Hujan turun lagi. Bukan lagi sebuah kejutan. Titik-titik air itu rutin turun belakangan ini. "La Nina". Demikian orang-orang pintar itu menyebutnya di acara-acara berita di televisi - lengkap dengan segala analisa yang sulit saya cerna. Bagi saya hujan berarti basah dan becek. Hujan berarti sedikit penambahan pada sisi malas saya, karena hujan berarti lebih nyaman meringkuk di sudut kamar ketimbang keluar demi mengais rupiah.
Siang ini pun sang hujan sudah mengguyur. Gerutuan mulai muncul di ruang kantor. Kenapa hujan harus datang saat jam pulang seperti ini. Ada yang nekat menerobos hujan. Ada pula yang memilih menunggu. Yang pasti, semua orang menggerutu.
Perlahan gerutuan itu mereda menjadi sepi. Dalam sepi itulah sayup saya mendengar suara aliran sungai.
Sungai? Sungai yang mana? Setahu saya tidak ada sungai di sekitar sini. Yang ada hanyalah kali kecil tepat di sebelah dinding sekolah. Kali yang tak seberapa dalam itu pun nyaris selalu kering. Batu-batuan yang berserakan di dasarnya selalu saja tampak kering berkilauan ditempa sinar matahari. Lalu, mungkinkah suara air mengalir itu berasal dari kali kecil itu? Ataukah, ia hanyalah produk imajinasi saya?
Ketika hujan reda dan saya mulai melangkah meninggalkan bangunan itu, barulah saya sempat menengok rupa kali kecil itu. Bebatuan yang mencuat itu kini tak nampak lagi. Air telah memenuhi badan parit itu. Ternyata saya tidak berkhayal. La Nina, si gadis kecil pembawa hujan itu, telah memenuhinya. Ia yang tandus dalam sekajap berubah menjadi penuh melimpah.
Dalam perjalanan pulang, saya masih saja memikirkan kali kecil yang dalam sekejap penuh melimpah itu. Bukankah bila Tuhan berkenan, Ia sanggup mengubah segala yang tandus menjadi subur? Tentu saja.
Namun demikian, bukankah hujan itu bisa juga membludak menjadi banjir? Hal ini sangat mungkin terjadi. Untungnya kali kecil itu selalu saja relatif bersih. Jarang sekali ada sampah terlihat di sana. Sepertinya ia memang sudah lama bersiap menanti datangnya hujan. Lalu, bukankah kita juga harus seperti kali kecil itu: bersiap menanti datangnya "hujan". Hingga pada waktunya Ia berkenan menurunkan "hujan" itu, kita sudah siap.......