Aku telah lulus dari Sekolah Teologi ternama. Sudah begitu lama aku berada di gerejaku, tapi jam terbang diriku sebagai Pendeta tidak sama dengan jam terbang khotbahku di depan Mimbar Kebaktian Utama.. Kesempatanku hanya pada Persekutuan Doa, dan mimbar kecil ( selain Kebaktian Utama hari Minggu ). Apakah Mimbar Gereja menjual “Nama seorang Penginjil/Pendeta “ untuk menarik kedatangan jemaat yang lebih banyak ke gereja ataukah aku yang tidak membiarkan diriku untuk menjadi alat Tuhan untuk menjadi seorang pengkhotbah? Atau memang aku tidak diberikan talenta menjadi seorang Pengkhotbah?
Beberapa tahun berlalu, akhirnya aku pun diputuskan untuk dipindahkan ke suatu Propinsi di Sumatera. Aku menolak itu. Anakku bersekolah di Jakarta, dan aku tidak terbeban di tempat baru tersebut. Bebanku adalah di Jakarta, di gereja ini, dan bukan gereja yang lain. Aku tidak merasa terpanggil/ punya beban sedikitpun di sana , sedikitpun tidak. Apakah aku tidak berhak memutuskan bahwa aku memilih di kota ini? Jikalau Tuhan memanggilku ke sana, kenapa aku tidak punya keinginan sedikitpun? Apakah panggilan akan disertai dengan keinginan yang keras dari diri sendiri untuk melakukan hal itu.
Masih adakah panggilan itu pada diriku seperti lagu ini ?
Ke Mana Saja
Ke mana saja ku telah sedia
Pimpinan Tuhan tak pernah bersalah.
Tolong ‘ku, Tuhan memikul salib-Mu.
Tuhan pimpinan-Mu sempurna.
Dalam kota besar atau dalam rimba
Jiwa sama berharga di mata-Mu.
Ke mana saja ‘ku telah sedia
‘Ku mau cinta yang dicinta-Hu.
============================================================
A : Ayo, jadi pengurus yah. Lagi kurang orang neh. Ingat, Kerajaan Surga sudah dekat. Jangan menolak panggilan Tuhan .
B : Aku tidak terbeban sama sekali menjadi pengurus. Malas rapat ini dan itu. Aku mau ikut persekutuannya aja.
A: Doakan dan gumulkan dulu. Benar-benar nggak ada orang neh. Siapa lagi? . Ingat, Anugerah Tuhan lho, kamu boleh pelayanan.
B : Anugerah? Kok aku berasa malah beban yah. Tiap minggu, aku harus datang. Aku harus berkorban uang, waktu, hati, pikiran. Semuanya…..capek iya, anugerah darimana? Hmm….tapi kalo nggak pelayanan, kok berasa nggak enak ajaJ. Aku udah lama berjemaat, kagak mungkin kagak terlibat sama sekali dalam suatu kegiatan gereja. Hanya aku bingung aja, kenapa tiap kali ada serah terima tugas kepengurusan, selalu harus dengan bujukan dan rayuan seperti ini ? Apakah ini yang namanya usaha untuk menjaring pengurus ? Apakah Tuhan akan membiarkan pekerjaan-Nya tanpa ada yang terpanggil untuk melakukanNya ?.
A : Kamu tuh ye, ada-ada aja. Udah doakan aja. Minggu depan kasih keputusan. Kalo tidak, nanti aku coba followup yang lain. Ocre.
Aku tidak terbeban dan dimanakah anugerah itu? Anugerah, hanya kurasakan saat aku memang benar-benar menyadari bahwa aku tidak layak, tetapi dilayakkan untuk melayani Dia.