Seandainya ada orang-orang jahat di suatu tempat yang secara membahayakan melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yang perlu dilakukan adalah memisahkan mereka dari kita semua dan menghancurkan mereka. Namun garis yang memisahkan kebaikan dan kejahatan dapat ditemukan dalam setiap hati manusia. Dan siapakah yang bersedia menghancurkan sepotong dari hatinya sendiri? (Aleksandr Solzhenitsyn, The Gulag Achipelago)
Solzhenitsyn memandang dunia dengan prihatin dan tidak melihat solusi hingga akhir hidupnya. Kepedihan eksistensial semacam ini dialami oleh humanis manapun di muka bumi. Kita menjumpainya dalam karangan-karangan mereka, berupa novel, puisi, film atau esai-esai.
BIla ada seorang ibu yang mendapati kedua putranya saling membenci dan tak juga melihat tanda-tanda perdamaian di antara mereka, demikianlah kira-kira paham kemanusiaan menyaksikan manusia saling menghancurkan.
Teman baik saya, seorang muslim dari keluarga santri, menyaksikan dengan getir perkembangan fundamentalisme di indonesia. Ia bilang, "Tidak mudah untuk seorang moralis melakukan tindakan politik yang perlu dengan cepat." Ia sedang berusaha menjelaskan mengapa begitu lama bagi kalangan moderat untuk menyadari yang sedang terjadi. Menurut Buku Ilusi Negara Islam, setelah melihat hasil pemilu legislatif yg lalu, barulah Muhammadiyah dan NU sadar bahwa mereka telah begitu banyak kecolongan.
Selama ini banyak orang berpikir bahwa fundamentalisme sudah terlokalisir: di Timur Tengah dan di Amerika Serikut. Di luar itu, dunia aman tenteram.
Namun seperti Solzhenitsyn bilang "Siapakah yang bersedia menghancurkan sekeping dari hatinya sendiri?"
Yesus bilang potong saja kakimu, tanganmu atau cungkil matamu jika menyebabkan dosa. Soal hati? Bisakah dipotong sebagian??