Submitted by Daniel on

Mengamati diskusi antar agama yang mulai merebak di sabdaspace akhir2 ini, sepertinya saya selalu sampai pada kesimpulan yang sama: tidak akan pernah nyambung. Salah satu penyebabnya adalah karena kedua pihak berpijak pada landasan yang berbeda. Seperti yang pernah dibilang hai hai, mustahil menyatukan rel kereta api.



Contohnya saja, diskusi tentang kebenaran Alkitab yang diangkat oleh erusi melalui blognya "Kemuskilan dalam silsilah Jesus", yang sampai blog ini ditulis masih menjadi blog paling ramai setelah "AKU TIDAK PERCAYA MUJIZAT"-nya hai hai. Di situ nampak jelas perbedaan pandangan mengenai Alkitab menjadi sumber kesalahpahaman yang paling besar, dan sialnya, paling tidak disadari.



Bagi orang Islam, Al-Quran adalah Kitab Suci yang benar2 nuzul atau turun dari Surga kepada Nabi Muhammad secara harafiah. Mereka meyakini bahwa Al-Quran yang sekarang ada di bumi adalah salinan persis, huruf demi huruf, dari kitab asli yang ada di Surga sejak kekal sampai kekal. Dalam pengertian ini, Al-Quran adalah Kitab yang benar-benar suci. Bahasa Arab yang digunakan untuk menulis Al-Quran juga menjadi bahasa suci. Usaha, bahkan niat, untuk mempertanyakan, apalagi meragukan Al-Quran dianggap sama dengan menghujat Allah sendiri. Karena itu tidak heran jika film2 atau buku2 yang mengutip ayat Al-Quran secara serampangan seperti "Fitna"-nya Geert Wilders atau "Ayat-ayat Setan"-nya Salman Rushdie dikecam habis2an oleh orang Islam, hingga muncul fatwa mati bagi para penulisnya.



Konsep Kitab Suci seperti ini pula yang diterapkan orang2 Islam pada Alkitab orang Kristen (yang mereka sebut Bible, karena kata Alkitab sendiri dalam bahasa Arab hanya berarti Sang Buku atau The Book). Mereka menganggap bahwa jika Alkitab hendak menjadi Kitab Suci, maka Alkitab harus memenuhi kriteria2 spt yang dimiliki Al-Quran. Itu sebabnya, erusi begitu kekeh jumekeh berusaha meyakinkan semua orang bahwa Alkitab tidak layak menjadi sumber kebenaran.



Sementara bagi orang Kristen, jika dib