Submitted by ely on

Bentuknya bulat, berwarna hitam, sebesar biji jagung. Sangat manis, menempel tepat di belakang lengan pemiliknya. Terlihat seksi bagi mataku, yang sama sekali tak memilikinya.

Tanda lahir atau biasa disebut tompel, memang tak satupun hinggap di tubuhku, sehingga aku sangat manganggumi setiap tompel yang terlihat oleh mataku.

Namun tidak demikian dengan Ipung, adikku. Entah sejak kapan ia merasa risih dengan tompel yang terletak manis di belakang lengannya itu. Sehingga suatu hari ia menanyakan pendapatku, dengan maksudnya yang ingin memusnahkan tompel di lengannya itu.

Aku tak berani menentangnya terang-terangan, dengan mengatakan itu ide gila. Aku hanya bilang, bahwa aku sangat menyenangi tompelnya, karena terlihat cantik dan seandainya tompel itu milikku, aku tak akan melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Namun, hal itu ternyata tidak mematahkan niatnya. Entah apa yang ia lakukan dengan tompel kesayangan mataku itu.

Suatu sore, sepulang dari kerja, aku melihat lengannya terikat perban. Tentu saja aku langsung bertanya, “ada apa dengan lenganmu?”, dengan sedikit cengengesan ia menjawab “hanya luka untuk menghapus tompel”. Mendengar jawaban itu, aku hanya menghela nafas, sayang sekali pikirku dalam hati.

Aku tak mengerti bagaimana ia berani melukai tangannya, demi menghilangkan tompel yang melekat di sana.

Beberapa hari aku perhatikan, luka itu belum juga sembuh, dan itu membuatku akhirnya berani mengeluarkan komentar untuk menyidirnya, “sepertinya kamu lebih senang mendapat bekas luka, dari pada tompel kecil manis itu” kataku. Tanpa menatapku, ia menjawab “seandainya tompelku tidak hilang juga, aku tidak akan kembali melakukan hal yang sama”. Mungkin luka bekas tompel itu terasa menyiksa.

Jawaban itu membuat aku kembali teringat sebuah pepatah “penyesalan selalu datang terlambat”.

Namun dapat dipastikan, melalui penyesalan tidak jarang membuahkan pelajaran berharga.