Tersebutlah kisah, di sebuah pasar. Para pedagangnya berkumpul setelah pasar itu tutup.
"Saudara-saudara, pasar kita ini sudah cukup lama berdiri," kata mandor pasar. "Omzet transaksi yang terjadi tiap hari juga cukup fantastis. Hanya saja setelah pasar ini terpaksa ditutup beberapa hari yang lalu karena ada kerusakan teknis, nilai transaksinya memang sempat menurun drastis."
Para pedagang mulai gelisah mendengar ocehan mandor pasar. Bagi mereka, waktu adalah uang. Ucapan yang bertele-tele merupakan pemborosan.
"Saya mengumpulkan kalian untuk satu tujuan, yaitu menggagas peran pasar ini untuk menggairahkan perekonomian kota kita," sambung sang mandor. "Sumbangsih apa yang bisa dilakukan oleh pasar ini terhadap kota ini? Mari kita pikirkan bersama."
"Saya setuju pak Mandor," sahut pedagang kain yang bermuka bulat, "tapi bagaimana cara menyepakati peran yang akan kita ambil?"
"Saya usul, bagaimana kalau pertama-tama kita membahas tata cara memberikan usul," usul pedagang daging dengan suara berat.
"Oke, siapa yang punya usul untuk membuat mekanisme tata cara membuat usulan?" tanya mandor pasar.
Maka ramailah rapat itu dengan berbagai usulan tentang cara membuat mekanisme usulan. Ada yang mengusulkan supaya lebih dulu membuat mekanisme membuat usulan untuk mengajukan usulan cara membuat mekanisme usulan. Dan debat itu semakin berlarut-larut.
***
Setelah mekanisme pemberian usulan disepakati, agenda rapat berikutnya adalah membahas tata-tertib dalam membahas usulan.
"Saya usul, supaya dilarang menggunakan kata-kata yang kasar," teriak pedagang obat.
"Apa definisi kasar? Definisi itu relatif dan tergantung konteksnya. Biarkan orang berekspresi tanpa diatur-atur," sergah pedagang alat-alat komputer.
"Dasar orang liberal! Kalau hidup manusia tidak ada aturannnya, maka dunia ini akan kacau balau," sahut pedagang obat sengit.
"Hai, kamu pedagang baru. Jangan belagu di sini, ya!"hardik penjual air keliling, "Jangan sok ngatur kelakuan kami di sini. Kami sudah bertahun-tahun jualan di sini dengan kelakuan seperti ini. Mestinya kamu yang menyesuaikan diri dengan lingkungan barumu."
"Tidak ada peraturan yang memberi hak istimewa pada orang-orang lama," sahut tukang sulap membela penjual obat, "semua orang punya hak yang sama di sini."
Demikianlah perdebatan itu berlangsung sampai tengah malam. Semua pedagang kelelahan, lalu membubarkan diri. Tinggal mandor pasar yang terduduk termangu. Tidak ada keputusan yang diambil soal peran pasar terhadap perekonomian kota.
***
Pertengkaran kita soal perilaku dan tata cara berdebat di pasar SS ini sudah memasuki zona kontraproduktif. Bayangkan berapa bandwith yang terbuang percuma untuk komentar-komentar kosong? Berapa hati yang terluka untuk debat yang tak berujung dan berulang-ulang? Berapa waktu terbuang sia-sia untuk membaca dan mengomentari "pepesan kosong"?
Ayolah sudahi atmosfer negatif ini! Tulislah sesuatu yang lebih berguna. Bertengkar, berdebat, berargumentasi boleh-boleh saja. Itu justru dianjurkan karena manusia memang tidak bisa berpikir secara sempurna. Dibutuhkan polesan pemikiran orang lain. Akan tetapi jika perdebatan itu sekadar memuaskan ego dan keinginan untuk menaklukkan orang lain, maka pada akhirnya semua pihak akan menjadi pecundang.
Alangkah indahnya jika enerji untuk menaklukkan itu dialihkan untuk merumuskan tulisan-tulisan cemerlang, melalui proses perenungan yang tenang dan kerinduan untuk memberkati Indonesia.
***