My Life My Adventure (1)

iik j's picture

32 Tahun lalu...ketika kisah ini dimulai... tidak! Sebenarnya bukan 32 tahun lalu, bukan pula 40 tahun lalu, bukan pula 80 tahun lalu, bukan pula 100 tahun lalu, tetapi entah... di suatu masa yang tak terjangkau oleh pemikiran manusia

Disitulah awal semua kisah ini ditulis olehNya. Tentang bagaimana seorang anak manusia, kecil, tidak berarti, bukan siapa-siapa bagi dunia dirancang dan dimulai. Seorang anak yang tidak pernah diharapkan kelahirannya, bahkan mungkin tidak pernah diimpikan oleh siapapun. Namun dia tercipta, terlahir, hidup, ada dan nyata sampai sekarang.

Aku sendiri tak pernah menyangka, bahwa ketika 2 tahun lalu, aku ingin menuliskan petualangan kisah hidupku sendiri ini, ternyata ada benang merah yang sangat panjang antara kehidupan satu kepada kehidupan lain. Antara jiwa yang satu dengan jiwa yang lain. Misteri demi misteri, potongan kisah demi potongan kisah telah diketemukan, keajaiban demi keajaiban telah terjadi, dan semuanya hanya bermuara pada satu keajaiban besar yaitu ANUGERAH-NYA!! Hidupku, sungguh-sungguh perwujudan KASIH dan ANUGERAH TUHAN yang nyata dan ada!!

***

1974, di suatu kota di pesisir utara pulau Jawa. Di suatu rumah kecil dan penuh sesak dengan anak-anak...

“Yu... tulung yu... mripatku peteng...” teriak Mukti

“Sabar Muk... sabar... sabar yo...”

“Wis petheng tenan ki.. wis ora ono opo-opo meneh...” teriaknya lagi

“Sabar Muk...”

“Wis.. Gusti memang kejem! Kejem!! Kenapa mesti aku terus yang alami nasib buruk ini Yu.... Aku wis berusaha ngelakoni apa wae. Tapi, ujiane pancet tibo neng aku terus…”

“Ora ngono Muk... ojo ngono... mesthi ono jalan keluar untuk semua ini,” sahut Yu Mar yang kerap dipanggil “Yu” oleh Mukti ini

“Tapi Yu, masa depanne Weni wis ajur mumur ora karu-karuan. Bocah wedhok sing tak gadhang-gadhang iso dadi wong pinter, saiki wis ajur mumur..”

“Memang semua sudah terjadi Muk, tapi ojo cilik ati. Yen kowe cilik ati terus piye nasibe anakmu kuwi. Anakmu kuwi opo ora tambah ora duwe ati?” jawab Yu Mar sambil tangannya terus mengelus punggung Mukti yang masih terisak-isak.

“Duh Gusti... menapa dosa kawula... ngantos Panjenengan tego maringi cilaka ingkang kados mekaten kangge kawula. Punapa kawula saged nglampahi urip ingkah tansaya
awrat punika? Kula sampun ngaturaken syukur Panjenengan kersa maringi semah kangge kawulo, ingkang saged ngrencangi nggedheaken lare-lare kawulo, namung yen dados ngaten kahananipun sakpunika... kawula kados pundi malih? Duh Gusti.... duh Gusti kulo nyuwun mugi Panjenengan kersa maringi margi ingkang padhang kaliyan kulo sakpunika. Kulo kados pundi duh Gusti... ”
rintih Mukti dengan airmata yang terus membanjir di lengan Yu Mar.

“Iya Muk, berdoalah Muk... berdoalah... aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantumu sekarang. Ujian dari Gusti kali ini sangat berat untuk kita hadapi, tetapi kita harus terus percaya bahwa ada cahaya yang akan membawa kita kepada terang”

***

6 tahun yang lalu, sejak Mukti menerima tawaran menikah dari seorang laki-laki tetangganya yang merasa terbeban melihat penderitaan berat Mukti dalam membesarkan 6 orang anaknya setelah ditinggal lari oleh suaminya yang ‘kepencut’ wanita lain. Pria ini telah beristri dan mempunyai 3 orang anak dari istri pertamanya, namun melihat kesungguhan hati Darmanto, Muktipun luluh. Ia hanya bisa berharap, bebannya sedikit ringan karena datangnya pertolongan.

Tahun berlalu dan tak terasa telah 6 tahun berlalu. Tetapi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan, tidak pernah bahkan sama sekali tidak mungkin terpikirkan oleh siapapun, malapetaka itu datang. Seperti badai yang datang menghancurkan, malapetaka itu menghancurkan hati Mukti, menggelapkan pikirannya, menghancurkan jiwanya.

Darmanto, laki-laki yang dinikahinya 5 tahun lalu itu telah membuat Weni, anak gadis satu-satunya itu hamil di usia yang masih sangat remaja, 15 tahun. Ini bukan hanya aib, tetapi mimpi buruk dan teramat sangat buruk. Mukti ingin segera dibangunkan oleh siapapun untuk bisa lari dan menghindar dari mimpi ini. Tetapi meski ribuan kali dia mencoba, dia akhirnya mendapati bahwa malapetaka ini sungguh nyata dalam hidupnya.

Mukti merasa kehidupannya menjadi sepekat malam.
Pengakuan yang keluar dari mulut mungil Weni seolah pisau daging yang membelah jiwanya. Amarah, geram, ketakutan, kesedihan, kegelapan, malu, begitu keras menghantamnya, melemparkannya ke sudut gelap tak berpenghuni dan berdebu.
Jiwanya meronta, menjerit meminta pertolongan, tetapi hanya debu dan angin malam yang dingin yang menjawab.

Bagaimana aku menghadapi pandangan orang-orang desa? Bagaimana aku menjawab mereka?Bagaimana masa depan Weni? Apa yang harus kulakukan padanya? Apa yang harus kulakukan pada bayinya? Bagaimana masa depanku, anak-anakku, Weni dan bayi itu? Mengapa ini harus terjadi? Kepada siapa aku meminta pertolongan? Siapa yang bisa menolongku? Bagaimana,mengapa dan siapa... Tidak henti-hentinya semua pertanyaan itu muncul di benak Mukti, berputar-putar tanpa menemukan jawaban yang pasti.

***

Senja itu, di Jalan Mertoyudan Jogjakarta tampak dua sosok perempuan berjalan perlahan dengan bergandengan tangan. Keduanya berdiam diri tanpa kata-kata.

Sesekali Mukti tampak tengadah, melihat ke langit yang telah beranjak ke warna jingga, dan menghembuskan nafas panjang, tanpa kata-kata. Mencoba menyusun kembali, merenungkan kembali keputusannya.

Waktu telah berlalu 2 minggu sejak pikirannya seolah dipenuhi oleh batu, kini dia hanya bisa menuruti kata hatinya dan melangkahkan kaki jauh dari rumahnya di pesisir utara pula Jawa. Iblis telah banyak menggoda hati dan jiwanya selama beberapa hari ini untuk membunuh jabang bayi yang dikandung anaknya itu, tetapi nuraninya telah bicara.

Kesinilah, ke kota yang jauh inilah ia membawa anak gadis satu-satunya untuk melanjutkan kehidupannya. Kehidupan remajanya telah terenggut dengan kasar oleh nafsu buas lelaki yang adalah suaminya. Menitipkan anak tercintanya itu kepada seseorang yang telah dikenalnya dengan baik di masa remajanya, sahabatnya!

Tanpa terasa mereka sampai ke rumah berpagar hijau. Halaman luas dengan tanaman yang tertata terasa menyejukkan hatinya yang telah lelah terpanggang ganasnya amarah.

Suara lembut dan ramah terdengar menyambut salam Mukti. Tanpa kata-kata Mukti langsung memeluk satu sosok yang telah dikenalnya itu.

“.... Jeng, aku titip anakku perempuan ini ya...” hanya itu yang bisa diucapkannya

“Yo, ojo kuatir…, aku bakal nganggep koyo anakku dewe” jawab Maryati

Maryati, sahabat yang telah dikenal Mukti dari kecil itu tampak berkaca-kaca. Tanpa kata-kata ia langsung memeluk Weni dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.

“Ini kamarmu Wen, jangan takut sama bulik ya... nanti kamu tinggal disini sama bulik dan adik-adik. Bulik akan menjagamu seperti ibumu. Kamu harus tetap melanjutkan hidup nak… jangan sedih ya…” kata Maryati sambil mengelus kepala Weni dengan lembut. Weni hanya bisa mengangguk pelan dan diam.

***

Note: nama-nama yang tertulis bukanlah nama sebenarnya.

Bersambung ...

 

TERJEMAHAN BEBERAPA BAHASA JAWA pada artikel diatas

“Yu...tolong... mataku gelap..” teriak Mukti

“Sabar Muk... sabar... sabar ya...”

“Sudah gelap benar..sudah tidak ada apa-apa lagi...” teriaknya lagi

“Sabar Muk...”

“..Tuhan memang kejam! Kejam!! Kenapa mesti aku terus yang alami nasib buruk ini Yu.... Aku sudah berusaha melakukan apapun. Tapi, ujianNya terus datang ke aku terus…”

“Tidak begitu Muk...tidak ... pasti ada jalan keluar untuk semua ini,” sahut Yu
Mar yang kerap dipanggil “Yu” oleh Mukti ini

“Tapi Yu, masa depan Weni sudah tidak karuan. Anak perempuan yang aku harapkan bisa jadi anak pintas, sudah hancur lebur..”

Memang semua sudah terjadi Muk, tapi jangan kecil hati. Kalau kecil hati terus bagaimana nasib anakmu. Anakmu itu apa tidak makin kehilangan pengharapan?” jawab Yu
Mar sambil tangannya terus mengelus punggung Mukti yang masih terisak-isak.

“Duh Tuhan... apa dosa hamba... sampai Engkau memberikan malapetaka yang seperti ini untuk hamba. Apa hamba bisa melanjutkan hidup yang tambah berat ini? Hamba sudah mengucapkan syukur kalau Engkau berkenan memberikan suami untuk saya, yang bisa membantu membesarkan anak-anak, tetapi kalau seperti ini keadaannya.. apa yang harus hamba lakukan? Duh Tuhan.. hamba minta Engkau memberikan jalan terang untuk hamba.. harus bagaimana lagi duh Tuhan..” rintih Mukti dengan airmata yang terus membanjir di lengan Yu Mar.

@Iik: bahasa dewa perlu terjemahan

Sebelum Anda "lahir" di sini, setiap ada blogger yang menulis kalimat dalam bahasa ibunya, pasti ada blogger yang berteriak "terjemahin dong, kalau tidak nanti aku tulis bahasa dewa aku".
Bahkan orang Jawa yang lahir di Sumatera dan sampai sekarang masih tinggal di sana, yang sehari-hari mempergunakan bahasa Jawa kasar (ngoko), tidak akan mengerti bahasa Jawa halus (boso/kromo) yang kamu tulis. Cobalah mengatakan "nyuwun sewu" (=minta seribu) kepada anak-anak Jawa di Metro, di Rimbo Bujang, atau di perkebunan sekitar Kisaran Sumut bila Anda berkesempatan berkunjung ke sana. Pasti mereka segera mendekap saku bajunya erat-erat.
Sayang, bila artikel Anda yang bagus tidak dapat mereka nikmati karena kendala bahasa. Bukankah hal yang sama akan kita alami bila blogger asal Sumatra menulis artikel dengan disisipi banyak kalimat Batak atau bahasa Minang?
Salam.

iik j's picture

Sabar Mas Purnomo...

Sabar mas Purnomo..
karena kesibukan kemarin nggak sempat ngirim yang edisi bahasa indonesia-nya. Tapi akan dikirim hari ini kok.
Saya ngerti kalau situs ini dibaca sejuta umat, dan nggak semua ngerti bahasa jawa.
Sabar ya...

Thanks untuk komentarnya.

Salam juga,
Iik

To Love God Is To Obey God

Ari_Thok's picture

@iik: Cukup Jargon

Ik, cukup kasih jargon aja di bawah setiap blog kamu, jadi langsung baca bisa lihat kamus dibawahnya :)

*yuk comment jangan hanya ngeblog*



*yuk ngeblog jangan hanya comment*

 

Daniel's picture

jargon iku opo to mbul?

...

lha mbuh ndes.....

..... 

but the one who endure to the end, he shall be saved.....

Tampilan Terbaik di 1024 x 768