Walt Disney juga piawai meramu berbagai momen yang berbeda dalam setiap film mereka?
Contoh adegan lucu adalah ketika trio penculik terpaksa harus memimpin acara senam aerobik, yang pastinya tidak pas banget bagi anak-anak.

c. Film ini juga cukup jujur bahwa tim peneliti, entah itu anak-anak atau dewasa, tidak jarang menghabiskan waktu lebih banyak untuk bertengkar ketimbang berkreasi. Ini terlihat dari perdebatan tentang siapa yang paling hebat, apakah Bimo yang mengunggulkan drone-nya, atau Naura dengan pelacak hewannya. Jadi teringat akan heboh beberapa waktu lalu tentang seorang peneliti muda Indonesia yang dijuluki "The Next Habibie," tapi ternyata banyak klaimnya yang tidak realistis.

d. Dan terakhir, saya mesti angkat jempol untuk setting sebagian besar film ini di area hutan lindung. Coba tanyakan pada diri Anda: kapan terakhir kali Anda pergi berkemah sekeluarga, ke hutan atau daerah terpencil lainnya? Pasti sudah lama, bukan? Bagi kebanyakan dari kita, konsep yang ada di benak kita tentang pelestarian lingkungan hidup paling-paling ya seputar tidak membuang sampah sembarangan atau mematikan listrik jika tidak diperlukan. Namun bagaimana dengan proses lenyapnya ratusan ribu hektar kawasan hutan tropis di negeri ini? Kalau ortu atau guru hanya mengajar tentang ekosistem dan lingkungan hidup dari buku, tanpa mengajak anak-anak mengalami sendiri tinggal di hutan (walau hanya beberapa hari), jangan salahkan anak-anak jika nanti mereka hanya akan tahu hutan di museum.

e. Nilai plus lainnya adalah film ini cukup berhasil menampilkan sains yang gaul dan cocok untuk usia anak-anak sekolah, jadi tidak bernuansa menakutkan. Bahkan ada beberapa momen haru yang jarang saya temui di film-film lain karya anak bangsa. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah bagi semua kru film.

Soal pilihan kostum pemeran atau cara mengemas tema menjadi film musikal, saya kira itu adalah pilihan estetika dari sutradara. Namun satu hal yang jelas film ini cukup mewakili anak-anak usia sekolah yang tinggal di kota-kota besar.

Kalaupun ada kritik atau saran yang bisa saya sampaikan adalah berikut ini:
- pemeranan Naura, Bimo, Kiplik sangat bagus. Yang terkesan agak lebay malah pemeran Marsono, kurang tajam membawakan peran antagonisnya. Mungkin maksudnya sutradara atau penulis naskah adalah menggambarkan tokoh penjahat secara karikatural, tapi kalau pun demikian, tokoh Marsono mungkin bisa lebih galak jika diperankan Cak Lontong atau Om Indro misalnya (lihat gaya Om Indro ala Rambo di film Warkop DKI Reborn 2.)
- Baiknya sutradara lebih peka jika akan menampilkan simbol-simbol agamawi dalam filmnya. Kalaupun mesti ada adegan seperti berdoa, baiknya dibuat jujur tanpa harus menggurui. Lihat misalnya adegan para pemain kartu yang berdoa dengan gaya kocak dalam film "Cek Toko Sebelah." Yang memimpin berdoa ternyata masih sempat menjawab emaknya yang memanggil dari ruang sebelah.

Jika boleh saya merangkum pesan yang hendak disampaikan film ini dalam satu kalimat, kira-kira begini: "Adalah bagus bercita-cita jadi ilmuwan, namun hendaknya juga peka terhadap realitas dan problem yang terjadi di sekitar kita."
Atau dalam ungkapan kalimat bijak: "Hidup adalah apa yang terjadi padamu saat kau sibuk merencanakan masa depanmu." (Life is what happens to you while you are busy planning your future.")
Artinya, respon seorang anak terhadap pelbagai persoalan nyata yang terjadi dalam perjalanan hidupnya adalah yang menentukan siapa dirinya yang sejati, bukannya secara egois bersikeras dengan sebuah rencana "masa depan" besutan orang tua.
Misalnya, orang tua memplot anaknya untuk menjadi dokter yang andal, namun ternyata anaknya lebih suka jadi model atau penyanyi (seperti Tompi misalnya).
Atau seorang anak bercita-cita menjadi insinyur elektro, namun ternyata Tuhan membentuknya menjadi seorang pendeta.**


## Pembacaan "figuratif"

Pada bagian ini, izinkan saya menafsirkan film ini dengan pembacaan yang agak figuratif, atau kiasan. Memang bisa jadi bukan penafsiran ini yang dimaksud oleh penggagas film ini, namun bukankah dalam kerangka filsafat pascamodernisme, sekali film (teks) dilempar ke publik, maka penonton (pembaca) juga boleh menafsirkan teks tersebut? Lihat misalnya: (5)(6)
Hutan merupakan kiasan terhadap dunia ini, tempat kita menjalani kehidupan. Lomba sains merupakan kiasan betapa kita seringkali sibuk dengan target-target kita, mau mencapai ini dan itu dalam hidup. Dalam istilah ekonomi, hal ini disebut: "memaksimalkan utilitas" (utility maximisation), atau laba atau kesenangan. Itulah inti ekonomi dalam filsafat Benthamisme: semua aktivitas hidup ini hanyalah untuk memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan, tidak ada yang lain. Ini disebut filsafat hedonisme (benthamism). Lalu kita bertengkar dan saling sikut seperti dilukiskan oleh tim Naura.

Lalu mengutip kalimat bijak di atas: "Hidup adalah apa yang terjadi padamu saat kau sibuk merencanakan masa depanmu." Di tengah perlombaan egoisme dan ambisi pribadi itu, muncullah berbagai situasi. Respon kita biasanya adalah lari dan menganggap tidak ada masalah, lalu melanjutkan "life as usual."
Atau kita belajar peduli dan memberi respon terhadap keadaan yang mungkin tidak kita harapkan, seperti dikisahkan dalam film ini bahwa akhirnya Naura dan genknya bekerja keras menggagalkan pencurian satwa yang dilindungi, bahkan mereka membongkar "konspirasi" jahat bahwa ternyata dalang pencurian adalah pimpinan hutan lindung itu sendiri.
Bagaimana dengan Naura dan kawan-kawan setelah besar nanti? Tentu kita harapkan mereka akan menjadi para pimpinan perusahaan atau peneliti yang berintegritas dan berani membongkar permasalahan yang ada di lingkup masing-masing.

Masalahnya, kalau kita mau lebih jujur, respon dunia akademis pada umumnya dan para ilmuwan kita seringkali tidak seberani itu. Banyak di antara peneliti yang cukup puas dengan "life as usual." Tidak atau kurang mau peduli akan problem yang lebih besar.

Misalnya, kalau sebagai ahli bahasa mungkin dia cukup puas jika bisa menulis paper dengan mengutip teori-teori yang sedang "in" dan trend, sebutlah misalnya Baudrillard, Foucault, Derrida dll. Atau sebagai peneliti sosial budaya, banyak yang puas jika sudah memahami berbagai karya Gramsci, Marcuse, Habermas atau pemikir Mazhab Frankfurt lainnya. Padahal, tahukah Anda bahwa rencana besar Marxisme Cultural yang dipelopori oleh tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt itu adalah untuk menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.
Di Eropa sendiri, baru beberapa kalangan yang disebut European Knights Project yang mulai mengembangkan metode untuk menangkal program Marxisme Kultural itu. Lihat (4).

Atau jika kita fisikawan, bukankah kita kerap juga mengidap apa yang disebut Bung Karno sebagai "minderwardeheicht complex" (alias kompleks rendah diri), dengan cara menelan mentah-mentah berbagai teori dari negeri seberang tanpa bersikap kritis. Izinkan saya memberikan 2 contoh sederhana sebagai ilustrasi:

a. Supergravity.
Kira-kira 16 tahun lalu (sekitar 2001), saya berkenalan dengan seorang penulis muda, namanya Nirwan Ahmad Arsuka. Dia adalah sarjana teknik nuklir dari sebuah universitas negeri terkemuka. Suatu kali dia mengirimi saya esai yang agak panjang. Saya lupa judulnya, namun intinya dia membahas teori Super-gravity berdimensi 11. Melalui email, saya membalasnya bahwa artikel itu menarik, namun saran saya waktu itu, "cobalah menulis dari dasar hatimu." (from the bottom of your heart). Dia menjawab bahwa dia akan mencobanya.
Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, sampai sekitar dua minggu lalu di akun IG-nya saya lihat dia sedang berfoto bersama mbak Najwa Shihab, dan di belakang mereka ada spanduk bertulisan: "Pustaka Jeruji." Komentar singkat di akunnya menceritakan bahwa mereka sedang mengembangkan perpustakaan di penjara-penjara, bekerjasama dengan beberapa instansi, termasuk Kemenkumham. Tentunya saya senang dan salut bahwa akhirnya Nirwan Arsuka menemukan sesuatu dari dasar hatinya yang berresonansi dengan banyak instansi untuk berguna bagi mereka yang ada di balik terali besi.***

b. DGP.
Kira-kira agustus lalu, penulis mengikuti sebuah konferensi dengan topik kosmologi dan fisika nonlinier. Salah satu peneliti senior mempresentasikan papernya mengenai teori gravitasi DGP, namun saya baru mendengar istilah itu. Jadi saat rehat, saya bertanya kepada beliau apakah kepanjangan dari DGP itu. Memang saya kurang mengikuti trend dan fashion yang sedang "in." DGP yang teringat pada saya mirip seperti Dolce-Gabanna-Pinokkio atau sejenis itu. Maaf, bukannya saya bermaksud menyinggung peneliti tersebut, tapi memang ada buku baru karya Prof. Sir Roger Penrose dari Oxford berjudul: "Fashion, Faith and Fantasy in the New Physics." (bisa dipesan di amazon). Artinya, agaknya fisika teori saat ini lebih cenderung pada bagaimana mengikuti trend fashion, bukannya mencari kebenaran. Yang dimaksud dengan fantasi adalah kecenderungan antirealisme dalam fisika modern, dan sulitnya adalah beberapa filsuf Kristen seperti Prof. Alvin Plantinga tampaknya ikut "setengah" mendukung posisi anti-realisme tersebut.(2)
Penulis dalam hal ini lebih cenderung mempertahankan realisme dalam fisika, dalam tradisi yang sejalan dengan Karl Popper atau Roy Bhaskar.(3) Penulis telah berupaya menulis suatu refleksi berdasarkan apa yang dia alami, terhadap permasalahan dalam dunia fisika-matematika, lihat (7).

Jadi, bagi para ilmuwan atau peneliti senior, kiranya film ini menantang kita untuk berani bertindak di luar koridor "life as usual." Memang tidak banyak ilmuwan atau ekonom yang berani mengambil langkah mengakui kebobrokan sebuah sistem, seperti John Perkins dengan bukunya yang laku keras: Pengakuan Bandit Ekonomi. (8)


Penutup
Meski ini hanya film anak-anak, namun nilai-nilai keberanian serta kepedulian terhadap problem nyata yang dihadapi para tokohnya sangat baik. Saya sangat merekomendasikan film ini untuk dilihat sekeluarga.

versi 1.0: 25 februari 2017, pk. 16:50
versi 1.1: 25 februari 2017, pk. 21:45
VC

Note:

* terimakasih kepada teman lamaku Amalia, yang ikut terlibat di pembuatan film ini

** jadi teringat akan salah seorang hamba Tuhan, Pdt. Martin Krisanto Nugroho.

*** salut buat bung Nirwan Ahmad Arsuka


Referensi:
(1) Lembaga Sensor Film. http://kabar24.bisnis.com/read/20171125/15/712591/lembaga-sensor-film-klarifikasi-isu-penistaan-agama-dalam-naura-genk
(2) Alvin Plantinga. How to be an Anti-realist. Url: http://www.andrewmbailey.com/ap/How_to_be_an_Anti-Realist.pdf
(3) Roy Bhaskar. A realist theory of science. London: Routledge, 2008. Url: http://uberty.org/wp-content/uploads/2015/09/Roy_Bhaskar_A_Realist_Theory_of_Science.pdf
(4) https://www.europeanknightsproject.com/smash-cultural-marxism-uk/
(5) https://www.rogerebert.com/rogers-journal/how-to-read-a-movie
(6) http://www.english.upenn.edu/%7Emulready/Handouts/How%20to%20Read%20a%20Film.pdf
(7) V. Christianto & F. Smarandache. Borges and the Subjective-Idealism of Relativity Theory and Quantum Mechanics. Url: http://vixra.org/abs/1711.0131
(8) http://sabdaspace.org/hitman

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.