Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

TEO-EKOLOGI (www.jimmyrlkambey.co.cc)

Jimmy R.L. Kambey's picture

 

Suatu kenyataan ekologis yang tidak dapat dihindari di awal permulaan abad 21 ini adalah terancamnya planet Bumi tempat berdiam seluruh komunitas makhluk hidup. Ekosistem dalam dunia ini pada tempat-tempat tertentu sudah rusak dan terancam punah. Pencemaran lingkungan dalam berbagai aspek baik itu pencemaran udara (Air Pollution), pencemaran air (Water Pollution), maupun pencemaran tanah/daratan (Soil Pollution) yang berkorelasi dengan problematika seperti penciutan hutan tropis,[1] penipisan lapisan ozon[2]  dan hujan asam[3], makin marak dan massif dengan disertai teknologi mekanisme dan proses industrialisasi yang memakai topeng pembangunan yang membawa masyarakat ke dalam pola-pola hidup mewah dan konsumtif.[4]
Akumulasi dari krisis-krisis ini berakibat luas dan menimbulkan transformasi keseluruh sistem kehidupan. Kecenderungan manusia untuk merubah bumi (alam), khususnya dengan perkembangan teknologi dan maraknya pembangunan dimaksud, telah membawa perubahan pada bumi ini, baik sistem maupun stuktur ekologisnya secara cepat dan fundamental. Penerobosan teknologi dan pembangunan membuka peluang besar bagi manusia untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi bumi (alam) tanpa terimbangi dengan upaya konservasi sebagai tindakan antisipatif atas kerugian dan degradasi ekologis (alam) yang ditimbulkannya. Krisis global ekologi seperti Efek Rumah Kaca (Greenhouse Effect) yang ber-impact pada Pemanasan Global (Global Warming) dengan disertai sederet problematika ekologis yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia pun terjadi, dan memberi dampak urgensi-krusial bagi ekosistem Bumi.[5]  
            Pandangan spekulatif yang digunakan Lynn White Jr dalam essainya “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” tentang pemahaman alkitabiah Kejadian 1:26-28, dijadikan dasar religius tentang terjadinya krisis lingkungan bagi sebagian komunitas manusia. Di mana Lynn White Jr. mengatakan bahwa:
“ayat ini menginsyaratkan bahwa bumi dan semua makhluk hidup non-manusia di alam menjadi milik bangsa manusia, dan melulu sebagai sarana perkembangan (‘beranak cuculah dan bertambah banyak’) dari umat manusia.”[6]
 
Selain itu White juga menyatakan bahwa:
 “Kekristenan adalah agama yang paling antroposentris yang bahkan telah dilihat dunia …. Keristenan dibandingkan mutlak dengan paganisme kuno dan agama-agama Asia … bersikeras bahwa adalah kehendak Allah agar manusia memanfaatkan alam untuk tujuan-tujuannya yang tepat.”[7]
 
Selanjutnya ditegaskan oleh Moltman dalam tulisannya yang berjudul “God In Creation” yaitu:
“Begitu juga dengan peradaban Kristen yang telah melegitimasi doktrin Alkitabiah tentang penciptaan, di mana mandat untuk ‘menguasai Bumi’ (Kejadian 1:26-28), dipahami sebagai perintah Ilahi yang diberikan kepada manusia untuk menguasai dan mendominasi alam.”[8]
           
Semboyan gerakan GreenPeace yaitu: Jika Pohon terakhir telah tumbang, sungai terakhir telah tercemar, ikan terakhir telah ditangkap, maka manusia akan sadar bahwa uang bukan segala-galanya”,[9] ataupun dengan kata lain “maka manusia akan sadar bahwa mereka tidak dapat memakan uang,” mengandung kritik persuasif yang hendak mengungkapkan suatu keprihatinan ekologis dimana potret Bumi – tempat tinggal keluarga besar makhluk hidup – sedang menuju kerapuhannya. Keprihatinan atas ancaman ekologis ini adalah sebagai pencerminan dari krisis tanggung jawab manusia itu sendiri. Kekristenan yang merupakan sebagian manusia dimaksud pun tidak luput dari problematika ini. Dimana proses pemanfaatan korelasi kehidupan manusia dan bumi (alam), perlu disertai dengan pemahaman teologi ekologi yang benar.  



[1] Wartono Kadri, Pengelolahan Hutan dan Jiwa Kerimbawaan. Jakarta: LITBANG Departemen Kehutanan, 1988.
[2] Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bandung: Penerbit Djambatan, 2001, hlm. 18.
[3] Wisnu Arya Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: ANDI, 2001, hlm. 48.
[4] Surna Djajadiningrat, Penilaian Secara Cepat Sumber-Sumber Pencemaran Air, Tanah dan Udara. Yogyakarta: Gajag Mada University Press, 1989, hlm, 21.
[5] Josua P. Sibarani, Artikel: Selamatkan Lapisan Ozon Mulai Dari Diri Sendiri!Kompas, 27 September 2002, www.kompas.com.
[6] Lynn White Jr. The Historical Roots of Our Ecologic Crisis. Science, No. 155 (1967) 1203-7. dikutip oleh Eric Katz, Yudaisme dan Krisis Ekologis dalam Agama, Filsafat, & Lingkungan Hidup, ed. Mary Evelyn Tucker dan John A. Grim, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 65.
[7] Lynn White Jr. The Historical Roots of Our Ecologic Crisis. In Wesley Granberg-Michaelson, Ecology and Life (Waco: Word, 1988) hlm. 132. dikutip oleh Norman L. Geisler, Etika Kristen Pilihan dan Isu. Malang: SAAT, 2002, hlm. 393.
[8] Jurgen Moltman, God in Creation: An Ecological Doctrine of Creation. London: SCM Press, 1985, hlm. 20.
[9] www.greenpeace.org
__________________

Jimmy R.L. Kambey, M.Th

Tou9h T!me Te4cH Tru5T To THee [7-T]

antisehat's picture

polusi

polusi dihampir semua aspek kehidupan,

konsumsi antioksidan mungkin rodo melegakan...

___________________________

giVe tHank’s wiTh gReaTfull heArt

www.antisehat.com