Maria hanyalah ibu Yesus di bumi.
Konsep Mariolatry pada awalnya dapat dilacak berasal dari Injil-injil Gnostik dan Ebionit. Konsep Mariolatry mendahului konsep Mariology. Konsep Mariology inilah yang kepunyaan Katolik Roma kuno dulunya.
Syukurlah bahwa alkitab sama sekali TIDAK mendukung konsep Mariology ini. Alkitab hanya menyatakan Maria dalam keadaan yang semestinya sebagai wanita yang mau untuk tunduk pada kehendak Allah dan pekerjaan Roh Kudus, tidak lebih tidak kurang.
Syukurlah para penulis (orang Kristen awal) pun menulis ke empat Injil dengan rasa malu yaitu menceritakan tentang Maria dengan apa adanya, tidak lebih tidak kurang dan tidak ada yang ditutupi. Bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus selagi dia masih belum hidup sebagai suami istri dengan tunangannya Yusuf. Hal yang sukar bagi wanita zaman itu.
Setelah ke empat Injil itu, nama Maria, ibu Yesus hanya disebut sekali saja. Itupun hanya di sebut ibu Yesus saja BUKAN BUNDA ALLAH, tidak lebih tidak kurang. Bahkan saya sukar menemukan pengakuan Paulus, Petrus, maupun yang lainnya mengenai Maria sebagai bunda Allah di dalam surat-surat mereka. Kecuali kalau anda mencari ‘di tempat lain’!
Maria sebagai perawan suci? Saya sukar menemukan ‘IDE KEGELAPAN’ ini di dalam surat-surat para rasul. Yang ada hanya ini gereja sebagai perawan suci untuk Kristus (2 Kor.11:2 ; Why.14:4) . Di dalam tulisan Paulus mengenai agung rahasia ibadah (I Tim.3:16) pun tidak disebut nama Maria (yang masih perawan suci?). Kenapa orang-orang menambah-nambahkan dengan apa yang tidak dinyatakan alkitab dengan eksplisit? Itulah pemikiran manusia yang gelap di abad kegelapan.
Syukurlah Maria (di Alkitab) sendiri tidak pernah sekalipun menyatakan dirinya Bunda Allah (Luk.1:38, 47). Dia tidak menyatakan diri tanpa dosa sama sekali, hanya manusia (yang gelap) yang mengatakan sebaliknya. Syukurlah dia tidak dropping hints sedikitpun tentang apapun mengenai dirinya yang mana orang-orang sekarang begitu hormat sampai menjadikannya ratu surga, perawan yang suci (terus-menerus) dan BUNDA ALLAH.
Elisabeth yang berkata kepada Maria di alkitab : “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? (Luk.1:43)” hanya bermaksud sebatas pengertian bahwa Maria mengandung bayi Yesus yang adalah Tuhannya, BUKAN suatu pengakuan posisi Maria yang menjadikan dia ‘lebih tinggi’ dari posisi Tuhan Yesus. Jadi TIDAK LEBIH TIDAK KURANG.
Bila Maria di alkitab yang sepakat dengan Firman Tuhan dapat berkata sekarang ini, maka pastilah dia akan menegur keras orang-orang yang berlebihan (dan yang gelap) supaya tidak menambah-nambahkan Firman Tuhan atau supaya jangan menekankan apa yang tidak ditekankan Alkitab.
Maria di Alkitab tidak memberikan kesan tersirat bahwa dia bunda Allah atau bahkan perawan tanpa dosa, tidak untuk sesaat pun. Tidak tergoda sedikitpun karena memang tak terpikirkan olehnya. Manusia (yang gelap, cnth Pope Pius IX) yang berpikiran sebaliknya. Maria di alkitab sama seperti orang kudus lainnya memastikan bahwa pandangan harus tetap terpaku pada Sang Anak Allah saja, Raja segala raja Tuhan segala tuhan. Maria di alkitab BERSIKAP SAMA dengan saudara-saudara Yesus yaitu tidak meng-klaim posisi yang tidak semestinya namun tetap melihat bahwa mereka hanyalah hamba Tuhan saja.
Syukurlah bahkan Yesus sendiri tidak sedikitpun menunjukkan favoritisme terhadap Maria, ibu-Nya selama di bumi (Mat.10:35 ; Mat.12:46-50 ; Luk.2:48-49 ; Yoh.19:26 ; Yoh.20:15-17) Yesus bahkan tidak sedikitpun memberikan hints bahwa Maria adalah ibu-Nya sejak di bumi sampai kekekalan (Yoh.19:26). Manusia (yang gelap) yang berkata sebaliknya.
Syukurlah Maria tidak 'sibuk' dropping name bahwa dia ibu Yesus , melainkan dia submit kepada para murid Yesus yang lain untuk berdoa bersama-sama (Kis.1:14). Syukurlah semua itu tidak lebih tidak kurang dicatat di alkitab.
Saya bersyukur untuk alkitab yang hanya mengarahkan pandangan saya kepada Tuhan Yesus saja, bukan kepada yang lain siapapun manusia itu. Saya percaya alkitab minus nothing plus nothing dalam hal siapa itu Maria. Akhirnya juga saya tidak memusingkan atau memikirkan Maria sama sekali, sama seperti saya tidak memusingkan para rasul dan nabi karena mereka hanya hamba-hamba Tuhan yang melakukan kehendak-Nya di masa mereka dan menunjuk kepada Kristus saja.
Maka doktrin Maria Bunda Allah atau Perawan suci adalah tidak alkitabiah dan bahkan ANTI-Alkitab! MEMBUANG Mariology TIDAK AKAN membuat kita menjadi tidak paham atau salah paham mengenali Kristus! Pengenalan Kristus TIDAK MEMERLUKAN BANTUAN Mariology atau doktrin lainnya. Anda bisa langsung (direct) kepada Yesus sang Raja.
Membuang sama sekali konsep Mariology akan membebaskan orang dari salah satu akar kegelapan penyembahan berhala kuno (Mariolatry). Maria di alkitab JAUH BERBEDA dengan Maria di dalam Mariology yang muncul dari Mariolatry!
Maria (--Perawan suci, Bunda Allah, tanpa dosa asal, perantara, dst) yang dari mariology adalah takhayul gelap! Maria yang di alkitab adalah CONTOH orang yang percaya , submit dan bekerja sama dengan Allah, tidak lebih tidak kurang!
Konsep MARIOLOGY adalah bagian lain dari Injil yang lain yang mana Paulus memperingatkan dengan keras di dalam surat Galatia :” Gal 1:8-9 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”.
Jadi sewaktu kita ‘mengembalikan’ Maria kepada posisi yang sewajarnya, maka iman kita tetap menjadi ’sederhana’ dan terfokus pada Seseorang saja, Tuhan Yesus. Anda tidak perlu para santa dan santo (buatan manusia yang gelap), anda perlu Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan!