Submitted by Purnomo on

                 Dua tahun yang lalu ketika mengunjungi alamatnya, aku hanya bertemu istrinya. Suami istri ini GWB (Guru Wiyata Bakti). Rumah mereka seatap dengsn sebuah gereja karena si suami adalah pendeta. Aku harus menanyakan beberapa hal walau dia pernah selama setahun aku kirimi donasi, karena posisinya sebagai “GWB sekaligus pendeta” akan aku rubah menjadi “Pendeta sekaligus GWB”.


                  Siang tadi aku tidak bisa menemuinya karena dia sedang di Bukit Doa. Baru sorenya aku bisa berbincang-bincang di teras gereja kecilnya.
                 “Pak Budi, istri Bpk asal Nias. Bpk sendiri asal mana?”
                 “Saya dari Bengkulu.”
                 “Bengkulu dekat Nias  ya Pak, tinggal menyeberangi selat saja.”
                 “Jauh, jauh sekali. Nias dekat Medan, Bengkulu dekat Lampung.”
                 “O iya,” kataku. “Dari Bandar Lampung terus ke Kotabumi, Bukit Kemuning, Martapura, Baturaja, Lahat, Lubuklinggau, Muara Bungo, Solok, Bukit Tinggi, Bonjol, Padang Sidempuan terus ke utara menjelang Tarutung belok kiri, sampai deh kita di Sibolga. Lalu menyeberang ke pulau Nias.”
                 A