Submitted by hai hai on

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh adalah seorang pengkotbah besar, Betlehem Publisher bahkan menobatkannya sebagai nabi Indonesia yang terbesar. Namun, apakah reputasinya yang luar biasa itu menjamin bahwa semua yang diajarkannya adalah kebenaran sejati Alkitab? Dalam Yohanes 7:24 Allah mengingatkan, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil." Di dalam buku Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan, dia mengajarkan bahwa Mefiboset cucu Saul adalah contoh orang yang terikat oleh kutuk garis keturunan. Kita sudah pernah menguji ajarannya dalam tulisan saya yang berjudul: “Kutuk Perempuan Pemanggil Arwah,” kali ini kita akan menguji apa yang diajarkannya tentang Mefiboset di bawah terang ajaran sejati Alkitab.



Memberanikan diri bertanya; Dalam bukunya yang berjudul Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan, Pdt. Gilbert Lumoindong, STh menulis:

Dan bukan itu saja akibat kutuk, Saul dan Yonatan mati, serta seluruh keluarganya musnah di ujung pedang musuh. Dari sekian banyak keturunan mereka, hanya tersisa seorang anak saja yang bernama Mefiboset. Dia berada dalam keadaan sedemikian cacat dan tidak bergunanya sehingga mungkin tersembunyikan dari pandangan musuh dan bahkan tidak diperhitungkan di dalam sejarah silsilah keluarga Saul (I Tawarikh 8:33-34, 9:39-40). Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 4 alinea 3

Siapakah Mefiboset, cucu yang terhilang ini sebenarnya? Anda pasti setuju dengan saya: bahwa sebenarnya ia adalah keturunan raja yang sah. Pewaris tahta dan tongkat kerajaan Israel yang sejati! Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 4 alinea 4

Tetapi lihatlah apa yang terjadi dengan putra mahkota ini? Walaupun dia keturunan raja, tapi tidak bisa berbuat apa-apa sesuai dengan hak dan wewenang yang semestinya dia peroleh. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 5 alinea 1-2

Sejarah Israel di kitab 2 Samuel 4:4 secara singkat menceritakan bahwa pada umur lima tahun, Mefiboset jatuh dan timpang oleh kecerobohan inang pengasuhnya. Dia tidak bisa berjalan, dia menjadi cacat. Padahal dia adalah salah seorang keturunan raja yang terhormat. Jadi seharusnya, kalau garis keturunan itu berlangsung secara benar, kalau berkat itu turun atas Saul, lalu Yonatan naik menjadi raja dan kemudian secara otomatis, Mefiboset menjadi putra mahkota. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 5 alinea 3

Tapi saya catat di buku ini ada tiga fakta penting yang akan saya bagikan untuk anda. Fakta pertama, Mefiboset seharusnya memerintah. Dia seharusnya hidup dalam berkat berkelimpahan. Seharusnya dia hidup bahagia. Seharusnya dia tidak kekurangan. Seharusnya dia tidak ada dalam ikatan nasib malangnya. Dia tidak seharusnya jatuh. Bukan karena inangnya lalai tapi karena kutuk sedang mengejar keluarga ini. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 45 alinea 3

Alkitab tidak mencatat karena ia melakukan dosa tertentu sehingga terkena kutuk timpang. Alkitab tidak mengatakan karena hidupnya tidak kudus sehingga ia miskin dan terbuang. Alkitab tidak mengatakan karena ia tidak mengasihi atau melayani Allah sehingga ia bernasib malang dan menderita. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 49 alinea 1

Tapi Alkitab mencatat apa? Kenyataannya, dia adalah seorang keturunan raja yang terikat dengan nasib malang sehingga tidak bisa menikmati segala sesuatu yang baik. “ah, masa, sih?” Mungkin anda bertanya-tanya setengah tidak percaya, “Bukankah ada raja Daud yang telah membereskan segalanya untuk Mefiboset?” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 49 alinea 2-4

Memang betul, Raja Daud yang berkuasa saat itu bukannya tidak mencoba memegang janjinya. Karena dia telah berjanji pada Yonatan, sahabat baiknya bahwa “Aku akan memelihara keturunanmu walau apapun yang terjadi.” Sebuah kisah persahabatan sejati yang tercatat di dalam Alkitab, seperti permintaan terakhir Yonatan kepada sahabat karibnya, Daud. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 49 alinea 6

Fakta kedua yang saya catat di buku ini adalah Mefiboset diikat oleh kutuk karena dosa Saul. Tentu anda masih ingat, Mefiboset adalah keturunan raja Saul. Tapi Mefiboset diikat oleh kutuk karena dosa ketidak taatan Saul terhadap Firman Tuhan. (Kisah selengkapnya ada di I Samuel 13 dan I Samuel 15). Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 50 alinea 5

Tetapi sekali lagi, apa yang terjadi pada Mefiboset? Baiklah, Mefiboset diikat oleh kutuk karena dosa Saul. Kemudian kita tahu, Daud kemudian datang sebagai penolong. Setelah Daud memerintahkan Ziba untuk melayani Mefiboset sesuai dengan status sebenarnya, berkatalah Ziba dengan taatnya, “Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 61 alinea 2-3

Ini adalah suatu kisah yang semestinya berakhir bahagia, bukan? Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. Halleluya! Setelah dia begitu lama dikutuk dan menderita, akhirnya dia mulai diangkat kembali dan dia duduk sebagai anak raja. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 61 alinea 4

Lalu Daud mengangkat Mefiboset, mengembalikan hak dan statusnya seperti semula. Kemuliaan dan kemewahan menjadi bagiannya kembali. Keadaannya dipulihkan lebih baik dari semula. Tapi sayangnya, kisah belum berakhir sampai di sini karena Mefiboset tidak memiliki pandangan yang benar tentang kutuk. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 62 alinea 6

Karena kutuk itu mengikat Mefiboset begitu rupa dan kuat, sehingga walaupun keadaannya sudah diangkat, dia mengkhianati Daud lagi. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 63 alinea 2

Saat itu, Daud sedang terbentur masalah dengan Absalom yang sedang mengadakan pemberontakan terhadapnya. Tetapi Daud tidak mau berperang melawan anaknya sendiri, Daud melarikan diri karena mengalah kepada Absalom. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 65 alinea 5

Tetapi apa yang terjadi waktu Daud pergi? Di tengah jalan dia berjumpa dengan Ziba. Dan pada zaman itu ada kebiasaan di mana bila seseorang memiliki kebutuhan yang penting, dia datang membawa persembahan. Dia datang membawa sesuatu kepada Daud. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 65 alinea 6-7

Daud mulai mengalihkan arah pembicaraannya, “Bagaimana dengan khabar Mefiboset, orang yang tadinya hidup hina dan malang itu dan telah aku angkat kedudukannya?’’ Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 66 alinea 6

Daud mulai penasaran, “Mengapa Mefiboset masih berada di sana? Mengapa dia tidak berada denganmu saat ini? Mengapa dia tidak bersamamu menghampiriku? Mengapa dia tidak bersama-sama dengan aku di sini? Aku sedang berada dalam kesulitan yang sangat saat ini. Mengapa dia tidak berada di sampingku sekarang?” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 66 alinea 8

“Tuan Mefiboset duduk di sana, karena dia berkata, Absalom berjanji bahwa aku akan menjadi raja, aku akan mengambil kembali tahta kakekku, tahta ayahku, dan hakku yang dirampas oleh Daud.” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 67 alinea 3

Daud menjadi begitu sangat marah dan berkata kepada Ziba, “Ziba, mulai dari sekarang juga, aku bertitah bahwa semua yang sudah dimiliki oleh Mefiboset, itu semua adalah menjadi milikmu.” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 67 alinea 4

Tadinya Mefiboset telah memiliki segala-galanya dari Daud, dan sekarang ia praktis telah kehilangan segalanya lagi. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 67 alinea 4

Apa bedanya? Dulu ia miskin tetapi menjadi kaya karena anugerah, tetapi sekarang ia miskin lagi. Inilah Fakta Ketiga tentang Mefiboset. Inilah yang saya maksud dengan kutuk. Ada orang di dalam lubang yang baru saja melihat mujizat, orang itu baru saja melihat kemenangan dan diangkat keluar dari lubangnya. Orang itu baru saja melihat perkara besar terjadi atas hidupnya, tapi tetap saja mentalnya tidak bisa setia, mentalnya tidak bisa tunduk, mentalnya tidak bisa hidup di dalam jalan Tuhan, mentalnya tidak bisa hidup seturut dengan kehendak Allah di dalam kehidupannya. Ia terus berjalan menyimpang dari rencana Allah yang indah bagi hidupnya sampai kemudian ia jatuh ke dalam lubang yang sama. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 67 alinea 8-9

Kutuk itu menimpa Mefiboset. Sehingga apa yang tadinya diterima dengan utuh, sekarang apa yang terjadi? Dia kehilangan segalanya lagi. Dalam sekejap mata. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 68 alinea 4

Sekarang hal yang perlu kita ketahui dari kenyataan hidup Mefiboset yang memasuki penderitaan baru setelah ia jatuh kembali ke lubang yang sama melalui II Samuel 19:24. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 70 alinea 4

Dengan lain kata, raja Daud mengatakan, “Hei, kamu sudah aku tolong, kamu sudah aku bela, tetapi justru ketika aku berada dalam masalah, kamu mengkhianati aku lagi. Mengapa kamu tidak berdiri di pihakku, Mefiboset?” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 71 alinea 6

Jawabnya: “Ya tuanku raja, aku ditipu hambaku. Sebab hambamu ini berkata kepadanya: Pelanailah keledai bagiku, supaya aku menungganginya dan pergi bersama-sama dengan raja! – sebab hambamu ini timpang. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 71 alinea 7

Ia telah memfitnahkan hambamu ini kepada tuanku raja. Tetapi tuanku raja adalah seperti malaikat Allah; sebab itu perbuatlah apa yang tuanku pandang baik. Walaupun seluruh kaum keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut dihukum mati oleh tuanku raja, tuanku telah mengangkat hambamu ini di antara orang-orang yang menerima rezeki dari istana. Apakah hakku lagi dan untuk apa aku mengadakan tuntutan lagi kepada raja? Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 72 alinea 1

Tetapi raja berkata kepadanya: “apa gunanya engkau berkata-kata lagi tentang halmu? Aku telah memutuskan engkau dan Ziba harus berbagi ladang itu.” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 72 alinea 2

Karena Mefiboset melihat raja Daud tidak bisa lagi menerima apapun alasan yang dikemukakannya, akhirnya Mefiboset terpaksa mengakui lagi, “aku sudah terlalu salah, aku sudah mengkhianati raja. Sudahlah, aku tidak perlu punya apa-apa lagi. Karena aku memang seorang yang seperti ini.” Sampai di sini kutuk menancapkan bendera kemenangannya atas Mefiboset. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 72 alinea 4

Tapi pesoalannya, sering kali banyak orang beriman yang bermental seperti Mefiboset, sudah dilepaskan tapi terikat lagi pada belenggu yang sama. Inilah yang ingin saya doakan hari ini untuk anda, supaya ada menjadi orang percaya yang mengalami kemenangan. Mefiboset menderita lagi. Mefiboset kemudian dikuasai lagi oleh rasa rendah diri dan tertekan lagi. Depresi. Ini bisa terlihat di ayat yang ke 24 yang mengatakan: Dia tidak membersihkan kakinya, janggutnya, pakaiannya tidak dicuci. Dia menderita lagi. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan halaman 73 alinea 2

Lebih jelas lagi pada ayat ke 28, keluarlah perkataaan dari orang yang sudah pernah diangkat dan duduk menjadi anak raja kembali. Ia yang dahulu pernah mengatakan, “Aku adalah anjing mati,” Dan sekarang ia mengatakan di ayat yang ke 28, “Walaupun seluruh kaum keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut di hukum mati.” Ia kembali minder, rendah diri, tertekan lagi. Kembali ke mental anjing mati. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 73 alinea 3

Dan ayat yang ke 29 dan 30 tadi, hanya merupakan penutup dari kisah kehidupan tentang Mefiboset yang menyimpulkan, bahwa dia tidak mendapatkan lagi bagiannya sama sekali. Menyedihkan sekali. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 73 alinea 4

Bengcu menjawab:

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang terhormat, walaupun anda mengajarkan teori kutuk dinasti Saul, namun kenapa tidak ada satu ayat Alkitabpun yang mendukung ajaran anda? Bahkan ayat-ayat yang anda kemukakan untuk mendukung teori anda justru menentang ajaran anda? Penerbit Betlehem menggelari anda “Nabi Indonesia yang terbesar,” apakah itu berhubungan dengan wahyu baru yang anda terima, yang tidak tercatat di dalam Alkitab? Mengenai kehidupan Saul, Alkitab menyimpulkan:

Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai. I Tawarikh 10:14

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang terhormat, menurut anda, Mefiboset timpang bukan karena inangnya lalai tapi karena kutuk. Namun, Alkitab justru dengan tegas menyatakan demikian. Apakah ayat Alkitab di bawah ini harus direvisi karena Tuhan telah memberi wahyu baru kepada nabi terbesar Indonesia versi penerbit Betlehem?

Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset. II Samuel 4:4

Menurut anda Mefiboset cacat dan tidak berguna sehingga tidak diperhitungkan di dalam sejarah silsilah keluarga Saul. Saya mempelajari ayat I Tawarikh 8:33-34 dan I Tawarikh 9:39-40 yang anda cantumkan untuk mendukung pernyataan anda tersebut namun menemukan fakta bahwa Mefiboset tercatat sebagai satu-satunya anak Yonatan. Mustahil seorang Master Theologia seperti anda yang digelari nabi terbesar Indonesia tidak mampu memahami ayat-ayat Alkitab tersebut di atas dan memahami bahwa Meribaal adalah nama lain dari Mefiboset. Pak pendeta, Izinkan saya bertanya, “anda Anda memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?”

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang terhormat, bila Meribaal bukan Mefiboset, bukankah sejak awal teori kutuk anda sudah runtuh? Bila Meribaal bukan Mefiboset, kenapa anda kekeh jumekeh menyatakan Mefiboset adalah satu-satunya keturunan Saul yang hidup? Setelah kekeh jumekeh menyatakan Mefiboset adalah satu-satunya keturunan Saul yang hidup, kenapa sekonyong-koyong anda mengajarkan bahwa Yonatan masih memiliki keturunan lain yang hidup tanpa kutuk, namanya Meribaal?

Siapa yang harus kami percayai? Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang mengajarkan bahwa Mefiboset adalah satu-satunya keturunan Saul yang hidup atau Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang mengajarkan bahwa selain Mefiboset, Yonatan masih memiliki keturunan lain yang hidup tanpa kutuk, namanya Meribaal?

Anak Yonatan ialah Meribaal dan Meribaal memperanakkan Mikha. Tawarikh 8:34

Anda bilang, “Mefiboset hanya hidup di tempat persembunyian kumuh karena belas kasihan dari seorang hamba pengasuhnya yang bernama Ziba yang tidak kaya di Lodebar.” Setelah membaca ayat Alkitab yang anda cantumkan untuk mendukung teori anda, saya menemukan fakta bahwa Mefiboset tidak hidup di bawah belas kasihan hamba pengasuhnya Ziba, bahkan Ziba adalah hamba Saul bukan inang pengasuh Mefiboset.

Mefiboset hidup di bawah lindungan seorang kaya yang bernama Makbir bin Amiel di Lodebar. Nampaknya Makbir bin Amiel adalah seorang yang baik hati. Kita tidak tahu karena Alkitab tidak mencatatnya, namun dari kepribadian Mefiboset, nampaknya dia selain diperlakukan dengan baik juga mendapat pendidikan budi pekerti yang baik dari Makbir bin Amiel. Pak pendeta, apakah ayat Alkitab di bawah ini harus direvisi karena anda sudah menerima wahyu yang benar?

Tanya raja kepadanya: "Di manakah ia?" Jawab Ziba kepada raja: "Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar." II Samuel 9:4

Ketika Daud tiba di Mahanaim, maka Sobi bin Nahas, dari Raba, kota bani Amon, dan Makhir bin Amiel, dari Lodebar, dan Barzilai, orang Gilead, dari Rogelim, membawa tempat tidur, pasu, periuk belanga, juga gandum, jelai, tepung, bertih gandum, kacang babi, kacang merah besar, kacang merah kecil, madu, dadih, kambing domba dan keju lembu bagi Daud dan bagi rakyat yang bersama-sama dengan dia, untuk dimakan, sebab kata mereka: "Rakyat ini tentu telah menjadi lapar, lelah dan haus di padang gurun." II Samuel 17:27-29

Pak pendeta, anda benar ketika menyatakan bahwa Alkitab tidak mencatat Mefiboset terkena kutuk timpang karena melakukan dosa tertentu, hidup tidak kudus sehingga dia miskin dan terbuang, tidak mengasihi atau melayani Allah sehingga dia bernasib malang dan menderita. Pak Pendeta, walaupun Alkitab tidak mencatat namun, kenapa anda justru menuduh Mefiboset timpang, miskin dan terbuang serta bernasib malang dan menderita karena mewarisi kutuk dari kakeknya Saul? Tidak tahukah anda bahwa semua tuduhan anda selain sangat kejam juga tidak memiliki dasar Alkitabiah sama sekali?

“Tuan Mefiboset duduk di sana, karena dia berkata, Absalom berjanji bahwa aku akan menjadi raja, aku akan mengambil kembali tahta kakekku, tahta ayahku, dan hakku yang dirampas oleh Daud.” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 67 alinea 3

Kemudian bertanyalah raja: "Di manakah anak tuanmu?" Jawab Ziba kepada raja: "Ia ada di Yerusalem, sebab katanya: Pada hari ini kaum Israel akan mengembalikan kepadaku kerajaan ayahku." II Samuel 16:3

Pak pendeta yang terhormat, bila anda melakukan kesalahan kutip seperti tersebut di atas ketika kotbah, saya bisa memakluminya, namun bila kesalahan demikian terjadi di dalam buku yang katanya best seller, sungguh tidak masuk akal. Apakah anda tidak mengedit tulisan anda? Apakah tidak ada editor yang mengedit buku anda? Saya dapat memaklumi bila editor Betlehem Publisher tidak mengedit tulisan anda, itu sebabnya mereka menggelari anda Nabi Indonesia yang terbesar, karena yakin semua tulisan anda adalah kebenaran, bila bertentangan dengan Alkitab, maka itu berarti wahyu baru. Izinkan saya bertanya, dari mana anda tahu bahwa Mefiboset menyatakan bahwa Absalom berjanji akan menjadikannya raja? Dari Hongkong?

Menurut anda, Mefiboset tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat karena dia dikuasai rasa rendah diri dan tertekan, kembali ke mental anjing mati.

Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat. II Samuel 19:24

Haiya … Pendeta yang terhormat, anda sendiri yang mengajarkan bahwa Mefiboset mengkhianati Daud, dia tidak menjumpai Daud karena sedang mempersiapkan diri untuk menjadi raja Israel karena Absalom berjanji akan menjadikannya raja. Kenapa sejak Daud pergi dia tidak membersihkan kakinya, memelihara janggutnya dan mencuci pakaiannya? Bukankah dia seharusnya merawat diri, berpakaian mewah dan berpesta pora? Bukankah seharusnya dia menyongsong Absalom untuk dijadikan raja? Bukankah dia seharusnya tampil di depan rakyat dalam segala kemewahan dan keagungan untuk menyapa mereka sebagai raja? Kenapa dia berlaku sebaliknya?

Pendeta yang terhormat, apakah anda menerima wahyu baru karena ayat Alkitab tersebut di atas salah atau sudah diedit oleh Iblis? Apakah ayat itu seharusnya berbunyi seperti di bawah ini?

Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak tahu harapannya untuk menjadi raja sudah musnah. Kenyataan itu membuatnya sangat tertekan dan merasa rendah diri. II Samuel 19:24 - Versi Revisi - Pdt. Gilbert Lumoindong, STh - Nabi Indoesia yang terbesar

Haiya … Pdt. Gilbert Lumoindong, STh, yang terhormat, mustahil seorang Master Theologia tidak tahu bahwa yang dilakukan oleh Mefiboset adalah pernyataan kesetiakawanannya atas apa yang dialami oleh Daud selama pelariannya? Walaupun tidak ikut melarikan diri, namun Mefiboset menjalani hidup seolah-olah sedang dalam pelarian bersama Daud, itu sebabnya dia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak Daud pergi sampai hari ia pulang dengan selamat.

Pak Pendeta, menurut anda Ziba adalah seorang hamba yang hebat dan setia pada Daud. Ketika menemui Daud Ziba membawa sepasang keledai dengan muatan dua ratus ketul roti, seratus buah kue kismis, seratus buah-buahan musim panas dan sebuyung anggur (II Samuel 16:1-4).

Izinkan saya bertanya pak pendeta, sebagai seorang hamba, dari mana Ziba memperoleh semua barang persembahannya? Bila Mefiboset berkhianat, mustahil dia membiarkan hambanya membawa makanan bagi musuhnya. Apabila Mefiboset mempersiapkan diri untuk menjadi raja, maka hal pertama yang harus dia lakukan adalah membunuh Daud atau membiarkannya mati kelaparan. Apabila Ziba memang setia, kenapa dia dan kelima belas anak laki-lakinya tidak menyertai Daud? Kenapa dia membiarkan Daud hidup dalam pelarian sementara dia menikmati hidup berkelimpahan?

Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja Daud. II Samuel 19:16

Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke sungai Yordan mendahului raja, II Samuel 19:17

 

Ketika menyongsong Daud Ziba hamba Mefiboset datang dalam segala kebesarannya. Dia datang bersama Simei bin Gera, kerabat Saul yang mengutuki Daud ketika dalam pelariannya melewati kota Bahurim (II Samuel 16:5-12). Ziba adalah seorang hamba, itu berarti anak-anaknya juga hamba, dari mana dia memperoleh kebebasannya bahkan mendapatkan harta untuk membeli dua puluh orang hamba? Bila Mefiboset memang mengkhianati Daud, mustahil dia memerdekakan Ziba hambanya yang telah berkhianat bahkan memberinya harta yang berlimpah. Sungguh tidak masuk Akal!

Sayangnya, tidak! Karena curse mentality; mental Mefiboset yang telah diikat dengan kutuk ini, ia berkhianat kepada Daud. Sehingga semua yang seharusnya menjadi miliknya akhirnya dibagi-bagi lagi dengan hambanya, Ziba. Sehingga ia tidak mendapatkan apa yang menjadi haknya. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 82 alinea 3

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang terhormat, tuduhan anda tersebut di atas sama sekali tidak benar. Tidak tahukah anda bahwa menyebar fitnah walaupun terhadap orang yang telah meninggal hampir 3000 tahun yang lalu tetap saja kejam dan salah?

Jawabnya: "Ya tuanku raja, aku ditipu hambaku. Sebab hambamu ini berkata kepadanya: Pelanailah keledai bagiku, supaya aku menungganginya dan pergi bersama-sama dengan raja! -- sebab hambamu ini timpang. II Samuel 19:26

Ia telah memfitnahkan hambamu ini kepada tuanku raja. Tetapi tuanku raja adalah seperti malaikat Allah; sebab itu perbuatlah apa yang tuanku pandang baik. II Samuel 19:27

Walaupun seluruh kaum keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut dihukum mati oleh tuanku raja, tuanku telah mengangkat hambamu ini di antara orang-orang yang menerima rezeki dari istanamu. Apakah hakku lagi dan untuk apa aku mengadakan tuntutan lagi kepada raja?" II Samuel 19:28

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang terhormat, ketika membaca Alkitab sebaiknya anda melakukannya dengan teliti dan hati-hati. Untuk mengerti ajaran Alkitab cara terbaik adalah dengan memahaminya, bukan menafsirkannya. Ketika menemukan ayat-ayat yang seolah mendukung teorimu, sebaiknya mengujinya berkali-kali sebelum menggunakannya, hal itu untuk menghindari agar anda tidak menyesatkan jemaat yang mendengar kotbah maupun membaca buku anda juga menghindarkan anda dipermalukan seperti yang terjadi kali ini.

Pak pendeta, anda menyatakan, karena terikat kutuk maka Mefiboset walaupun telah mendapat kemuliaan dan kasih sayang dari Daud namun akhirnya jatuh kembali ke lubang yang sama, sudah dilepaskan tapi terikat lagi pada belenggu yang sama, ia kehilangan semuanya dan memasuki penderitaan baru, dia tidak mendapatkan lagi bagiannya sama sekali. Anda menggunakan ayat-ayat II Samuel 19:24-30 untuk mendukung pernyataan anda. Tanpa mengurangi rasa hormat, namun ayat-ayat tersebut bukan saja tidak mendukung teori anda, namun justru menentang ajaran bahkan mempermalukan anda saat ini.

Pak pendeta, maafkan saya yang awam ini mengisahkan bagaimana caranya untuk memahami ayat-ayat II Samuel 19:24-30 di atas kepada anda yang maraih gelar Master Theologia sejak tahun 2000 yang lalu. Hal pertama yang harus anda pahami adalah bahwa pertemuan antara Daud dan Mefiboset itu terjadi di tepi sungai Yordan, di hadapan ribuan orang, baik yang mengiringi Daud maupun yang menyambutnya. Semua tokoh penting Israel ada di situ, termasuk Ziba sang hamba yang telah menjadi orang kaya-raya.

Daud adalah seorang raja yang berbelas kasihan namun adil, dia juga seorang raja yang cerdas dan bijaksana. Di tepi sungai Yordan itu, orang pertama yang berbicara dengan Daud adalah Simei bin Gera, kerabat Saul yang mengutuki Daud ketika dalam pelariannya melewati kota Bahurim. Dia minta ampun kepada Daud. Orang kedua yang berbicara adalah Abisai anak Zeruya yang menyatakan Simei bin Gera patut dihukum mati. Mefiboset bukan saja orang ketiga yang berbicara kepada Daud, namun dia adalah orang pertama yang disapa oleh Daud. Orang keempat yang berbicara kepada Daud yang juga menjadi orang kedua yang di sapa Daud adalah Barzilai orang Gilead yang sangat kaya dan berumur delapan puluh tahun, ia memberi makan Daud dan seluruh pengiringnya selama di Mahanaim (II Samuel 17:27-29, II Samuel 19:31-38).

Maaf, pak pendeta yang terhormat, pahlawan anda, Ziba tidak masuk hitungan sama sekali. Pak pendeta, kira-kira kutuk apa yang diwarisi Ziba sehingga setelah mempertaruhkan nyawa mengkhianati tuannya Mefiboset demi Daud, dia tidak di hargai sama sekali, bahkan untuk membela diri sekalipun? Namun, kenapa Mefiboset yang menurut anda terikat kutuk, minder, pengkhianat dan bermental anjing mati justru mendapat kehormatan menjadi orang pertama dari dua orang yang ditegur Daud dari ribuan orang di tepi sungai Yordan itu?

Ketika ditanya kenapa tidak pergi bersama Daud, Mefiboset menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa dia ditipu hambanya juga menyatakan bahwa Ziba telah memfitnahnya. Maaf pak pendeta yang terhormat, bertentangan dengan yang anda ajarkan, ternyata Mefiboset bukan pengkhianat minder yang bermental anjing mati melainkan seorang yang setia dan mencintai keadilan da berani berjuang untuk menegakkannya. Mefiboset menuntut agar keadilan ditegakkan dan nama baiknya dipulihkan oleh raja di hadapan ribuan orang termasuk di dalamnya Ziba. Pak pendeta, tega sekali anda memfitnah orang sekaliber Mefiboset?

Pak pendeta, izinkan saya bertanya, ketika Simei bin Gera menyembah Daud dan memohon pengampuan, Abisai anak Zeruya bangkit menentangnya. Kenapa tidak ada seorangpun dari antara ribuan orang itu, termasuk di dalamnya Ziba yang bangkit menentang Mefiboset yang menyebar fitnah terhadap Ziba? Kenapa Daud sendiri tidak melakukan konfirmasi kepada Ziba untuk menelanjangi dusta Mefiboset? Ketika menyangka Mefiboset mengkhianatinya, Daud memberikan semua harta Saul kepada Ziba (II Samuel 16:4). Alih-alih menelanjangi dusta Mefiboset, kenapa Daud justru membela diri dengan mengubah keputusannya semula memberikan semua harta Saul kepada Ziba menjadi membaginya menjadi dua, bahkan dia merasa perlu menekankan kedaulatannya sebagai raja kepada Mefiboset?

Tetapi raja berkata kepadanya: "Apa gunanya engkau berkata-kata lagi tentang halmu? Aku telah memutuskan: Engkau dan Ziba harus berbagi ladang itu." II Samuel 19:29

Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: "Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat." II Samuel 19:30

Dan ayat yang ke 29 dan 30 tadi, hanya merupakan penutup dari kisah kehidupan tentang Mefiboset yang menyimpulkan, bahwa dia tidak mendapatkan lagi bagiannya sama sekali. Menyedihkan sekali. Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 73 alinea 4

Pdt. Gilbert Lumoindong, STh yang terhormat, bertentangan dengan tuduhan anda, ternyata II Samuel 19:29 justru mencatat bagaimana Daud membela diri karena telah salah menilai Mefiboset. II Samuel 19:30 bukanlah ungkapan putus asa Mefiboset namun ungkapan rasa setia, rendah hati dan kasihnya yang agung kepada Daud, itu sebabnya Alkitab mencatat betapa Daud amat menyayanginya.

Tetapi raja merasa sayang kepada Mefiboset bin Yonatan bin Saul, karena sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di antara Daud dan Yonatan bin Saul. II Samuel 21:7

Bapak Pendeta yang terhormat, mohon maaf anda salah total, itu berarti teori “kutuk dari garis keturunan” yang anda ajarkan runtuh berguguran. Ternyata Mefiboset walaupun ditipu dan difitnah oleh pahlawan anda, Ziba namun, akhirnya mendapatkan kembali semua kemuliaannya bahkan Daud sangat menyayanginya. Pak pendeta, izinkan saya bertanya, kenapa anda tega memfitnah Mefiboset yang rendah hati dan setia sebagai pengkhianat dan mengangkat Ziba sang penipu sebagai pahlawan?


Submitted by cheraclan (not verified) on Fri, 2008-01-18 13:32
Permalink

halo hai-hai..
blog anda menarik sekali...
tapi, saya pingin memberitahu, bahwa bukan hak kita menilai seseorang itu, karena dlm Firman Tuhan, secara eksplisit mengatakan, "ukuran(standar penilaian) yg qt pakai kepada seseorang, akan diukurkan kembali kepada kita".. dan jg qt sesama anak Tuhan, jgnlah "saling menghakimi", karena itulah hak Tuhan...
bila memang bpk gilbert tersebut tidak sesuai dengan penilaian anda, baiknya anda tidak "memberi gelar" kepada beliau.
saya bukan pendukung gilbert atau sapapun, cuman saya mau belajar untuk tidak mau menghakimi orang lain, apalagi sesama anak Tuhan...
oke.. tetap semangat yaa... hai-hai... ^_^
JBU

Submitted by Pengunjung (not verified) on Fri, 2008-01-18 15:29

In reply to by cheraclan (not verified)

Permalink

Cheraclan,

Saya hanya ingin bertanya saja, sadarkah kamu saat kamu memberikan kesimpulan di atas, kamu sendiri sangat mungkin sedang tidak terlepas dari tengah menghakimi Hai Hai? Dengan mengatakan demikian kamu sudah mengambil posisi bahwa Hai Hai kamu anggap sudah menghakimi? Wink

Submitted by hai hai on Sat, 2008-01-19 15:46

In reply to by cheraclan (not verified)

Permalink

Cheraclan, ketika saya menghakimi, saya siap untuk dihakimi. Jadi silahkan hakimi saya, namun hakimilah dengan adil. Tolong nilai tulisan saya tersebut di atas, bandingkan dengan tulisan Pdt. Gilbert Lumoindong STh lalu gunakan Alkitab sebagai standard kebenaran. Apakah saya membual? Apakah saya menyebar fitnah? Apakah saya mengecam atau menuduh membabibuta?

Cheraclan, anda bilang, “blog anda menarik sekali...” namun anda lupa menjelaskan di mana letak menariknya blog saya? Maukah anda menyatakan di mana menariknya blog saya?

Anda benar, memang bukan hak saya menilai seseorang, namun saya hanya menjalankan perintah Tuhan untuk menegakkan kebenaran sejati Alkitab, jadi ketika saya menghakimi, saya melakukannya dalam nama Tuhan.

Cheraclan, anda salah! Saya tidak sedang menilai Pdt. Gilbert Lumoindong, namun menguji apa yang diajarkannya dengan menggunakan Alkitab sebagai standard kebenaran. Itu sebabnya saya mengutip tulisannya kata demi kata dan mencantumkan dari buku apa, halaman berapa dan alinea berapa kalimat-kalimat itu saya kutip supaya anda dan pembaca lainnya dapat mencek kebenarannya.

Cheraclan, anda sudah membaca tulisan Pdt. Gilbert Lumoindong STh yang saya kutip, di dalam tulisannya, dia menuduh Mefiboset pengkhianat. Saya menempatkan diri sebagai pembela Mefiboset dan membuktikan bahwa tuduhan itu salah, bukankah itu berarti Pdt. Gilbert Lumoindong STh menyebar fitnah? Mefiboset memang sudah meninggal sekitar 3000 tahun yang lalu, namun apakah itu berarti dia boleh difitnah begitu saja?

Cheraclan, percuma anda belajar untuk tidak menghakimi, karena itu adalah naluri manusia yang merupakan anugerah Tuhan. Menurut saya yang harus anda pelajari adalah menghakimi dengan adil. Anda mau membaca pemahaman saya tentang menghakimi? silahkan klik di sini.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by serafim (not verified) on Thu, 2008-03-13 12:59

In reply to by hai hai

Permalink

bagi saya yang terpenting adalah KASIH.karna jika buku yang ditulis oleh pak GILBERT sangat memberkati orang lain atau membawa banyak jiwa untuk TUHAN, WHY NOT!!karna amanat agung dari TUHAN JESUS "pergilah& jadikanlah semua bangsa MURIDKU. yang artinya PENGINJILAN!!dan bagi saya pribadi,bahwa kita meliat alkitab jangan hanya dari sisi tulisan karna ada hal2 lisan yang perlu kita gali dan itu butuh bimbingan ROH seperti yang pak GILBERT alami.dan kadang memang seseorang mengkritik orglain hanya karna tdak ingin org itu lebih maju lagi.
penginjilankan,bisa melalui buku dan sudah banyak org diberkati.kalo mau coba aja disurvei hasilnya bagaimana..
apakah kritikan/tulisan anda yang lebih banyak memberkati atau justru tulisan dari pak GILBERT LUMOINDONG??????.

Submitted by hai hai on Fri, 2008-03-14 12:52

In reply to by serafim (not verified)

Permalink

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:19-20

Serafim, anda benar, yang terpenting adalah KASIH, namun kita juga harus memahami bahwa KASIH itu tidak membabibuta dan tidak MENGHALALKAN cara atau menjadikan yang lainnya HALAL. Saya tidak meragukan KASIH dalam tulisan Pdt. Gilbert Lumoindong, namun saya menguji tulisannya dan menemukan kenyataan bahwa dia telah MEMANIPULASI Alkitab.

Anda menulis: 

bagi saya pribadi,bahwa kita meliat alkitab jangan hanya dari sisi tulisan karna ada hal2 lisan yang perlu kita gali dan itu butuh bimbingan ROH seperti yang pak GILBERT alami.dan kadang memang seseorang mengkritik orglain hanya karna tdak ingin org itu lebih maju lagi. 

Apakah dengan kalimat tersebut di atas anda menyatakan bahwa cara Pdt. Gilbert Lumoindong memahami ayat-ayat Alkitab tersebut di atas BENAR karena dia memahaminya atas bimbingan Roh KUDUS? Itu sebabnya Pdt. Gilbert Lumoindong diberi gelar NABI Indonesia yang terbesar, karena dia menerima WAHYU BARU dari Allah.

Karena ada wahyu baru, maka mari kita ramai-ramai minta Lembaga-lembaga Alkitab di dunia ini untuk MEREVISI Alkitab agar setiap orang yang membacanya dapat segera memahaminya seperti yang dipahami oleh Pdt. Gilbert Lumoindong?

Serafim, ketika Musa mengirim 12 utusan untuk mengintai tanah Kanaan, mayoritas menyatakan bahwa bangsa Israel mustahil mampu mengalahkan bangsa Kanaan, hanya 2 orang yang percaya bahwa bangsa Israel akan menang. Kedua orang itu adalah Josua bin Nun dan Kaleb Bin Yefun. Orang Kristen di Indonesia adalah minoritas, apakah itu berarti Kekristenan SALAH? Bukankah anda menganggap mayoritas pasti benar?

Di samping itu, saudara Serafim, perlu anda ketahui, berapa banyak pembaca dan pendengar kotbah Pdt. Gilbert Lumoindong tentang Mefiboset mengujinya dengan Alkitab? Anda melakukannya? Bila anda membacanya, saya yakin anda tidak akan mengujinya. Saya mengujinya dan menemukan fakta tersebut di atas. Jadi sekarang pertanyaannya adalah, "APAKAH anda mengakui bahwa PDt. Gilbert Lumoindong memang melakukan kesalahan atau memanipulasi Alkitab atau apa yang diajarkannya adalah WAHYU BARU?" Khusus untuk hal Mefiboset.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by Gedalia Lynch on Fri, 2008-01-18 17:21
Permalink

Biasanya, dalam menulis buku, seseorang pasti memerlukan beberapa sumber utama sebagai acuan dalam berteori. Baca dulu semua sumber yang dipakai dalam Daftar Pustakanya dan kritisilah kesalahannya, bukan orangnya. Artinya mengkritiklah secara intelektual, bukan dengan perasaan; sikap suka atau tidak suka, kalah atau menang, musuh atau kawan. Ketika mencatut nama seseorang, anda sudah melakukan satu kesalahan dan sebuah permusuhan di pihak lain.

Submitted by hai hai on Sat, 2008-01-19 05:44

In reply to by Gedalia Lynch

Permalink

Seorang Profesor ahli bedah pernah berkata kepada adikku, “sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya dia …”
Karena penasaran, akhirnya adik saya bertanya, “Akhirnya dia jatuh juga prof?”
Profesor itu ngakak lalu berkata, “Bukan! sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya dia melompat lagi!”

Gedalia Lynch, Sebelum menguji tulisan Pdt. Gilbert Lumoindong, saya membaca bukunya. Di dalam buku yang berjudul Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan itu dia tidak mencantumkan sumber pustaka sama sekali. Di dalam tulisannya, dia hanya mencamtukan ayat-ayat Alkitab. Itu berarti Alkitab adalah satu-satunya sumber pustaka yang dia gunakan.

Sebelum menguji tulisan Pdt. Gilbert Lumoindong STh, saya mengutip tulisannya kata demi kata, saya juga mencantumkan dari buku apa, halaman berapa dan alinea berapa kalimat-kalimat itu saya kutip, supaya anda dan pembaca lainnya dapat membacanya dan melakukan konfirmasi ke bukunya untuk membuktikan bahwa saya tidak memanipulasi apa yang ditulisnya.

Gedalia Lynch, izinkan saya bertanya, apakah anda sudah membaca semua tulisan Pdt. Gilbert Lumoindong STh yang saya kutip dan menceknya ke buku, halaman dan alinea yang saya cantumkan? Apakah anda sudah membaca tulisan saya dan mencek semua ayat Alkitab yang saya cantumkan ke Alkitab? Adakah bagian dari tulisan saya itu yang salah? Kenapa anda tidak mencantumkannya?

Gedalia Lynch, anda kenal saya? Anda pernah bertemu saya? Kenapa anda menuduh saya mencatut nama seseorang? Apakah seseorang yang anda maksudkan itu adalah Pdt. Gilbert Lumoindong? Nona, anda bahkan tidak memberikan penilaian sama sekali, apakah yang saya tulis itu benar atau salah. Seharusnya anda menilai tulisan saya dulu sebelum menilai pribadi saya. Bila tulisan saya salah, maka otomatis tuduhan anda benar, bila tulisan saya benar, maka anda harus mengucapkan terima kasih karena saya telah membuka mata anda akan ajaran sejati Alkitab dan menyadarkan anda untuk senantiasa menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya standard kebenaran.

Gedalia Lynch, tolong, anda harus membaca tulisan saya dengan teliti, mengujinya di bawah terang Alkitab lalu menilainya benar atau salah. Bila tulisan saya salah, maka otomatis tuduhan anda benar, bahwa saya mencatut nama orang, mengkritik dengan tidak intelek dan melakukan kesalahan serta memprovokasi orang-orang untuk memusuhi Pdt. Gilbert Lumoindong STh. Namun, bila tulisan saya benar, seharusnya anda menyebarkannya agar banyak orang lain.

Nona, uji tulisan saya dulu, setelah itu anda masih memiliki banyak waktu untuk menuduh saya macam-macam.   
 

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by happy lee on Fri, 2008-01-18 21:22
Permalink

Happy Lee

Pak Hai-hai saya ngefans banget sama tulisan anda. Makin hari mutu tulisannya semakin bagus. Tapi, sekarang ini tulisannya terlalu serius, tidak seperti biasanya yang banyak lucunya. Saya teringat waktu di yogya banyak ibu-ibu yang ingin membeli oleh-oleh yaitu salak pondok. Begini ceritanya : terjadi tawar-menawar antara penjual dan ibu-ibu. Pedagang menawarkan dengan harga tujuh ribu lima ratus rupiah per satu kilogram. Ibu-ibu berkata :” mahal benar?? Salaknya segede upil.” Pedagang dengan enteng menjawab : “ kalau upilnya segede salak pasti harganya lebih mahal “

Submitted by hai hai on Sat, 2008-01-19 06:08

In reply to by happy lee

Permalink

Happy Lee, ada waktunya tertawa, ada waktunya menangis, ada waktunya membangun ada waktunya merubuhkan, ada waktunya menabur ada waktunya menuai. Terima kasih atas pujiannya dan maaf karena telah mengecewakan anda. Namun saya janji untuk mengunduh tulisan-tulisan yang anda senangi.

Tolong, jangan ngeledek! Namun harus diakui, cerita anda memang menggambarkan dengan tepat apa yang terjadi saat ini. Saya menjual salak, namun beberapa pembaca menganggapnya kemahalan dan menyatakan salak saya segede upil (tai hidung). Ha ha ha … Memang seharusnya mereka melihat salak saya sebagai salak dan menawar salak saya sebagai salak, bukan mengejek dan menyamakannya dengan upil (tai hidung). Terima kasih untuk mengingatkan agar saya tidak berprilaku seperti pedagang salak.

Happy Lee,  saya baru mengunduh tulisan baru dengan judul “MENGHAKIMI- Hanya Orang Mati Yang Tidak Melakukannya” Semoga anda suka dengan tulisan itu.
 

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by heartbroken on Sat, 2008-01-19 10:10
Permalink

Pak Gilbert ini benar-benar menafsirkan Alkitab tanpa melihat secara keseluruhan, tetapi saya juga sempat menganggap Mefiboset yang berkhianat kepada Daud, tetapi setelah membaca tulisan hai hai, saya baru melihat kalau Ziba seorang penjilat.

Submitted by hai hai on Sat, 2008-01-19 16:26

In reply to by heartbroken

Permalink

heartbroken, anda benar-benar memahami apa yang saya tulis. Terima kasih, anda mau menyaksikannya kepada yang lain.

Selamat bergabung di komunitas blogger Kristen Sabdaspace. Komunitas ini juga sering menyebut dirinya pasar Klewer, di mana anda dapat membuka counter (blog) dan menjual produk ORIGINAL anda serta membeli apa saja yang dibutuhkan. Ketika melakukan tawar menawar, kita menjadikan Alkitab sebagai standard harga satu-satunya.

Di samping itu, Benteng SABDA juga baru membuka sebuah komunitas baru, Komunitas Blogger Remaja Kristen dengan alamat http://teens.sabdaspace.org/ SILAHKAN ajak handai taulan anda yang masih remaja untuk bergabung dan meramaikannya.   

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by Mod on Sat, 2008-01-19 10:25
Permalink

Waduh, saya terlambat untuk mengatakan : Hai hai menghakimi. Biasanya di tulisan Hai hai yang model begini pasti ada komentar "jangan menghakimi", saya mau jadi yang pertama tapi keduluan sama Cheraclan.

Gilbert Lumoindong menghakimi Mefisobet, Hai hai menghakimi Gilbert Lumoindong, Cheraclan menghakimi Hai hai, Pengunjung menghakimi Cheraclan, Gedalia Lynch menghakimi Hai hai, semua bisa jadi hakim.

Saya bingung dengan maksud dari "menghakimi", apakah kita tidak boleh "menghakimi" ?

Submitted by Mr (not verified) on Mon, 2008-01-21 02:07
Permalink

Setelah membaca tulisan ini, saya jadi mengerti bahayanya jika ayat-ayat alkitab ditafsirkan untuk mendukung ide/teori kita.

Nah tapi ada beberapa hal yang saya temukan ketika membaca ayat :
Dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut, lalu Daud pergi menanyakan petunjuk TUHAN. Berfirmanlah TUHAN: "Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon." -> 2 samuel 21:1

*. Kutuk dari garis keturunan bisa terjadi:
Saul yang berikhtiar membasmi orang2 gibeon, tapi sampai anak-anaknya melekat hutang darah tersebut. Hal ini dipertegas dalam kisah 2 samuel 21 yang menceritakan bahwa setelah ke-7 anak-anaknya dihukum mati, barulah Allah mengabulkan doa untuk negri itu.

*. Akibat dari kutuk tersebut malah berakibat pada seluruh negeri
Dalam hal ini kelaparan selama 3 tahun berturut-turut.

Jika kita lihat dalam konteks masa kini, masuk akal jika ada yang menafsirkan agar kita mematahkan kutuk2 dari garis keturunan. Apalagi mengetahui akibatnya yang bisa berdampak luas

Submitted by hai hai on Mon, 2008-01-21 11:59

In reply to by Mr (not verified)

Permalink

Mr. saya setuju dengan anda, kutuk itu memang ada, namun saya percaya kutuk itu datang dari Tuhan, bukan dari sesama manusia apalagi dari Iblis dan roh-roh jahatnya. Silahkan baca kembali kisah tersebut dengan teliti di II Samuel 21:1-9.

Kepada siapakah Saul dan keluarganya berhutang darah? Kepada Iblis atau roh jahatnya? Kepada orang-orang Gibeonkah? Siapa yang menyatakan bahwa Saul dan keluarganya berhutang darah karena berikhtiar membunuh orang-orang Gibeon keturunan suku Amori? Iblis atau roh jahatnya? orang-orang Gibeonkah?

Kepada siapa hutang darah itu dibayar? Iblis atau roh jahatnya? orang-orang Gibeonkah?

Mr, anda benar, hutang darah itu menyebabkan bencana kelaparan selama 3 tahun melanda seluruh negeri. Apakah orang-orang gibeon juga mengalaminya?

Mr, anda menulis:

Setelah membaca tulisan ini, saya jadi mengerti bahayanya jika ayat-ayat alkitab ditafsirkan untuk mendukung ide/teori kita.

Jika kita lihat dalam konteks masa kini, masuk akal jika ada yang menafsirkan agar kita mematahkan kutuk2 dari garis keturunan. Apalagi mengetahui akibatnya yang bisa berdampak luas

Mr, sebelum mematahkan kutuk, kita harus menyimpulkan dulu, kutuk siapa yang hendak kita patahkan? Kutuk Tuhan, kutuk Iblis dan roh-roh jahatnya atau kutu manusia (dukun dari En-Dor, orang-orang gibeon)?

Anda sanggup mematahkan kutuk Tuhan? Setahu saya, semua kutuk dari Tuhan itu harus digenapi, bukan dipatahkan, itu sebabnya Alkitab mencatat:

Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN? Bilangan 23:8
 

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by jesusfreaks on Mon, 2008-01-21 08:14
Permalink

Dear All brother & sister,

seperti biasanya, kalau gw mau komentarin tulisan hai-hai butuh waktu agak lama.
sementara ini untuk nambah point aza. gw komentar yang gak penting.

Gw belum ngerti "KUTUK" itu binatang kah ? kue kah ? tapi kayaknya sih sejenis KAYU ? soalnya bisa dipatahkan.
sori nyeleneh...

tapi satu hal yang pasti soal keturunan,
menurut gw, sejak adam & hawa jatuh kedalam dosa, sejak itulah manusia, semua manusia keturunan ADAM adalah KETURUNAN-KETURUNAN YANG TIDAK DIINGINKAN ALLAH.
apa dasarnya? gw belum tahu, masih cari-cari.

LALU, apakah yang terjadi karena keturunan-keturunan itu tidak diinginkan ALLAH, ya tentu saja masalah-masalah kehidupan, persoalan-persoalan hidup, intinya hidup jadi susah gitu. MEREKA HIDUP TANPA PENYERTAAN TUHAN.

NAH kalau yang disebut KUTUK itu adalah MASALAH-MASALAH, PERSOALAN-PERSOALAN. ya berarti semua manusia hidup dengan KUTUK dong. ATAU KUTUK ITU BERARTI TUHAN UNDUR DIRI DARI KEHIDUPAN KITA (ALIAS CUEK).

KESIMPULAN : SEANDAINYA PDT.GL.MTH membuat tulisan tentang KUTUK, tetapi tidak tahu apa itu KUTUK, itu berarti SOK TAHU.
dan bagi gw itu KESOMBONGAN.

Banyak pengkhotbah sekarang ini mencoba membuat soal standarisasi soal hidup yang diberkati & hidup yang tidak diberkati. dan yang menjadi kesalahan terbesarnya ialah pengkhotbah tersebut MENGHAKIMI. dengan membuat kesimpulan dari KEHIDUPAN ORANG LAIN.

orang cacat dibilang kena kutuk, orang miskin dibilang kena kutuk, orang gila dibilang kena kutuk.
lebih parah lagi orang cacat, terus jadi miskin, terus jadi gila.
Tega kah TUHAN? gila kah TUHAN ? jikalau DIA harus MENGUTUK MANUSIA yang hidup sudah susah begini.

Berikut adalah cerita soal orang-orang coba membuat standarisasi & membuat kesimpulan tentang hidup orang lain.

LUKAS 13:1. Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
13:2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
13:3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
13:4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
13:5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."

O IYA, buat semua yang menghakimi HAI-HAI. wah lo semua rugi banget deh kalau gak ikut DIVING ROHANI sama dia, jangan cuma main dipermukaan, makin dalam-makin indah tuh pemandangan.
walaupun kadang-kadang gw tenggelam gelagapan.
soalnya sampai sekarang banyak blog-blog dia yang masih gw tentang.

FAKTANYA BANYAK DARI KITA (TERMASUK GW) SKSDST (SOK KENAL, SOK DEKAT, SOK TAHU) SOAL TUHAN.

Jesus Freaks,
"Live X4J, die as a martyr"

Submitted by hai hai on Thu, 2008-01-24 22:43

In reply to by jesusfreaks

Permalink

JF, walaupun dalam kedua bukunya “Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan” dan “Mematahkan Kutuk Anak Haram” Pdt. Gilbert Lumoindong tidak memberikan definisi tentang teori kutuk yang diajarkannya, namun saya mendefinisikannya berdsarkan apa yang diajarkannya:

Kutuk adalah suatu kekuatan yang berasal dari Iblis yang melekat pada manusia batiniah yang bersifat kekal dan diwariskan pada generasi berikutnya, yang keberadaannya disebabkan oleh Allah atau roh jahat atau manusia atau diwarisi dari leluhurnya, yang menyebabkan orang tersebut mengalami kemalangan dan atau melakukan perbuatan jahat di luar kehendaknya dan kekuasaannya.

Kutuk yang disebabkan oleh ucapan Allah disebut kutukan Allah, kutuk yang disebabkan oleh ucapan Iblis atau roh-roh jahatnya disebut kutukan Iblis sedangkan kutuk yang disebabkan oleh ucapan atau pikiran manusia disebut kutukan manusia. Iblis dan roh-roh jahatlah yang mewujudkan semua kutukan, baik kutukan Allah, kutukan manusia maupun kutukan Iblis.

OK, JF, sementara itu dulu dech. Terima kasih, beberapa komentar anda terakhir ini selalu membela saya dan melambungkan saya ke langit.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by xaris on Thu, 2008-01-24 20:04
Permalink

Ko Hai Hai,

Membaca copy-paste dari buku itu terus terang bikin hati saya geram. Padahal di alkitab (saya sering pakai NASB) terang2an ditulis, Ziba, a false servant sebagai judul perikop. Tapi membaca komentar2 yang muncul bikin saya jadi senyum.

Orang suka bilang kata "inner beauty" hanya penghalus kenyataan kalo outer beauty-nya ringsek, hehehe... Tapi biar ketawa saya masih percaya ada yang namanya inner beauty sejati. Nah, tulisan2 Ko Hai Hai tentang pengkhotbah2 ini seperti inner beauty candaan. Outer beautynya yang kurang dirawat bikin inner beautynya tak tampak.

Saya paham poin2 Ko Hai Hai (mudah2an ngga salah tangkep) dan setuju. Hanya saya merasa dari kalimat2 yang dirangkai, fokus Ko Hai Hai lebih kepada pribadi penulisnya, bukan pada kesalahan ajarannya. Ini yang saya maksud outer beauty (penyampaian) membuat inner beauty (kebenaran) jadi rada buram.

Kalo saya boleh terus terang, dengan cara pengungkapan Ko Hai Hai seperti itu, saya waktu mencoba menempatkan diri di posisi para penerima tulisan, merasa seolah Ko Hai Hai ngga lagi memberikan ruang untuk saling menguji, meskipun saya tahu Ko Hai Hai selalu, "Kita sama2 saling kasih tahu apa yang kita mau/tahu, kalo mentok, kita ngomong lagi." Tapi dengan bahasa seperti itu saya jadi merasa tertutup itu ruang buat kita saling menguji dan berdiskusi = ) That's your style, I know. But it will not suit many people. Di marketing sering dibilang kalo mau unggul/survive/menang, jadilah beda. Tapi mungkin untuk hal ini diferensiasi Ko Hai Hai perlu revisi lagi = )

Terakhir, saya senyum bacain komentar2nya karena saya pikir itu timbul karena mereka merasa pribadi mereka sendiri yang sedang diserang lho... Belum tentu para pengkhotbah itu yang mereka mereka "bela" mati2an. Tapi justru lebih banyak keyakinan/pendirian mereka. Itulah Ko, bahasanya itu lho, hehehe... Lebih mudah menganggap outer beauty Ko Hai Hai mencerminkan inner beauty-nya. Daripada melihat betapa bedanya kedua beauty itu in you. Itu sudah =)

Submitted by hai hai on Fri, 2008-01-25 01:21

In reply to by xaris

Permalink

Nona Xaris, silahkan tanya dennis pandangan saya tentang inner beauty, atau silahkan cari di salah tulisan saya. Tapi kita tidak akan membahasnya kali ini. Nona, kalimat-kalimat di bawah ini adalah kutipan yang saya pinjam dari salah satu transkrip kotbah. Saya sengaja tidak menyebutkan dari mana saya pinjam dan transkrip kotbah siapa ini untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu.

Ada seorang murid saya di Bandung yang meminta saya menjenguk dan menginjili seorang pemilik bank yang sakit keras. Saya pergi ke rumah sakit dan mendoakannya. Saya menjelaskan kepadanya bahwa Tuhan Yesus mencintai dia. Sesudah saya mendoakannya, ia mengatakan bahwa nanti kalau sembuh dia harus membantu gereja yang mana, karena begitu banyak pendeta yang mendoakannya. Saya menjawab, “Tuhan tidak membutuhkan pertolonganmu. Memang engkau pemilik bank yang kaya, tetapi maafkan, tolonglah dirimu sendiri. Karena yang perlu ditolong adalah jiwamu, yang kalau mati akan masuk neraka. Kristus datang mati bagimu. Engkau tidak perlu memberi persembahan, karena dari kalimatmu saya tahu bahwa engkau belum Kristen dan engkau belum mengerti apa itu persembahan. Khususnya gereja saya tidak akan memberikan alamat, karena engkau tidak berhak menolong kami. Engkaulah yang paling kasihan, yang memerlukan pertolongan Kristus. Itu sebabnya saya datang berdoa bagimu.” Dia sangat terkejut, dan saya juga sedikit terkejut melihat dia terkejut.

Lupakan siapa yang mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, namun silahkan hakimi dia dengan adil. Setelah merenungkan kalimat-kalimatnya, saya menyimpulkan bahwa dia bukan pengkotbah blagu, juga bukan pengkotbah bodoh, dia tahu kenapa dia mengucapkan kalimat-kalimat tersebut di atas.

Nona, bila seseorang mempelajari Alkitab lalu melakukan kesalahan ketika memahaminya, saya dengan senang hati mengajaknya diskusi, bahkan menggodanya perlahan-lahan hingga pada akhirnya dia menemukan kebenaran itu sendiri. Namun ketika seseorang menyatakan apa yang diajarkannya adalah kebenaran sejati yang didengarnya langsung dari Tuhan, mustahil mengajaknya untuk mempelajari Alkitab dengan cara yang benar agar menemukan kebenaran di dalamnya. Alkitab mencatatnya,  sejarah gereja mencatatnya, saya melihatnya sendiri. Ketika menghadapi orang-orang demikian  di bait Allah, Tuhan Yesus tidak mengajar, namun meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya. Ketika menghadapi orang-orang demikian, Martin Luther melakukan hal yang sama, meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya.
 
Tetapi lain kali saya janji akan memilih kata-kata yang lebih halus lagi nona Xaris. Terima kasih nona sudah mengingatkan saya!
 

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by xaris on Fri, 2008-01-25 12:57

In reply to by dennis santoso…

Permalink

Aduh Dennis, babinya tuh asli lucu banget! Ada bulu matanya ngga? Saya pernah punya boss demen banget koleksi pajangan babi2an. Saya sama temen sempet minta satu set pajangan babi2annya. Kita bilang biar meskipun saya dan dua temen saya lainnya itu jauh tapi tetep deket (masing2 pegang satu babi). Tapi babi kamu lebih gendut perutnya = D