
CAKAP PEMBUKA
Melihat di Sabdaspace (SS) banyak tulisan mengenai Adam, Iblis, dan lain-lain, yang akhir-akhir ini semakin tampil sangat kontroversial, bahkan ada tulisan yang cenderung menyesatkan, maka pada awal Tahun 2010 ini, yang masih dalam suasana Tahun Baru ini, saya tergerak untuk membuat renungan tahun baru, sebagai upaya untuk meluruskan pengertian, siapa tahu masih berpengaruh pada pengertian para pembaca.
KAIN ANAK ULAR / ANAK IBLIS?
Sebenarnya, secara jasmaniah, Kain itu adalah anak hasil perkawinan antara Adam dan Hawa. Sangatlah tidak beralasan jika menyebutkan Hawa itu selingkuh dengan ular, lalu memperanakkan Kain. Pendapat ini tidak dapat diterima, baik secara ilmiah, apalagi secara Alkitab.
Kejadian 4 : 1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."
Namun, dalam alkitab dikatakan juga bahwa Kain itu berasal dari si Jahat (iblis)
I Yohanes 3 : 12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.
Berdasarkan ayat tersebut diatas, Kain itu, secara rohani adalah anak iblis.
Hawa berdosa sehingga anaknya lahir menjadi anak iblis, karena bapanya adalah iblis.
Apa dosa Hawa yang Fatal itu?
Kejadian 3 : 1 - 3
3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
Ular sendiri sudah mulai menipu Hawa dengan membelokkan Firman pada ayat 1, yang mengatakan "semua pohon"/tanpa kecuali, tidak boleh dimakan.
Hawa sendiri tidak menyimak Firman Tuhan sehingga Hawa menambah Firman Tuhan dengan kata "JANGAN RABA".
Mari kita bandingkan dengan Firman (ASLINYA) yang disampaikan oleh Tuhan :
Kejadian 2 : 16- 17
2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Dari kedua kutipan ayat Firman Tuhan tersebut diatas, nampaklah SIFAT DUSTA yang "disuntikkan" oleh iblis kepada Hawa.
Pada Kejadian 3 : 1, ular (gambaran iblis) SUDAH BERDUSTA mengutip ayat secara salah yaitu "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
Padahal Firman Tuhan aslinya dalam Kejadian 2 : 16-17 menyebutkan : "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas"
Pada Kejadian 3 : 3, Hawa juga sudah mulai berdusta, (mungkin karena dia mendengarkan si PENDUSTA/Ular yang sedang mengutip Firman)
Inilah kesalahan Hawa dalam mengutip Firman dalam Kejadian 3 : 3 : "Jangan kamu makan ataupun RABA buah itu, nanti kamu mati." padahal dalam aslinya (Kejadian 2 : 17),tidak menyebutkan kata-kata "RABA". Dalam hal ini, Hawa sudah berdusta karena menambah Firman Tuhan.
Amsal 30 : 5 - 6
30:5 Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya.
30:6 Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.
Dalam hal ini, Hawa sudah terlibat pelanggaran Firman Tuhan ini, maka Hawa layak ditegur dan layak dianggap sebagai PENDUSTA.
Jika sudah dianggap pendusta, maka layaklah Hawa disebut sebagai pendusta, dan iblislah yang menjadi bapanya.
Yohanes 8 : 44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.
Setelah Hawa "resmi" menjadi anak iblis karena dustanya", berlanjutlah
Hawa berhubungan dengan Adam dan lahirlah Kain (Kejadian 4 : 1).
Tentunya, anak yang dikandungnya adalah cucu iblis, karena Hawa sudah "resmi" menjadi anak iblis (berdasarkan Yohanes 8 : 44).
Apa kaitannya renungan diatas dengan Tahun Baru?
Tahun baru adalah Hari Raya orang Kristen, itu sebabnya, seharusnya semua orang Kristen merayakan tahun Baru di gereja.Tahun baru itu adalah awal tahun MASEHI.
Sejenak, kita beralih pada cerita tahun masehi :
Pemberian nama TAHUN MASEHI itu didasarkan pada awalnya, Yesus melatih muridnya sebanyak 12 orang, yang walaupun kebanyakan buta huruf, tetapi mereka sudah melakukan kegerakan besar yang mengubah dunia, mulai dari kegerakan besar yang dilakukan oleh para Rasul (murid-murid) yang tercatat dalam Kisah Para Rasul.
Apa kaitan Tahun Baru dengan ulasan diatas?
Terlepas dari kontroversi mengenai tanggal berapa sebenarnya hari Natal itu, tetapi orang Kristen di dunia ini sudah menyepakati bahwa tanggal 24 Desember itulah Hari Natal.
Tahun baru tanggal 1 Januari adalah hari KEDELAPAN sesudah tanggal 24 Desember.
Ada apa dengan Hari ke delapan?
Lukas 2 : 22 - 35 (disajikan disini sampai ayat 24 saja)
2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Pada Lukas 2 : 22 - 35 tersebut tercatat, bahwa pada hari kedelapan itu dilakukan 3 (tiga) hal penting :
- Pentahiran bagi Maria setelah melahirkan (sesuai Imamat 12 : 6 - 8) sekaligus pemberkatan/penyerahan Yesus.
- Yesus disunat
- Nama yang diberikan oleh Malaikat kepada Maria ketika belum mengandung, yaitu, nama "Yesus" diletakkan.
Yang perlu kita Bahas saat ini hanya butir 1, karena poin itulah yang berkaitan dengan topik pembahasan blog ini.
Setiap ibu yang baru melahirkan, adalah najis selama 7 hari, sampai ia ditahirkan pada hari ke delapan (Imamat 12 : 1 - 3).
Pada upacara pentahiran ini,imam (dalam hal ini Maria) itu harus mempersembahkan korban, yaitu korban penebus dosa (Imamat 12 : 7).
Korban Penebus Dosa itu, untuk saat ini sudah digantikan oleh Yesus yang tersalib di kayu salib, untuk menggantikan semua korban dalam Hukum Taurat.
Sekarang kita tinggal mengakui dosa kita, maka korban Kristus sudah cukup untuk membayar dosa kita.
Seharusnya, yang harus dilakukan oleh Hawa, setelah ia berdosa adalah "MENGAKUI DOSANYA dan minta ampun", seharusnya bukanlah malah menyalahkan ular itu. Kalau demikian, itu namanya mengeraskan hati.
Raja Daud sudah menuliskan bahwa dalam dosa dikandung ibu.
Mazmur 51 :7 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Sedangkan Maria yang melahirkan Yesus, yang seharusnya tidak berdosa, tetap harus mempersembahkan korban pendamaian.
Jika Hawa langsung mengaku Salah ketika ditanya oleh Tuhan dalam Kejadian 3 : 13, seharusnya Kain itu bukanlah disebut berasal dari si jahat.
Sama halnya dengan Farisi dan Saduki, mereka mau juga dibaptis, tetapi TANPA DIDAHULUI PERTOBATAN, maka Yohanes pembaptis menolaknya, dan Yohanes Pembaptis menamai mereka sebagai keturunan ular beludak (Matius 3 : 7 -8).
Marilah kita perhatikan hal ini, untuk kepentingan masa depan anak kita, pada saat penyerahan anak atau pemberkatan anak, marilah kita mengakui segala dosa pelanggaran kita. Mungkin saja pertengkaran suami istri saat anak itu dikandung, adanya keinginan menggugurkan anak, adanya perselingkuhan, adanya kekecewaan istri kepada suami pada saat mengandung anak itu,
Jangalah biarkan anak itu menjadi keturunan ular beludak. Biarkanlah anak itu menjadi keturunan ilahi.
Maleakhi 2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.
Semoga Tuhan menguatkan kita untuk menjunjung Tinggi Pengorbanan Kristus di kayu salib. Janganlah sampai hati kita membiarkan Tuhan Yesus menderita di kayu salib, sementara kita tetap mengeraskan hati tanpa mengakui dosa dan kesalahan kita.
Amin.
Tuhan Yesus memberkati
NB (RENUNGAN):
I.
Janganlah mendengarkan orang-orang yang salah mengutip Firman, seperti Hawa mendengarkan iblis, apalagi mendengarkan orang yang dengan sengaja membelokkan Firman dengan cara menambah atau mengurangi (PENDUSTA).
Disini Farisi, Saduki dan para Imam, menambah dan mengurangi Firman Tuhan, Pantas saja mereka disebut oleh Yohanes pembaptis sebagai keturunan ular beludak.
Yesaya28:13 Maka mereka akan mendengarkan firman TUHAN yang begini: "Harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini tambah itu!" supaya dalam berjalan mereka jatuh telentang, sehingga luka, tertangkap dan tertawan.
Amsal 30:6 Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.
II
Janganlah melakukan keinginan-keinginan iblis, misalnya "Berbicara kasar-kasar", karena berbicara kasar adalah anti terhadap KASIH. Kalau Kasar sifatnya memecah, sedangkan kasih sifatnya untuk menyatukan TUBUH KRISTUS.
Yohanes 8 : 44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.