Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Buah Mulut (Gosip) - 2

John Adisubrata's picture

Oleh: John Adisubrata

 MIMBAR GUNJING 

“… dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31b)

Yang paling mengerikan adalah kebiasaan yang sudah sering terjadi akhir-akhir ini, dimana gosip bukan disebarkan secara khusuk atau pribadi lagi. Seperti kebiasaan umum yang dapat dibaca di dalam majalah-majalah (bahkan koran-koran) dunia sekuler yang populer, mengenai berita-berita isapan jempol sekitar orang-orang yang sudah menjadi sorotan masyarakat, seakan-akan gunjing juga sudah menjadi sah untuk dilakukan dari atas mimbar-mimbar gereja dengan berkedokkan firman untuk mencerca dan melecehkan orang-orang tertentu yang kebetulan tidak hadir di sana.  

Hal-hal seperti itu bukan hanya terjadi di kalangan gereja-gereja lokal kecil yang mandiri saja, tetapi juga sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja besar yang sudah termasyhur, bahkan yang telah dikenal secara internasional.

Dengan memakai nama Tuhan sebagai perisainya, jemaat yang tidak berdaya untuk membela diri, orang-orang yang dikenal oleh masyarakat, bahkan hamba-hamba Tuhan lainnya yang belum tentu bersalah, diumpat habis-habisan dari atas mimbar dengan tuduhan-tuduhan yang kejam, sambil membeberkan kejelekan mereka atau ‘affairs’ yang (diduga?) telah dilakukan oleh mereka.  

Kemungkinan sekali hal-hal seperti itu bisa terjadi, disebabkan oleh karena akhir-akhir ini di dalam penyajian-penyajian ibadah khotbah, sering kali terjadi ketidak-seimbangan prosentasi antara ayat-ayat Alkitab (isi kebenaran firman Tuhan) dengan pengalaman-pengalaman pribadi yang diuraikan di dalamnya.

Pokok-pokok pengajaran yang berfokus total pada firman Allah di dalam khotbah denominasi-denominasi tertentu menjadi sangat berkurang, sedangkan yang mengandung tekanan pada pengalaman-pengalaman sendiri menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan di dalam ibadah-ibadah gereja di hari Minggu. Ayat-ayat Alkitab hanya dipergunakan sebagai penghias saja untuk meyakinkan para jemaat, bahwa penyajian yang sedang mereka dengarkan adalah penyajian kristiani.  

Khotbah yang berkisar terus-menerus pada pengalaman-pengalaman hidup para pembawanya (baik pendeta maupun penginjil), memudahkan terbukanya celah, yang bisa tanpa disadari oleh mereka sendiri, cenderung untuk membicarakan umat Tuhan yang lain, yang tidak hadir pada saat itu, bahkan membanding-bandingkan, mengkritik, menjelek-jelekkan dan melecehkan hamba-hamba Tuhan yang lain.

Kebiasaan lain yang lebih menggelikan lagi, adalah teguran-teguran keras dari atas mimbar bertamengkan firman guna mengecam orang-orang tertentu tentang kabar angin yang sedang berhembus di dalam gereja, … di antara para anggota jemaat. Biasanya firman seperti itu akan berakhir tidak jauh berbeda dengan gosip yang sedang dibahas olehnya. Sebab tanpa disadari oleh si penegur sendiri, secara tidak langsung ia sedang menciptakan suatu tema gunjing yang baru dari atas mimbar, berdasarkan gosip bahasannya, yang jelas akan tersebar jauh lebih luas lagi tidak lama sesudah ibadah tersebut berakhir.  

Karena itu pentingnya keseimbangan prosentasi yang sehat di dalam membawakan firman tidak boleh dilalaikan, karena isi penyajian khotbah harus berfokus hanya pada kebenaran isi Alkitab, dan berakar kuat di dalamnya.

Tentu saja penerapan-penerapannya di dalam kehidupan masyarakat kristiani sehari-hari juga sangat penting, untuk memudahkan pengertian di dalam menghayati perintah-perintah Tuhan yang sebenarnya, sebab firman-Nya adalah firman yang hidup sepanjang masa. Tetapi penerapan firman Tuhan pada kehidupan sehari-hari masakini bukan berarti sudah memberikan kepada kita lisensi serta kebebasan yang seenaknya untuk menyebutkan nama-nama orang lain di dalam khotbah, membanding-bandingkan mereka dengan diri kita, bahkan melecehkan mereka dengan tujuan untuk melucu di atas mimbar agar mendapatkan sambutan ria penuh tawa dari para jemaat yang hadir. 

Kita harus berhati-hati, bahwa bukan penerapan-penerapannya yang ditekankan, oleh karena pengalaman-pengalaman pribadi kita yang mungkin ‘kedengarannya’ hebat sekali, tetapi yang harus mutlak menjadi landasan setiap khotbah adalah firman yang keluar dari mulut Allah!

Kalau sebelumnya telah diuraikan di atas, bahwa Tuhan menista, bahkan membenci orang-orang yang gemar bergunjing-ria atas nama mereka sendiri, apalagi kalau mereka menggosipkan umat-Nya yang lain dengan mengatas-namakan firman-Nya 

Pandangan atau tafsiran mengenai isi Alkitab, sesuai dengan tradisi atau doktrin gereja, juga sering kali dipergunakan sebagai senjata untuk menghakimi denominasi-denominasi lainnya yang mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda. Ingatlah, tafsiran-tafsiran manusia biasa bukan merupakan suatu jaminan yang pasti bahwa itu adalah WAHYU Tuhan yang sebenarnya! Mencari-cari kesalahan, dan sekaligus mengecam mereka dari atas mimbar dan di depan umum, terutama terhadap hamba-hamba Tuhan yang lain, sebagai … hamba-hamba Tuhan yang palsu atau keliru adalah suatu tindakan tak terpuji, yang akhirnya hanya akan mempermalukan nama Tuhan saja, … dan juga umat kristiani lainnya yang tidak bersalah.

Berhati-hatilah, karena gosip dapat meluncur keluar dari arah bidikan dengan mudah sekali seperti lidah api yang menjalar cepat, melanda dan menghanguskan yang sebenarnya bukan menjadi sasaran utamanya. Pada akhirnya yang menerima kabar angin tersebut, umumnya adalah orang-orang yang berada di luar tubuh Kristus! Apakah reaksi yang akan mereka berikan, jika menyaksikan hal-hal seperti itu terjadi dikalangan orang-orang yang seharusnya menjadi teladan untuk memenangkan jiwa mereka bagi Kerajaan Allah? Apakah perbuatan-perbuatan tersebut tidak menjatuhkan kebesaran nama Tuhan, dan juga sekaligus mempermalukan orang-orang Kristen pada umumnya? 

“…, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan …” (Yudas 1:16)

(Bersambung)  

BUAH MULUT (GOSIP) - 3

KEBAKTIAN KEBANGUNAN GOSIP ROHANI?