
Dari tiga orang yang menjadi calon Presiden Indonesia pada pemilu 2009, tidak satu pun yang pernah jadi orang miskin.
Susilo Bambang Yudhoyono, lahir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 dari anak pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Dari ayahnya, silsilahnya dapat dilacak hingga Pangeran Buwono Keling dari Kerajaan Majapahit. Kustilah merupakan Sri Sultan Hamengkubuwono III.
Jusuf Kalla adalah anak pengusaha kaya di Sulawesi Selatan. Ia mewarisi NV. Hadji Kalla dan perusahaannya berkembang sangat besar.
Megawati adalah anak Presiden Soekarno. Dari kalimat ini pun kita sudah mendapat gambaran fasilitas apa saja yang ia nikmati sebagai anak presiden.
Para wakil presiden pun tidak berbeda. Mungkin Boediono dan Wiranto yang boleh dibilang berlatar belakang biasa saja. Walau begitu, mereka bukan berasal dari strata sosial terendah dalam masyarakat Indonesia. Prabowo pun anak seorang Soemitro Hadidjojokoesoemo, seorang menteri zaman Soekarno.
Lalu, dengan latar belakang seperti itu, bagaimana mereka menyatakan diri membela rakyat kecil? Mereka tidak pernah merasakan diri menjadi rakyat kecil.
Jadi, hanya dengan meneliti program mereka yang konkret—apakah program tersebut dapat diterapkan atau tidak—bisalah kita menilai, mereka peduli terhadap masyarakat atau tidak. Jika menilai dari jargon-jargon mereka, jelas mereka hanya memberikan janji manis.
Selain itu, mereka akan bekerja di dalam sistem ekonomi yang sudah mantap. Gembar-gembor tentang apa pun tidak akan mengubah drastis kehidupan rakyat. Sebab sistem itu sudah diletakkan sejak zaman kolonial hingga sekarang. Abdurrahman Wahid yang mencoba mengubahnya, malah terpental.
Jadi jika ada seseorang calon dicap sebagai penganut mazhab ekonomi tertentu, belum tentu yang memberi cap tidak melakukan hal yang sama saat dia berada di tampuk kekuasaan. Sebab, mereka semua mendapat keuntungan dari sistem ekonomi yang telah berlangsung ratusan tahun itu.
Maka, apa pun keputusan Anda, apakah hendak memilih atau menjadi golput, Anda harus terus kritis terhadap setiap kebijakan pemimpin yang bakal memimpin Anda lima tahun ke depan. Bahkan revolusi tahun 1998 pun tidak mengubah apa pun kan?