Logika adalah cara berpikir yang masuk akal, nyata fisiknya (terlihat bentuknya/sifat, warna, sebab-akibat, dll) & diterima secara umum. Seperti : kalau saya makan maka akan kenyang/minum air untuk menghilangkan dahaga, logikanya makan/minum berarti ada sesuatu bahan makanan yg masuk ke dalam tubuh yg mengenyangkan.
Rajin menabung pangkal kaya, logikanya karena banyak uang yg disisihlan dari pendapatannya maka akan byk simpanannya.
Rajin belajar akan pandai, logikanya karena rajin membaca & berlatih maka akan pandai, dsb. Terlihat mudah seperti belajar bahasa Indonesia pada waktu SD bukan begitu?
Saya mendeskripsikan iman adalah kepercayaan (beliefe) akan sesuatu yang belum tentu nyata fisiknya, dalam hal ini adalah kepercayaan akan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa, Jesus Christ. Tuhan tidak terlihat wujud nyatanya tetapi kita dapat melihat ajaran2nya & kisah hidupnya di kitab suci (Alkitab) & berbagai orang suci serta rasul2nya pun ada disitu.
Yang terpenting menurut saya kita dapat merasakannya dalam hati kita masing2. Kita dapat merasakan kedamaian, ketentraman jiwa & batin, semangat, dll yang mana itu semua sulit dideskripsikan secara langsung tetapi dapat dirasakan sadar/tidak sadar. Coba anda renungkan bagaimana mendeskripsikan Tuhan bersemayam dalam hatiku??? Bagaimana caranya Tuhan bisa ada dalam (organ) hati manusia? tidak masuk logika bukan?
atau Tuhan selalu memimpin tiap langkahku? Apakah Tuhan ada didepan saudara & berjalan bersama saudara? atau Tuhan memberikan wejangan/masukan/info tentang suatu rencana anda layaknya konsultan pribadi anda?
Sulit dimengerti tetapi itu semua yang terjadi. Anda akan menjadi pribadi yang rendah hati, suka menolong orang yang tertindas/lemah/kurang beruntung, hidup sesuai ajarannya, Apabila Tuhan bersemayam dalam hati anda.
Anda akan menjadi percaya diri dalam menjalankan tugas & kewajiban/ mengambil keputusan2 penting dalam pekerjaan & hidup anda semua itu bisa terjadi karena anda percaya bahwa Tuhan yang memimpin.
Saya ingin bercerita tentang keluarga saya, saya hidup di tengah keluarga yang cukup berada. Saya bisa melewati masa kanak2 sampai dewasa dengan berkecukupan (Thank's God) sampai saya menyelesaikan kuliah saya di salah satu univ swasta terbaik di Jakarta. Saya mempunyai 2 orang adik yang satu masih tahap menyelesaikan kuliahnya, yang satu lagi masih jauh perjalanannya, ia masih duduk dibangku SMP.
5 tahun terakhir keluarga kami berpenghasilan dari berwiraswasta dengan membuka toko litrik. Ide awalnya dari Ibu saya yang membuka salon terlebih dahulu, kemudian salon tersebut tutup karena Ibu mengganggap pemasukan semakin kecil & merasa capek karena harus mondar-mandir salon-rumah untuk mengurus kami yang masih kecil2 waktu itu. Ayah saya waktu itu masih bekerja di salah satu PMA.
Setelah itu baru kami membuka toko pertama kami sendiri yaitu Furniture. Waktu itu idenya adalah iseng daripada mengganggur kata ibu saya & Furniture tidak sulit untuk menjaganya karena barang2nya besar & terlihat mata, jarang orang nekat mencuri dengan menggotong2 sebuah bangku, meja atau jemuran ya kan? Waktu itu toko diurus Ibu saya sendiri sampai pada akhirnya Ayah berhenti bekerja & memutuskan untuk berwiraswasta sendiri, kemudian kami mulai melebarkan sayap dengan membuka 1 kios kecil lagi yang letaknya tidak berjauhan.
Usaha Furniture & kios kami cukup berkembang pada waktu itu sekitar tahun 95-96an. Kami membuka 2 ruko untuk Furniture dengan 2 mobil pick up & beberapa kuli serta 1 kios kecil. Tetapi usaha itu terus mengalami penurunan omzet sampai pada th 2004 Ayah & Ibu saya memutuskan untuk banting setir ke Alat Listrik sampai sekarang.
Seiring berjalannya waktu, bertambahnya pengetahuan & kedewasaan saya, saya perlahan2 juga mengikuti & membantu usaha ortu saya & makin mengerti permasalahan2 yang terjadi baik dalam keluarga, usaha, pribadi masing2, ekonomi, iman, kebiasaan2, dsb. 1-2 tahun terakhir Ayah-Ibu saya aktif di gereja & lingkungan, mereka aktif mengikuti Pendalaman Iman, Koor, KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi), Seminar2 dsb. Apalagi Ayah sekarang lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga & pikirannya untuk membaca Alkitab, renungan2 kegiatan gereja, koor dsb.
Disatu sisi saya senang karena mereka mencoba lebih mendekatkan diri pada Yang Kuasa & saya yakin Tuhan akan memulihkan keadaan ekonomi kami bahkan berkali2 lipat (I belief in GOD) walaupun sampai saya mengetik tulisan ini belum ada 1 petunjuk pun.
Disatu sisi saya sedih & khawatir mengenai perkembangan usaha kami ini, karena tiap harinya mereka makin sibuk dengan urusan greja ini & itu, toko menjadi sering tutup cepat karena acara gereja/pelayanan. Selama saya ada waktu pasti saya yang menggantikan, bila saya juga tidak sempat lalu bagaimana? sempat terbersit di pikiran saya untuk melarang mereka ikut acara greja/pelayanan, saya sempat berpikir apakah meneladani kitab suci & Tuhan Yesus harus seperti ini caranya???
saya sempat risih dengan kegiatan baru mereka itu, tidak jarang mreka menelpon saya dan berkata : "Nanti pulang cepat ya, mama ada PD!" atau "Jangan pulang malam2 ya, papa ada latihan koor!" seolah2 kegiatan greja/pelayanan dijadikan 1 alasan kuat yg tdk bisa di gugat karena untuk Tuhan???
Diluar itu saya melihat kurang ada perubahan berarti dalam kehidupan rumah tangga keluarga kami. Ayah tetap saja berpikiran dia paling benar dengan sikap otoriternya & pemikiran logisnya yang kurang menggunakan hati dalam pekerjaan yg dilakukan sedangkan Ibu selalu menggunakan hati & kurang menggunakan logika dalam setiap pekerjaan yg dilakukan. Sehingga apabila sudah duduk bersama & berbincang2 ujung2nya selalu bertengkar, sudah rumus pasti itu saya sudah hafal dan akhirnya saya yg jadi penengah.
malihat hal ini saya sempat berpikir juga kalau mereka melakukan pelayanan dsb semata-mata karena ingin memperoleh sesuatu imbalan, tidak tulus jadinya, saya merasa yg mereka lakukan percuma karena tidak ada wujud nyatanya dalam kehidupan sehari2, tidak ada cinta kasih spt yg Tuhan Yesus ajarkan???
Dr waktu ke waktu trus berjalan & bergulir seperti ini sampai sekarang.
Sampai suatu waktu saya berpikir bagaimana menyatukan logika & iman kepercayaan kita dalam kehidupan sehari-hari??? (saya sangat tertarik sekali dengan topik ini sampai akhirnya memutuskan untuk menjadikannya sebagai Username)
kalau dipikirkan & dijalankan sendiri2, saya rasa tidak akan ketemu titik tengahnya, karena memang ini membentuk garis masing2 layaknya garis dalam grafik yg bertemu di 1 titik kemudian bila ditruskan makin jauh 1 sama lainnya.
saya rasa ke2 nya harus berjalan beriringan jangan saling bersinggungan, dengan begitu ke2 nya akan tetap beriringan sesuai relnya masing2, akan membentuk keharmonisan, keselarasan & kesesuaian yg sejati.
Terkadang kita harus berpikir dengan logika & bertindak menggunakan hati (iman), tetapi terkadang kita juga harus berpikir dengan hati (iman) & bertindak dengan logika.
coba renungkan...
apabila saya ada salah kata yg tidak berkenan, komentar atau saran yg membangun silahkan ditambahkan.
Submitted by
logic@faith
on