Submitted by psikologila on
Daud pernah berpura-pura gila. Paulus juga pernah dibilang gila. Bahkan, Yesus pun disangka tidak waras oleh kaum-Nya sendiri. Aku yang bukan siapa-siapa ini juga tidak akan keberatan kalau dibilang gila. Kulihat dulu gila dalam konteks apa?

 

Frase "sakit jiwa" itu sendiri memancing perhatianku. Awalnya, aku mencari kata "sakit" di kamus, tepatnya kamus SABDA. Kata "sakit" digunakan untuk menggambarkan kondisi tubuh atau bagian tubuh yang tidak nyaman, misalnya sakit kepala, sakit perut, sakit pegel-linu dll. Dari definisi itu aku jadi bertanya-tanya: apakah jiwa itu merupakan bagian dari tubuh sehingga bisa disebut "sakit jiwa"? Apakah batas dari "sehat jiwa" dan "sakit jiwa" itu?

 

Banyak orang merasa dirinya baik-baik saja. Contohnya saja, si Juminten yang merasa okeh-okeh saja, setelah sempat merenungkan masalah kegilaan ini. Dia ragu apakah dia punya bibit-bibit kegilaan. Kemudian dia merenung,

 

"Aku bergaul dengan Iin, menonton film yang sama, membaca buku yang sama, bergaul dalam komunitas yang sama. Aku punya pacar dan sudah berjalan selama 5 tahun, bentar lagi nikah. Aku baik-baik saja pastinya(?) Tidak seperti orang-orang yang di pinggiran jalan itu yang berpikiran aneh-aneh, berpakaian lucu, atau malah tidak berpakaian sama sekali. Atau seperti orang-orang yang autis, anti-sosial, paranoid, phobia, homoseks atau hyperseks di klub-klub X yang perilaku, pandangan dan hidupnya  tidak normal, gila, miring, terkutuk, bla..."

 

Bla... bla... bla... sampai kegilaan kemudian direndahkan menjadi bahan cemoohan, yang secara implisit ingin menunjukkan keunggulan akal sehat si Juminten beserta kaum mayoritas lainnya. Dulu fenomena kegilaan ini lebih sadis, orang yang dinyatakan gila dibungkam, disingkirkan, dipasung dan ditekan.

 

Tanpa disadari Juminten dan barangkali bersama jutaan orang lainnya membuat patokan "kewarasan" dan "ketidakwarasan", yang menurut ku hanyalah sebatas perbedaan. Jika tidak seperti kebanyakan orang, maka dia tidak normal. Sebut saja penyimpangan dari norma sosial. Jika sering melamun dan bicara aneh-aneh, maka dia miring. Atau sebut saja ketidakmampuan adaptasi atau tingkah laku. Jika dia anti-sosial, jangan-jangan dia schizophrenia atau psikopat. Ini memang contoh yang ekstrem. Anda bisa membaca lebih banyak mengenai patokan-patokan dan contoh-contohnya dalam dalam buku Linda De Clerq "Tingkah Laku Abnormal dari Sudut Pandang Perkembangan". Hanya saja, menurutku patokan itu tidak memuaskan karena membuka kemungkinan untuk bias.

 

Yesus menjadi korban penilaian semacam ini, Dia dianggap tidak waras oleh keluarganya karena pandangan-Nya unik dan berbeda, sama sekali tidak sama dengan pandangan masyarakat pada zamannya (Markus 3:21). Paulus juga dianggap gila karena pengetahuannya yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya (Kis 26:24). Korban label gila atas perbedaan ini cukup menimpa banyak orang, sebut saja penulis Paulo Coelho dan banyak penulis lainnya, yang dipaksakan untuk menjalani terapi setruman listrik agar normal. Pertanyaannya sekarang, siapa yang berhak memberi label  antara "waras" dan "tidak waras" itu?

 

Di sisi lain kegilaan ini menjadi rebutan, karena tidak lepas dari dunia hukum. Daud berpura-pura gila agar dia tidak dihakimi dan dibunuh (1 Sam 21:13). Orang yang melakukan kejahatan, tidak dipenjarakan atau hukumannya diringankan setelah dinyatakan gila . Ironis memang, kesempatan menjadi gila ini bisa direbut oleh para praktisi hukum yang mencoba membuktikan kepada hakim bahwa klien mereka gila agar tidak dijatuhi hukuman berat. Kedua kubu menghadirkan Ph.D- Ph.D yang berkelas yang telah melakukan sejumlah penelitian. Alhasil, yang menentukan gila atau tidaknya seseorang adalah penilaian para ahli yang pastinya mengandung bias.

 

Freud juga tertarik permasalahan jiwa ini. Dia bahkan mendirikan suatu disiplin ilmu dan perawatan baru: psikoanalisis. Disiplin ini membantu pasien-pasien yang mengalami berbagai masalah, termasuk fobia, obsesi, impotensi, kegelisahan dan halusinasi. Menariknya, psikoanalisis merawat pasiennya hanya dengan mengunakan kata-kata, bukannya setruman listrik, pijat atau obat. Akan tetapi, psikoanalisis tidak memunyai pegangan diagnosis yang menjadi pegangan sehingga analisis pun menjadi rumit.



Setelah cukup panjang bertele-tele, aku ingin kembali ke pertanyaan: bagaimana membedakan antara orang "gila" dan "tidak gila"? Sesungguhnya, aku tidak tahu. Hanya saja, barangkali lebih meyakinkanku jika kondisi "kewarasan" dan "ketidakwarasan" itu dilihat dari reaksi kimia otak si pasien. Mengenai hal itu, aku hanyalah orang awam yang hanya bisa menyerahkan permasalahan tentang sistem neurotik (saraf) ini kembali kepada para ahli yang barangkali memunyai bias dan pada akhirnya dikritik. Atau barangkali lebih baik (lebih skeptis tepatnya), bila aku kembalikan saja pertanyaan ini kepada dunia yang gila misteri ini?