Aku adalah keangkuhan, saudara dari ketamakan dan kekasih dari egois
Aku menggelar barang daganganku bersama sanak saudara dan kekasihku
Anak-anak manusia adalah langgananku
Mereka membeli dan sering kali mencuri tanpa malu
Setiap hari ku duduk di tenda tempatku berjualan
Melayani para pembeli bodoh yang ketagihan mampir di lapak kami
Mereka bukan saja membeli barang daganganku
Mereka juga datang untuk membeli barang dagangan saudara-saudaraku
Kekasihku adalah pedagang paling wahid di pasar kami
Tapi kami bukan satu-satunya pedagang di sini
Banyak pedagang lain yang menggelar lapak di sebelah sana
Tapi mereka menjual barang murahan dan sampah
Dagangan mereka tidak laku seperti daganganku dan saudara-saudaraku
Mereka berteriak-teriak dengan putus asa mencoba menjual dagangan mereka
Tapi anak-anak manusia malah menendang meja-meja mereka
Dan tidak sedikit yang menginjak-injak sampah yang mereka sebut 'barang berharga'
Aku dan saudara-saudaraku suka menertawakan mereka
Kami menonton dan terpingkal-pingkal bersama anak manusia yang lain
Pedagang yang paling kunajiskan adalah rendah hati
Cuih! Dia benar-benar tidak pantas disebut pedagang
Penampilannya kumal dan meja dagangannya plontos
Sangat berbeda dengan penampilan lapak kami yang warna warni
Meja dagangan kami pun penuh barang berkelas dan mewah
Suatu hari seorang anak manusia mampir menemui rendah hati
Mereka saling berangkulan dan tertawa bersama
Seperti dua sahabat yang lama tidak bertegur sapa
Anak manusia itu akhirnya mati
Dipakukan di sebatang kayu oleh saudara-saudaranya
Anak-anak manusia yang buta
Anak-anak manusia pecundang
Anak-anak sundal, pencuri dan pembunuh
Pelanggan-pelanggan kesayanganku
"Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya:
Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung." (Matius 11:16-17)