Teks: Yohanes 8:32
"dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Caution: the following article may be disturbing. Reader's discretion is advised.
Shalom, selamat pagi saudaraku. Sejauh yang saya amati, sebagian besar umat muslim tidak mau diasosiasikan dengan sepak terjang ISIS di Timur Tengah. Sebagian lagi masih ragu-ragu, dan hanya sebagian kecil yang bersimpati kepada mereka atau mau mengakui bahwa ISIS adalah bagian dari umat muslim. Setidaknya demikianlah hasil survei yang dilakukan oleh Pew Research Centre bulan november lalu di 11 negara.(15)
Dalam konteks ini, sore kemarin (11/8/2016) saya melihat berita baris di salah satu televisi nasional yang mengutip pernyataan Donald Trump bahwa Hillary dan Obamalah yang menciptakan ISIS. Lihat (13).
Meskipun saya tidak terlalu mendalami soal-soal politik, berita baris itu sungguh mengusik pikiran saya. Seberapa jauh elemen kebenaran dalam pernyataan demikian?
Sebelum saya melanjutkan artikel ini, perlu diberikan catatan awal:
a. Artikel ini masih bersifat hipotetis, dan bukan kajian mendalam tentang geopolitik atau geostrategi atau politik luarnegeri AS. Lihat misalnya (10)(11).
b. saya bukan ahli politik dan artikel ini tidak dimaksudkan sebagai dukungan terhadap pencalonan Trump sebagai kandidat presiden Amerika.
c. Dalam artikel ini tidak akan dibahas kelebihan dan kekurangan masing-masing kandidat tersebut. Jika Anda ingin membaca suatu ringkasan tentang dua kandidat presiden Amerika, lihat artikel menarik yang ditulis oleh Ekaputra Tupamahu, kandidat doktor yang sedang menempuh studi di AS (18).
Maksud tulisan ini hanya ingin menyingkap sepercik kebenaran di antara tumpukan dusta, sebagaimana salah satu pepatah jurnalisme mengatakan: jangan hanya membaca apa yang tersirat ("read between the lines"), namun belajarlah membaca di antara kebohongan ("read between the lies").
3 pernyataan
Sejauh yang saya ikuti dalam beberapa bulan terakhir ini, ada 3 pernyataan dari sumber-sumber yang berbeda yang tampaknya berada satu garis dengan pernyataan Trump tersebut:
a. Pernyataan Yousaf Al-Salafi: dalam suatu rangkaian interogasi, salah satu pimpinan ISIS di Pakistan baru-baru ini menyatakan bahwa mereka menerima dana secara teratur dari pemerintahan AS, dan mereka dibayar sekitar $600 untuk setiap orang yang mereka rekrut untuk ISIS.(2)
b. Pernyataan John Brennan, Direktur CIA: bahwa ISIS adalah hasil rekayasa CIA yang kemudian lepas kontrol. Sayangnya link ke berita tentang ini semuanya sudah dihapus atau menjadi broken link. Yang masih belum terhapus adalah pernyataan Brennan membantah Obama yang menyatakan bahwa kekuatan ISIS melemah. (6)
c. Laporan rahasia Pentagon: menyatakan bahwa ISIS diciptakan oleh AS dengan tujuan menggoyang pemerintahan resmi Suriah. (3) Di sisi lain, ada laporan investigatif yang menyatakan bahwa Joint Chief of Staff dari Pentagon memberikan laporan intelijen secara berkala kepada Presiden Suriah, berlawanan dengan rencana Obama. (7)
Meskipun laporan resmi dari Obama administration selalu membantah adanya hubungan atau dukungan langsung terhadap aktivitas ISIS, namun ketiga poin di atas tampaknya menguatkan sinyalemen Prof. Tim Anderson bahwa memang Washington mendukung ISIS (17). Dalam artikelnya, Prof. Tim Anderson antara lain menulis: "In 2006, as al-Baghdadi and others were released, the Bush administration announced its plan for a ‘New Middle East’, a plan which would employ sectarian violence as part of a process of ‘creative destruction’ in the region." (17)
Catatan
a. Jika ketiga pernyataan di atas dilakukan cek silang, maka ada cukup alasan untuk mengatakan bahwa meskipun retorika Donald Trump sering agak sembrono, namun dalam konteks pernyataan tentang ISIS (13), tampaknya ada elemen kebenaran dalam pernyataan tersebut. Namun demikian, memang ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab, misalnya: 1. Benarkah Hillary ikut berperan dalam merancang ISIS sebagai bagian dari kebijakan Luar Negeri AS di Timur Tengah, khususnya waktu ia menjabat sebagai Menlu AS?, 2. Apakah memang ISIS merupakan produk CIA yang lalu lepas kendali, atau apakah sampai sekarang mereka terus bekerja di bawah instruksi dari Obama Administration?, 3. Apa saja rencana ISIS ke depan dalam konteks Asia Tenggara? Kiranya pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian dari analisis politik dan intelijen Kemenlu.
b. Kepada saudara-saudara sesama Kristen, sebaiknya jangan menyamaratakan bahwa semua umat muslim berpandangan radikal seperti ISIS. Sebaliknya, rekan-rekan muslim juga jangan "menggebyah-uyah" bahwa semua orang Kristen sepaham dengan kebijakan luar negeri Obama administration. Ada indikasi yang menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Obama administration banyak dipengaruhi oleh Dr. Zbigniew Brzezinski, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pandangan kristiani (12). Dalam pidatonya sekitar tahun 2007, sebelum terpilih menjadi presiden, Obama memuji Brzezinski dengan kalimat berikut: “he is one of our most outstanding scholars, one of our most outstanding thinkers”... "has proven to be an outstanding friend and somebody who I have learned an immense amount from” (12). Lihat juga (14).
c. Sekali lagi, saya bukan ahli intelijen atau ahli politik, jadi saya sama-sekali tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Namun mengingat bahwa ISIS telah menyatakan perang di websitenya terhadap Malaysia dan Indonesia (9), maka sudah selayaknya badan penanggulangan terorisme (BNPT) melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap ancaman ISIS tersebut, juga terhadap organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya, seperti misalnya Katibah Nusantara. Lihat (8). (Catatan: Katibah Nusantara jelas berbeda dengan gerakan "Islam Nusantara" yang diprakarsai NU.)
d. Kalau melihat sepak terjangnya akhir-akhir ini, setelah berhasil mengacaukan seluruh Timur Tengah tampaknya ISIS akan berusaha menciptakan khaos di Eropa dan juga Asia Tenggara. Itulah yang tampaknya terjadi dengan berbagai serangan di Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya dalam beberapa bulan terakhir. Dan bisa jadi mereka akan berusaha melakukan eskalasi serangan di Eropa dalam bulan-bulan ke depan.
e. Ada kemungkinan bahwa ISIS akan meningkatkan serangan ke Barat, seperti disinyalir oleh John Brennan, Direktur CIA (4)(5). Jika hal ini terus terjadi dan tidak dihentikan, maka mungkin itulah yang dimaksud dengan masa Tribulasi (The Great Tribulation).
Penutup
1. Tampaknya ada alasan yang cukup untuk menduga bahwa Obama administration sedang menjalankan kebijakan destruksi kreatif di Timur Tengah sebagaimana yang mereka telah lakukan di Balkan, mungkin atas nasehat Brzezinski (10). Dan kini tampaknya kebijakan destruksi kreatif itu mulai diarahkan ke Eropa Barat dan Asia Tenggara.
2. Secara teologis dan filosofis, kebijakan destruksi kreatif (atau dalam motto: "Creating order out of chaos") dapat dipertanyakan kebenarannya. Lihat (19). Istilah tersebut menjadi populer dalam dunia ilmiah melalui buku Ilya Prigogine & Isabelle Stengers (20). Mungkin saja fenomena termodinamika non-ekuilibrium membenarkan konsep "order out of chaos" namun hal ini tidak dapat begitu saja diterapkan ke wilayah sosial dan politik. Apalagi menjadi kebijakan luar negeri suatu negara untuk merusak wilayah lain.
3. Sekali lagi, memang artikel ini hipotetikal dan mungkin kurang mempertimbangkan dimensi geopolitik secara komprehensif, namun pesan utama di sini adalah supaya BNPT lebih antisipatif terhadap kiprah ISIS di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya.
Versi 1.0: 11 Agustus 2016, pk. 21:45, versi 1.1: 14 agustus 2016, pk. 16:08
VC
note: terimakasih kepada Daniel atas saran-sarannya.
Referensi:
(1) Pamela Geller & Robert Spencer. The post-American presidency: The Obama Administration's war on America. New York: Threshold Editions, 2010
(2) http://nesaranews.blogspot.co.id/2016/07/isis-we-are-being-funded-by-obama.htm
(3) http://www.zerohedge.com/news/2015-05-23/secret-pentagon-report-reveals-us-created-isis-tool-overthrow-syrias-president-assad
(4) http://econlog.econlib.org/archives/2016/06/brennan_admits.html
(5) https://theconservativetreehouse.com/2016/06/16/cia-director-brennan-says-trump-is-right-isis-attempting-u-s-infiltration-via-refugees/
(6) http://www.rushlimbaugh.com/daily/2016/06/16/cia_director_contradicts_obama
(7) http://thefreethoughtproject.com/white-house-cia-supply-terrorists-weapons-topple-assad-u-s-military-feeds-syrian-govt-intel-isis/
(8) https://www.intelijen.co.id/katibah-nusantara-sayap-melayu-isis-dan-ancaman-bagi-asia/
(9) http://news.asiaone.com/news/malaysia/declares-war-malaysia-and-indonesia
(10) Vassilis Fouskas. Zones of conflict: US foreign policy in the Balkans and the greater Middle East. Sterling: Pluto Press, 2003.
(11) Yakub Halabi. US foreign policy in the Middle East. Surrey: Ashgate Publishing Limited, 2009.
(12) Bruno Adrie. In the Foreign Policy Shadow of Dr. Brzezinski: Obama, Islamic Fundamentalism, and Russia. Part I. Global Research, Oct. 2015. Url: http://www.globalresearch.ca/in-the-foreign-policy-shadow-of-dr-brzezinski-obama-islamic-fundamentalism-and-russia/5485727
(13) Binoy Kampmark. Donald Trump and the ISIS factor. Global Research, August 13th, 2016. Url: http://www.globalresearch.ca/donald-trump-and-the-isis-factor/5540902
(14) http://www.hoefgeest.nl/temp/ObamaMSNBC.pdf
(16) Jacob Poushter. Nov. 15, 2015. Url: http://www.pewresearch.org/fact-tank/2015/11/17/in-nations-with-significant-muslim-populations-much-disdain-for-isis/
(17) Prof. Tim Anderson. The Dirty War on Syria: Washington supports the Islamic State (ISIS) - the evidence. Global Reseearch, December 29th 2015, url: http://www.globalresearch.ca/the-dirty-war-on-syria-washington-supports-the-islamic-state-isis/5494957
(18) Ekaputra Tupamahu. Quo Vadis Amerika? Url: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/quo-vadis-amerika
(19) http://www.zerohedge.com/news/2014-08-15/order-out-chaos-doctrine-runs-world
(20) Ilya Prigogine & Isabelle Stengers. Order out of chaos. New York: Bantam books, 1984.