Submitted by erick on

Ku ingat ketika kecil, bila disuruh belajar adalah sebuah hukuman bagiku. “2 jam pegang buku” istilah waktu untuk belajar diterapkan oleh dia yang disebut kepala keluarga dirumahku. “2 jam siksaan” istilah bagiku. 

 

Bagi abangku, tentu saja “2 jam pegang buku” tidak masalah, karena baginya ‘hari = belajar’. Paling tidak adil bagiku jika dibandingkan prestasi dari hasil rapor antar kami berdua. Karena tentu saja juara umum tidak pernah tertera di raporku, sedang di rapornya….. SELALU! (Pasti agung berkata “menyebalkan”.) 

Ku ingat, ada yang orang sebut dengan “program Wajib Belajar” Almarhum Soeharto menyediakan gedung sekolah Impres, dan mensubsidi banyak sekolah Sanawiyah, diupayakan apa yg disebut PGRI, dan beberapa usaha lain untuk pendidikan. 

Ku ingat betapa aku benci sekolah. Kotbah khusus setelah pengambilan rapor, tak merubah kedudukan ranking kelas menjadi yang pertama. Aku bertanya pada paman, apa arti wajib belajar? Ia menjawab panjang lebar seperti melontarkan sebuah tesis, yang harus dipertanggung-jawabkannya untuk mendapat sebuah gelar doktor. Pertanyaan keduaku, mengapa wajib? Jawabannya lebih sederhana, biar pandai. Sungguh aneh jawaban orang dewasa, pikirku saat itu. 

Ku ingat bila ada orang baru menjabat sebagai menteri pendidikan, maka ada perubahan kurikulum yang kemudian diterapkan. Misalnya, dari hanya 2 penjurusan di SMA, menjadi 4 penjurusan, kemudian kembali pada 3 penjurusan, lalu berubah kembali menjadi 2 penjurusan. Oh iya, sebutan untuk ujiannya juga berubah-ubah dan aku pernah mengalami perubahan dari quartal menjadi semester. Ah, mereka tidak konsisten kata pikiranku. Tidak menstandartkan sesuatu. 

Ku ingat, aku diberi selamat banyak orang ketika namaku tercantum di sekolah negeri. Padahal, pada saat itu aku tak mengerti mengapa mereka memberi selamat padaku, khan aku tetap harus bersekolah. Sedangkan aku tidak suka sekolah. Mengapa tidak memberi selamat ke Ema aja. Karena dengan demikian bayar uang sekolahku murah, hanya Rp. 8.000,-  pada saat itu. Sedangkan untukku,....(pinjam ‘kata’ mujarab Agung Sekolah menyebalkan) 

Kuingat, pamanku, aku dan teman-teman berada di gedung DPR.Semua orang menghawatirkan kami. Hampir saja suami Ema memarahi iparnya, karena nyawaku, yang tidak diasuransikannya, berada dalam bahaya. Walau pamanku hanya mengijinkanku berada di area ‘dapur umum’ (katanya Agung “Menyebalkan”).

Padahal hari itu, sengat matahari lebih sadis daripada sengat lebah. Bekerja melayani mereka yang minta nasi bungkus, roti atau hanya aqua gelas begitu melelahkan. Dan bodohnya, aku sama sekali tidak tahu apa hasil dari rembukan para profesor, rektor dan orang-orang berpendidikan super duper tinggi di ruang mewah sana. Kali itu memang aku yang kurang informasi. 

Ku ingat perubahan besar-besaran terjadi. Orang pandai yang tak bisa berpolitik dipercaya meneruskan tampuk kekuasaan. Pendidikan pun oleng. Aku tidak menyalahkan menterinya, tetapi sebuah kefanatikan terbukti menanam bahaya. Benar saja 6 tahun kemudian - lama waktu pendidikan untuk meraih degree -  orang-orang yang dibiayai sekolah jauh ke luar negeri pulang membawa kebencian sebuah perbedaan dan ‘menghadirkan perang suci model baru’. 

Keran ini pun kemudian tak dapat lagi mengeluarkan keberhasilan. Menteri diganti lagi. Kali ini, trend baru pembisnissasian pendidikan. Bau pendidikan lalu amis rupiah. Usia batita disekolahkan. Betapa lucu ada sekolah pre school. Bukankah pre berarti sebelum? Pre school diartikan bebas menjadi sebelum sekolah. Tak pandai aku memikirkannya. Lalu, pendidikan tinggi negeri membuka lebar-lebar pintu bagi mahasiswa baru, serta menyediakan beberapa bangku bagi mereka yang bisa menang lelang, jenjang master mewabah. Aku mendesis, menyebalkan. 

Menteri berganti lagi, aku lelah mengawasinya. Aku tetap benci sekolah, walau pagi tidak lagi harus segera mandi air dingin, sarapan pagi dan menjinjing tas di bahu menuju sekolah, aku tetap benci duduk diam di kelas. Aku menentang René Descartes yang menyatakan aku berfikir maka aku ada. Aku juga nenentang Michel Foucault dengan kepikirannya terlebih pola pikirnya tentang pendidikan. Semua ini karena pendidikan mempola murid mengetahui sedikit mengenai sesuatu, mendorong murid tersebut mempertanyakannya, (kalau bisa malah sampai mengalaminya) dan mencari jawab dari apa yang ingin diketahuinya dari yang sedikit itu. Erusi melakukan ini. Setiap jawab dari pertanyaannya ditepisnya sendiri dengan kepandaiannya mengelak. 

Kini, banyak orang menyediakan ‘tempat belajar’, meramu pengetahuan kedalam pola yang menyenangkan, menyulap semua yang sulit menjadi mudah, dan memplesetkan sedikit yang mudah menjadi sulit, menaikkan gaji guru, menfasilitasi berbagai teknologi untuk memajukan kualitas pendidikan. Oh apa lagi yang hendak ku tulis disini?   

Kalau ada bloger sabdaspace bahas kualitas pendidikan kristen, aku bisa bilang apa mengenai pendidikan ini???? (Kali ini tak akan kubiarkan Agung berkata “Menyebalkan!”)