Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

CICAK DAN BUAYA BERMAIN DRAMA, SI TIKUS JADI SUTRADARA

Tante Paku's picture

Pergi ke gambar ukuran penuhPergi ke gambar ukuran penuhPergi ke gambar ukuran penuh

     AKHIR-AKHIR ini kita disuguhi drama dengan tokoh-tokoh binatang yang sudah kita kenal yaitu Cicak dan Buaya. Drama sebagai media memang cocok kita nikmati dalam kehidupan ini, baik lewat media cetak maupun elektronik. Media itu memang harus memvisualkan kata, merekam peristiwa dalam bentuk yang nyata untuk dicerna pikiran penikmat sajian tersebut.

     Membuat tontonan yang berupa drama memang bukan pekerjaan mudah. Ini merupakan salah satu seni yang tinggi dan canggih, karena memerlukan penata yang terampil dan berlimpah kreasi, yang mampu mengolah hal sederhana menjadi sesuatu yang menarik dan memuaskan batiniah.

    Penikmat atau penonton, walau awam, bisa juga kritis apabila berulang-ulang menonton drama. Penonton yang awam kadangkala akan memprotes adegan yang tidak logis, plot yang tidak utuh, tokoh yang tidak konsisten, tempat yang tidak tepat, dan waktu yang tidak pas. Mungkin orang awam tidak mengerti sistematika istilah-istilah yang disebutkan di atas, yang lazim disusun secara tertib dalam ilmu karang mengarang.

     Secara alamiah, penonton awam memiliki pengetahuan akan hal itu. Sistematika dilakukan hanyalah karena kepentingan ilmu, untuk pengajaran dan pengetahuan. Sedangkan istilah itu sendiri sebenarnya sudah terjelma dalam kehidupan manusia baik yang tahu baca maupun yang tidak tahu baca. Sebuah langkah yang cukup dapat dipertanggungjawabkan ialah metode perbandingan. Metode yang sering digunakan kaum awam untuk menilai kadar tontonan sah adanya. Justru perbandingan ini membuat pikiran mereka lebih kritis dan pendapat mereka lebih tajam dan dapat dipercaya.

     Ketika Cicak bermain drama dengan Buaya, kaum awam tidak mau pusing dengan segala tetek bengek teori yang hebat dan tinggi-tinggi, tetapi ketika sajian kurang berharga, bereaksilah para awam ini yaitu RAKYAT.

     Seperti kita ketahui bahwa Buaya adalah binatang melata yang cukup besar dibandingkan dengan Cicak yang hidupnya merayap di dinding atau di pepohonan. Sementara Buaya boleh dikata raja binatang melata di sungai-sungai atau rawa-rawa. Ketika sang Buaya mendapat kesempatan hidup di darat, mulailah awal kehidupan baru.

     Sang Buaya membuat "korp" yang kuat, seragam yang sama, senjata yang sepadan. Ketika ada kesempatan, mereka pun menggelar bermacam operasi untuk mengokohkan eksistensinya. Bermacam operasi pernah diluncurkan, ada "Operasi Siluman", "Operasi Halilintar", "Operasi Sabet", "Operasi Sapu Jagat", "Operasi Zebra", "Operasi Patuh" dll. Memang kalau kita catat semua, banyak "operasi" dengan nama yang hebat dan seram sekaligus indah mencekam.

     Para Buaya melancarkan semua operasi itu dengan tujuan satu, yakni MENEGAKKAN HUKUM di tengah masyarakat. Sesuai dengan kata sifatnya, yakni "operasi", maka pelaksanaannya mempunyai batas waktu. Tetapi operasi yang paling rajin mereka lakukan adalah "Operasi Tilang".

     Operasi Tilang ini sering jadi "momok" masyarakat yang lupa memperlengkapi aturan yang sudah ditetapkan. Sementara para "oknum" Buaya sering mencari keuntungan ditengah "kegugupan" rakyat biasa yang patuh hukum. Bahkan ada cerita yang baru saja diceritakan seorang teman, karena tidak mengenakan helm, kena tilang "oknum" Buaya yang melintas, dengan berbagai pasal ngawur, "oknum" Buaya itu minta uang sebesar 250 ribu rupiah untuk kesalahan tidak mengenakan helm, padahal aturannya kena denda 40-an ribu rupiah. Karena takut, ia terpaksa memberikan uang sebesar permintaan "oknum" itu, alhasil, gajinya sebulan sebagai buruh jahit amblas diminta paksa OKNUM Buaya itu !

     Begitulah para Buaya di lapangan jika tengah melakukan "operasi" tidak resmi, mereka memanfaatkan kekuatan "seragam" dan bertindak layaknya "preman" jalanan. Sementara si Cicak, walau kecil dan usia "korp"nya belum lama, karena mempunyai "kekuasaan" yang cukup nyaman untuk bergerak di tengah lapisan instansi maupun masyarakat, ikut meniru gaya para Buaya ketika sedang menjalankan tugas.

     Terjadilah permainan "kucing-kucingan" antara aparat penegak hukum dengan masyarakat. Ketika sama-sama menangkap "mangsa" yang empuk, gurih, renyah sekaligus bergizi, berlombalah mereka merayu mangsa tersebut, yang rupanya bernama TIKUS. Bila ingin selamat dunia akherat, si Tikus harus rela membagi isi "lumbungnya" dengan mereka.  Ketika pembagian dirasa "tidak adil" oleh salah satu pihak dan tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat, pertempuran pun siap-siap meletus.

     Cicak yang merasa kecil dan tak punya senjata kuat, ia hanya punya pendengaran tajam serta lidah yang panjang maka ia mencari dukungan dari banyak pihak. Mulai dari tokoh-tokoh masyarakat, juga para rakyat yang tergabung dalam Facebookers serta banyak lagi rakyat yang "dibujuk" untuk mendukungnya. Sementara Buaya, yang punya senjata komplit, baik perisai yang tebal maupun gigi tajam, tidak perlu mencari simpati masyarakat. Keangkuhannya cukup untuk bisa menelan bulat-bulat para Cicak yang lagi "tidak kompak" itu. Maklum ketua para Cicak itu lagi kena musibah di lapangan Golf, terjatuh ke dalam pelukan "lobang" Golf  yang salah.

     Apa arti semua ini? Apakah yang dapat dipetik dari "pentas drama" kolosal ini? Seperti skenario drama yang hanya perlu diikuti oleh mereka yang sedang naik panggung dan ditonton banyak orang. Sesudah acara selesai, orang pun turun kembali dari atas panggung dan skenario itu tak berfungsi apa-apa lagi. Di sisi lain hal ini membuka peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk "memainkan"nya lewat cara-cara yang dapat merusak kewibawaan hukum. Lewat korupsi, pungli dan lain sebagainya. Si Tikus yang berhasil menyutradarai drama itu akan tertawa puas sambil makan "kesempatan", sementara tidak diawasi mereka yang tengah bermain drama itu.

      Dalam budaya hidup masyarakat yang serba paternalistik, yang serba "vertical oriented", para tokoh dan aparat penegak hukum selalu dijadikan sebagai cermin. Merekalah tuntunan, mereka itulah panutan.Dalam masyarakat kita yang serba multiplural, dengan tingkat pendidikan dan kesadaran nasional, baik di bidang politik maupun hukum, belum homogen, segala tingkahlaku aparat yang bertugas menertibkan masyarakat dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan waktu, dijadikan sebagai tolok ukur. Dengan tempo dan irama yang tetap serta semangat yang tetap pula.

     Dalam hidup kita bermain drama, kita juga memerlukan tontonan, tetapi bukan tontonan dengan pamer ketegangan urat leher, dengan kata-kata murahan yang dilontarkan dengan mudah. Kehidupan sehari-hari rakyat kita masih banyak yang dirundung oleh frustrasi, kemelut, ketegangan dan jalan buntu, apakah mereka masih memerlukan suguhan ala Cicak dan Buaya?

 

Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat

 

 

__________________

Semoga Bermanfaat Walau Tidak Sependapat

kardi's picture

@tante paku , bagaimana bila disambung dengan puisinya?

@tante paku, saya tunggu puisi cicak dan buaya nya.  Tulisan-tulisan tante membuat suasana segar, dan benar-benar up to date. GBU

Tante Paku's picture

Tumben puisi pak Kardi?

Wah, belum kepikiran buat puisi cicak dan buaya pak Kardi. Kalo lagu tentang Cicak udah ada ya, Buaya juga ada, kalau dipuisikan menarik juga, entar deh kalo dapat ide.

Tumben pak Kardi tanya puisi, biasanya minta ayat untuk melengkapi sebuah tulisan. Nah, sekarang saya minta ayat  dari Firman Tuhan yang pas untuk kasus di atas, saya kira pak Kardi bisa memilihkan yang pas?

Terima kasih sebelumnya.

__________________

Semoga Bermanfaat Walau Tidak Sependapat

vicksion's picture

Senep,...

Pusing jd nya liat bangsa yg kayak gini, berantem terus...

terus terusan ky gini, ambruk deh kita,....

 

bygrace's picture

Tikus di Negeri Para Bedebah

Mendengarkan rekaman penyadapan telepon Anggodo yang digelar Mahkamah Konstitusi dan ditayangkan di TV hari ini membuat hati ini geram, terhina dan kecewa. Tikus-tikus memang sutradara adiluhung : Tak peduli cecak, tak peduli buaya, tak peduli embahnya buaya, tak peduli embahnya buaya yang menyandang bintang di pundak...semua bisa diatur.

Menonton TV hari ini membuat hati bertanya-tanya : negeri apakah yang para penegak keadilannya bisa dikendalikan oleh tikus ?

Adhi Masardi menjawab pertanyaan ini dalam puisinya "Negeri Para Bedebah" yang dibacakannya di depan Gedung KPK kemarin (02/11).


NEGERI PARA BEDEBAH

Oleh Adhie Massardi

    Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
    Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
    Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
    Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

    Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
    Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
    Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
    Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

    Di negeri para bedebah
    Orang baik dan bersih dianggap salah
    Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
    Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
    Karena hanya penguasa yang boleh marah
    Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

    Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
    Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
    Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
    Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

    Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
    Usirlah mereka dengan revolusi
    Bila tak mampu dengan revolusi,
    Dengan demonstrasi
    Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
    Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan .