
“Ya tidak bisa. Cap tikus itu ‘kan beda jauh dengan cocktail.”
“Bedanya apa? ‘Kan sama-sama minuman keras?”
“Sampeyan ini gimana seh. Tanpa meminumnya kita bisa tahu bedanya waktu waiter menyodorkan nota tagihan. Harganya! Uang pembeli segelas cocktail bisa untuk beli cap tikus buat cuci muka.”
“Lalu bagaimana menangkal pengaruh negatif cap tikus?” ia mencecar.
“Minum Kamput, kambing putihnya Medan,” jawab saya yang malah membingungkan si penanya. Memang saya tidak mengalamatkan jawaban ini kepadanya, tetapi kepada orang yang ada di seberang saya. Ia tampak lunglai seperti habis lari maraton tiga hari tiga malam. Teman di sebelahnya sedang mengipasinya sambil membaca mantera pembangkit tenaga, memanggil pulang semangat yang ngelencer pergi entah ke mana.
“Kamu asal dari mana?” tanya saya kepada pasien itu.
“Medan,” jawabnya singkat.
“Medannya di mana? Dalam kota, pinggir kota atau luar kotanya?”
“Siantar,” singkat lagi jawabnya seakan-akan lidahnya juga terlanda asam urat.
“Heee semua orang tahu Siantar itu bukan Medan. Pematang Siantarnya dalam kota atau desanya. Misalnya Bah Jambi atau Kampung Jawa?” kembali saya bertanya seperti sedang mengisi formulir jati diri teroris.
“Sumber Jaya,” jawabnya.
“Oooh,’ saya berguman sambil mewaspadai serangan balik. Mengapa? Karena itu nama kelurahan yang berjarak hanya 5 km dari pusat kota Siantar. Harusnya ia menegaskan, “Jangan menghina. Aku ini anak kota, bukan anak desa.”
“Tahu desa Sei Rampah?” tanya saya setelah tahu ia tidak bakalan melakukan serangan balik.
“Tidak tahu.”
“Kalau begitu kamu juga pasti tidak tahu rasanya minuman keras Kamput ,” saya menekannya. “Lalu bagaimana kamu bisa tahan bertarung melawan pendekar mabok yang bersilat sembari nenggak Kamput? Dia pernah lama tinggal di Medan. Di Medan, anak kecil saja ada yang sudah mencicipinya. Apalagi lawanmu itu.”
Karena melihat wajah Joli menyiratkan pernyataan “kon mbujuki” saya bercerita.
Suatu ketika saya kedatangan top executive perusahaan yang berasal dari Inggris. Agaknya ia suka melihat pelabuhan sehingga setelah mengunjungi beberapa pasar di kota Medan, ia meminta saya membawanya ke Belawan. Di Pasar Belawan ketika kami ada di dalam sebuah toko, seorang anak usia SD membeli sebotol Kamput. Penjualnya menuangkan isi botol itu ke dalam sebuah kantong plastik tranparan dan memasukkan sebatang sedotan. Sementara itu saya sebagai pemandu wisata menjelaskan kepada orang Inggris ini apa itu Kamput.
“Anak sekecil ini sudah minum alkohol? Di siang seterik ini?” tanyanya heran.
“Ah, tidak. Itu untuk bapaknya,” jawab saya yang berprinsip bad or good is my country.
Anak ini menyodorkan uang dan minta ditambah coca cola. Si penjual menuangkan sebotol minuman yang diminta ke kantong yang sama. Anak ini kemudian pergi dengan sepedanya.
Kami berpamitan. Baru sejenak saya mengemudikan mobil, si Inggris berteriak-teriak histeris.
“Pur, look! Look over there! Anak itu bersepeda sambil menyedot minuman yang tadi dibelinya.”
Saya menoleh ke kiri. Kurang ajar! Betul katanya. Saya mencoba berkilah, “Mungkin saja coca cola telah menetralisir kadar alkohol Kamput sehingga bisa dikonsumsinya dengan aman. Do you want to prove it?”
Ia terbahak. “No way. Alkohol tetap saja alkohol. Orang Indonesia memang pemberani dan kuat.”
Ah, ia tak tahu saya juga kuat. Dinding dalam lambung dan usus saya berlapis formalin sehingga bisa makan di pinggir jalan berdebu tanpa kena muntaber. Sekarang di negerinya mungkin ia sedang terkagum-kagum membaca berita internet di Indonesia cicak saja berani melawan buaya. Kalau ia tersesat di Sabdaspace akan makin keras decak lidahnya, “Bukan main! Negeri ini menyimpan banyak orang pintar yang tanpa harus bergelar doktor mampu berpikir sama kritisnya dengan teolog.”
– o –
“Lalu kalau lawan kita mabok Kamput, kita harus minum apa?” tetangga saya kembali bertanya. Ia memang pintar sehingga tahu saya mau lari dari main topic. Namanya meroket di situs ini dalam satu hari karena berhasil menggalang masa untuk merepotkan pendekar Riau Daratan.
Saya melambai tangan ke seberang. “Kau minta tolong Joli membelikan satu galon ciu Bekonang.”
Tetapi Joli salah tafsir. Bergegas ia beranjak pindah ke sebelah saya dan menyodorkan sebundel print-out sambil berkata, “Kamu baca ini. Blog-blog terakhirnya berisi ide-ide baru yang perlu dikaji oleh S3 teologi.”
“Tak usah,” jawab saya. “Saya lebih tertarik membaca komentarnya dalam comment-vs-comment. Ibarat orang melakukan penginjilan, semua membawa konten yang sama. Tetapi setiap orang menyampaikan konten itu dengan caranya masing-masing. Setiap blogger baru di SS selalu berujar, ‘aku telah mengenal kamu wahai penyesat.’ Really? Saya sangat meragukan. Saya lebih mudah mengenal ‘jeroan’ pendekar mabok ini dari komen-komennya yang bertebaran di blog-blog orang lain. Saya perlu lebih dari 6 bulan untuk menyusun potongan-potongan data ini menjadi sebuah gambar. Tidak utuh, tetapi saya sudah bisa mendapat sebuah gambar kabur yang membuat saya patut menyapanya dengan panggilan ‘Empek’.”
Saya penjilat? Tidak ada alasan yang menekan saya untuk menjilat kakinya. Saya tidak punya hubungan bisnis dengannya. Saya tidak pernah bertatap muka dengannya. Apalagi ditraktirnya makan.
Ketika ada yang meributkan pernyataannya yang mengatakan “manna itu telur burung puyuh” saya heran. Blogger ini penyesat! Wow, purnomo juga akan dilabel penyesat bila ia membaca artikel saya “Biarlah Allah bekerja” di mana saya berkisah mengatakan kepada anak-anak Sekolah Minggu bahwa Abraham disuruh Tuhan menyembelih Ishak anaknya di belakang rumahnya. Di kelas remaja saya menceritakan ada VCD yang membahas mukjizat pembelahan Laut Kolzom dari disiplin ilmu pengetahuan. Lembaga itu membuktikan bahwa kadang-kadang di situ dulu ada angin begitu kencang sehingga membelah air laut. Jika ini benar, apa kesimpulannya? Mereka sendiri yang menjawab, “Mukjizat yang terjadi adalah orang-orang Israel bisa berjalan dalam angin yang begitu dahsyat tanpa diterbangkan ke angkasa.”
Saya juga tidak ragu menjelaskan bahwa Sungai Jordan sering terputus aliran airnya untuk beberapa waktu karena tebing di daerah hulunya runtuh. Yang sulit dinalar akal sehat adalah bagaimana tebing itu runtuh tepat pada saat kaki para iman menyentuh air sungai itu.
Saya tidak ragu bercerita kepada remaja asuhan saya bahwa menurut penelitian geologi tanah di bawah Sodom Gomora purba pernah mengandung belerang cair yang siap meledak sewaktu-waktu karena kumulasi tekanan. Ledakan ini sangat hebat dan kadar belerang sangat tinggi sehingga materi yang terlontar ke langit masih membara ketika terjun kembali ke bumi. Dengan informasi ini kekaguman mereka akan kemahakuasaan Allah tidak berkurang.
Jadi, bagaimana menyikapi pendekar mabok ini? Empek yang hobi baca buku kuno pasti usul, “Sebelum berperang kenalilah terlebih dahulu lawanmu.” Purnomo melanjutkan, “Setelah itu baru putuskan tetap maju laga kambing atau duduk semeja main catur.”
Tetapi mana ada yang sempat meluangkan waktu mencari tahu tentang dirinya bila sudah merasa dilecehkan terus menerus dengan pernyataannya yang senada dengan sebuah iklan minyak goreng, “Orang cerdas pakai minyak gorengku.” Ini memang strategi pemasaran favoritnya. Yang tidak sependapat berarti tidak cerdas, bodoh, goblok, tolol, idiot. Maka kita bersegera mengerahkan segenap daya dan bila perlu massa untuk memukulinya. Bagi seorang penyesat tidak perlu lagi sebuah wawancara. Jika seorang jelas terbukti mencuri ayam untuk apa ditanya mengapa ia mencuri? Jika semua orang benar berkiblat ke selatan sudah jelas dia yang berkiblat ke utara adalah penyesat. Itu juga yang dulu ada dalam pikiran saya sampai suatu kali saya terbahak-bahak ketika orang ramai-ramai mengejarnya ke utara diam-diam ia berbalik ke selatan sehingga pengejarnya kecele. Sebaiknya ada larangan di situs ini yang tidak memperbolehkan blogger mengupdate atau mengedit konten blognya. Repot kalau ada blogger berbelok tanpa menyalakan lampu sein sementara yang membuntutinya sudah terlanjur panjang berlerot.
Tetapi apa yang muncul dalam benak Anda bila membaca sekilas info ini? Ia tidak konsisten, ia tidak punya prinsip, bahkan ia gila. Hari ini bilang tidak percaya mukjizat, minggu depan mati-matian bilang aku percaya mukjizat. Dalam blognya ayat-ayat Alkitab dipotong-potong seperti daging sapi dijual eceran. Dalam komentar di blog orang lain ia membahas Firman sesuai dengan standar sekolah teologi yang diakui banyak gereja dengan apik, jelas dan hormat, sampai-sampai ada yang mengira ia itu The Fat Sam dalam nickname lain.
Saya yakin ia tidak gila. Kalau pura-pura gila, mungkin. Bukankah orang gila juga punya daya tarik yang tak kalah dengan daya tarik orang jenius?
Kalau Anda datang ke Semarang dengan kereta api, Anda akan turun di Setasiun Tawang yang sampai sekarang belum berubah nama menjadi Setasiun Tawangmangu. Di seberang setasiun ini ada folder, kolam besar untuk penampungan air banjir atau rob. Dulu, itu lapangan sepakbola terbuka. Pada hari-hari tertentu saya dengan teman-teman naik sepeda ke situ untuk menonton sepakbola. Di dekatnya ada markas para pemainnya, Rumah Sakit Jiwa. Ketika mereka bermain bola, orang-orang yang melintasi jalan sekitar lapangan banyak yang berhenti untuk menonton. Tidak ada satupun aturan persepakbolaan yang tidak dijungkirbalikkan di sini. Setelah menangkap bola dengan manis, kiper meletakkan bola di tanah, lalu berbalik dan tiba-tiba menendang keras bola itu ke gawangnya sendiri. Ia melompat-lompat kegirangan. Ia sedang mengaplikasikan ajaran kasihilah musuhmu. Teknik total football juga mereka lakukan dengan paripurna. Semua pemain ramai-ramai mengarahkan bola ke sebuah gawang. Setelah berhasil membobol gawang dengan terlebih dahulu menelikung kipernya, mereka semua menggiring bola ke gawang lainnya. Ini efisiensi tingkat tinggi. Dua kesebelasan bisa mencetak gol dalam jumlah banyak dalam waktu singkat dengan strategi kolaborasi.
Seperti yang kita lihat ditivi, selesai bertanding dua kesebelasan biasanya saling bertukar kaos. Mereka juga mengikuti tradisi ini. Tetapi mereka tidak mengekor budaya asing. Mereka bertukar celana. Dan penonton tahu diri karena mendapat hiburan unik ini. Mereka memberi bungkusan makanan kepada para pemain. Ada juga yang memberikan uang. Seorang pemain favorit penonton berkata, “Minggu depan datang lagi Mas ke mari nonton kami main. Hari ini kami menaklukkan Aceh Milan. Minggu depan kami akan menghadapi Aceh Pidie.”
Strategi yang dipakai oleh blogger ini seperti yang dulu dilakukan oleh Pendeta Mabuk alias Mang Ucup yang nama aslinya Yusuf Randi pakar komputer yang pada tahun 1980-an namanya hampir setiap hari dimuat di koran seperti selebriti. Semua orang tahu apa yang terjadi bila seorang pendeta mendadak berkata kepada sidang penatuanya bahwa Yesus bukan satu-satunya juruselamat dunia. Ia dengan bersemangat memaparkan alasan-alasannya dan ayat-ayat Alkitab yang mendukung. Sidang gempar, pasti. Kemudian, para penatua berusaha meyakinkan beliau bahwa pendapatnya itu salah dan dengan pengetahuan yang dimiliki berusaha membawa pendetanya ke jalan yang benar dan baku. Sementara itu sang pendeta mengangguk-angguk dan sesekali menyanggah mereka. Di akhir pertemuan beliau berujar, “Terima kasih atas argumen-argumen yang telah Anda sekalian berikan. Bapak Ibu telah membantu saya menyusun materi pelatihan penatua untuk tahun depan.”
So what? Kalau Anda minum jeruk keprok untuk menghadapi orang mabok Kamput, itu salah besar. Minumlah ciu Bekonang sehingga Anda bisa menghadapinya dengan hahahihi, tanpa harus sakit hati. Tetapi di mana kamu sekarang? Apa sedang mabuk ciu sendirian?
Sebentar! Apakah purnomo sekarang jadi vulgar karena menganjurkan saudara seimannya minum miras? Apakah purnomo sedang jadi pembisik atau pembusuk? Tidak! Jangan berprasangka buruk. Minum anggur itu tidak haram bagi orang Kristen karena buktinya sampai sekarang perjamuan kudus masih mempergunakan anggur bukan air aki. Kalau Nuh mabok karena minum anggur itu karena ia belum tahu seberapa banyak anggur bisa diminum tanpa mabuk karena anggur adalah tanaman baru yang Tuhan tambahkan setelah banjir besar. Sayangnya buah durian yang juga tanaman baru hanyut jauh dan mendarat di Asia Tenggara. Kalau saja buah durian tersangkut di pegunungan Ararat, pasti setiap perjamuan kudus kita minum jus duren.
Apa saya menulis blog ini sambil mabuk? Tidak! Saya tidak minum miras. Saya tadi ke Muntilan dan beli tape ketan 1 kilo. Saya menghabiskannya sambil menulis blog ini. Makan tape ketan tidak berdosa, bukan? Kalau ada mashab yang mengatakan berdosa, mudah-mudahan bukan dosa yang membawa maut.
Salam.