Kisah Cain membunuh Abel adalah kisah Alkitab Firman Allah yang penuh misteri dan kontroversi.
Kontroversi
Pertama, alkitab kristen tidak memberi petunjuk kenapa Allah tidak berkenan pada persembahan Caen. Tanpa ada penjelasan teologis, Allah akan dicap sebagai tidak adil, sehingga dianggap wajar memicu rasa ketidakadilan Caen. Karakter Allah seperti ini yang dijadikan target kritik atheis. Penjelasan teologis ada dalam alkitab Jahudi dan Al-quran, yang menyatakan Cain merebut calon istri yang diperuntukkan bagi Abel, sehingga persembahan Cain tidak berkenan bagi Allah.
Kedua, tidak dapat dikatakan Cain membunuh Abel, karena sesuai dogma alkitab manusia pertama kejadian Cain menghilangkan nyawa Abel adalah tanpa preseden sebelumnya. Belum ada pengetahuan atau pengalaman manusia terhadap kejadian ‘membunuh’. Sehingga tidak mungkin ada motivasi Cain melakukan perbuatan yang dapat dituduhkan mencelakai Abel, semata karena tak ada pengetahuan Cain akan tindakannya. Manusia yang tidak memahami konsekuensi perbuatannya tidak dapat ditagih akuntabilitasnya.
Ketiga, Alkitab kristen menyakan saat itu selaku manusia pertama, tidak ada manusia lain, tapi ayat berikut menyatakan ada. Kej 3 (14) Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku."
Misteri
Selain ada kontroversi juga ada misteri, karena alkitab Firman Allah tak cukup memberikan penjelasan. Misteri pada kisah diatas ada pada Kej 3 (15) ... Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.
Menjadi misteri dan sering dintepretasi bermacam-macam dan jadi dasar alkitabiah untuk memfitnah. Dan yang mengerikan, dijadikan dasar teologis atau dogma bagi agamawan untuk melakukan kekejian kemanusiaan.
St Agustinus of Hippo tokoh terkenal abad 4, yang menemukan teologia dosa asal, yang dijadikan dasar dogma predestinasi Martin Luther/Jean Calvin, mengaitkan Mark of Cain ini sebagai dasar mengkambinghitamkan Jahudi. Dia mengatakan Jahudi adalah turunan Cain yang pembunuh, dan Abel yang non violent representasi dari kaum kristiani dan gereja. Seperti moyangnya Cain yang membunuh Abel, Jahudi yang kejam membunuh Jesus sehingga diserakkan tidak memiliki tempat tinggal.
Paus Innocent III abad 13, menguatkan dokrin St Agustinus ini dengan memerintahkan Kaum Jahudi mengenakan tanda dipakaiannya. Seabad kemudian Penguasa Spanyol Alfonzo mengeluarkan perintah serupa, yang bahkan kalau tak dipatuhi akan didenda dan dicambuk. Bapak Gereja Kristen Reformis, Martin Luther tidak menutupi kebenciannya akan Jahudi dalam berbagai tulisannya, berdasarkan teologia misteri ini.
Antisemit yang dimotori gereja, digunakan para pedagang budak abad 17 sebagai pembenaran perbudakan, dengan menyatakan kulit hitam dari bangsa negro merupakan Mark of Cain.
Brigham Young, president The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints pada 1842 mengatakan ‘negro adalah keturunan Cain’ menjustifikasi sistem perbudakan bangsa kulit hitam Afrika.
Pada abad 20, misteri Mark of Cain makin dramatis, th 1941, Nazi penguasa Jerman memerintahkan Jahudi Jerman mengenakan tanda bintang david berwarna kuning. Menteri propaganda Nazi Joseph Goebbles, menyamakan Bintang David Kuning sebagai Mark of Cain. Gerakan ini adalah awal dan pembenaran dari holocaust, bangsa Jerman yang mayoritas kristen reformed.
Pembela perbudakan mengusung misteri Mark of Cain sebagai ideologi alkitab sehingga perang saudara di Amerika Serikat sebagai holy war. Klux Klux Clan ,‘Hate Group’ dan kaum fundamentalis di Amerika sampai detik ini mentargetkan kebencian pada Jahudi dan Negro, karena misteri Alkitab ini.
Alternatif
Kisah alkitab ini menjadi landasan dogma Kristen bahwa Allah dalam PL adalah Pemarah dan Pemdendam, sehingga gereja dan umat berhak sebagai tangan dan pedang pembalasan Allah. Padahal kisah ini bisa dibaca berbeda:
Cain tidak tahu perbuatannya memukul Abel dengan batu adalah membunuh. Oleh sebab itu dalam hukum dianggap bukan pembunuhan tapi kecelakaan. Dalam ayat berikutnya terkandung penyesalan Cain tindakan yang berbuah kecelakaan itu menyebabkan kematian. Khusus dalam ayat 13, kata ibrani yang digunakan bisa diterjemahkan sebagai tidak sepadan. Cain menerima hukuman Allah, hanya mengeluh terlalu berat/tidak sepadan.
Allah pun menghukum Cain pun bukan dengan hukuman fatal hanya sebentar saja keluyuran digurum bahkan dikawal, bahkan wanita yang diperebutkan (Alkitab Jahudi/Al quran) akhirnya diberikan sebagai istri.
Allah menunjukkan belas kasihannya akan kemanusiaan dengan Mark Of Cain, simbol bahwa tindakan mengilangkan nyawa adalah pembunuhan, musuh bagi kemanusiaan. Selain itu toh terbukti Allah mengaruniakan turunan yang berlimpah bagi Cain. Cikal bakal peradaban manusia.
Mark of Cain, pertanda dari Allah bahwa pembunuhan adalah musuh kemanusiaan.