Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Kasih: 'I Want to Know What Love is' (4)

John Adisubrata's picture

Oleh: John Adisubrata

BILIK KASIH 

Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” (Pengkhotbah 1:8)

Kalimat yang dipergunakan oleh rock group Foreigner sebagai judul lagu mereka ‘I Want to Know What Love is’, ternyata bukan merupakan sebuah pernyataan ingin tahu yang tak terjawabkan bagi Rev Nicky Gumbel atau Count Leo Tolstoy saja, tetapi juga bagi banyak orang-orang lain pada umumnya.

Mereka semua mempertanyakan sebab-musabab ketidak-puasan hati, dan kesia-siaan segala sesuatu yang sudah berhasil dicapai sepanjang hidup mereka. Seperti yang dicatat oleh penulis kitab Pengkhotbah mengenai semua yang diperhatikan olehnya di dunia: “Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia belaka.” (Pengkhotbah 1:1-2)

Suatu analogi yang sederhana sekali bisa menjelaskan catatan Pengkhotbah tersebut, dan sekaligus memberikan pengertian secara gamblang sekali mengenai misteri kekosongan hidup yang tak terpecahkan, … disertai solusinya. Setiap orang yang sudah pernah mengalaminya, pasti dengan mudah dapat menghayati analogi ini.

Bagi mereka yang dilahirkan di negara-negara barat, dan dibesarkan dengan makanan-makanan pokok tradisi mereka sendiri, seperti roti, kentang, pasta dan lain sebagainya, tetapi bermukim di salah satu negara di benua Asia, mereka tentu memahami masalah yang akan mereka hadapi, jika setiap hari ‘diharuskan’ menelan nasi sebagai penggantinya.

Schapelle Corby, seorang narapidana muda berwajah cantik, berasal dari daerah Gold Coast, Australia, yang awal tahun 2005 telah dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun di pulau Bali, pernah mengeluh mengenai masalah yang sama, ketika ia diwawancarai oleh seorang wartawan dari negaranya. Schapelle diadili dan dinyatakan bersalah, karena ia terlibat di dalam usaha penyelundupan 4 kilogram ganja masuk ke Indonesia melalui bandar udara pulau Bali hampir 2 tahun sebelumnya.

Karena wajahnya yang menarik, dan juga proses pengadilannya di kota Denpasar yang menyebabkan terbongkarnya beberapa ‘hal-hal’ menghebohkan yang diduga terjadi di dalam lapangan udara kota-kota besar Australia, berita mengenai dirinya pada saat itu menjadi berita sensasi terhangat di sana. Dan oleh karena cara-cara penyampaian berita yang menunjukkan rasa simpati berlebih-lebihan dan yang amat memihak kepadanya, banyak sekali penduduk negara itu merasa yakin, bahwa ia tidak bersalah dalam kasus penyelundupan ganja tersebut.

Semenjak saat itu status diri Schapelle di mata masyarakat Australia menjadi berubah sekali. Ia bukan seorang narapidana yang bersalah lagi, tetapi seorang ‘celebrity’ yang amat disayangi media dan masyarakat negaranya. Oleh karena itu banyak sekali orang-orang yang tergerak hatinya untuk menolong wanita muda ini dengan bantuan moril maupun materiil, agar ia dapat membuktikan di hadapan para penegak hukum di Indonesia, bahwa ia tidak bersalah.

Melalui suatu wawancara singkat ia mengungkapkan rasa tidak senang akan jenis-jenis makanan yang setiap hari harus disantap olehnya di penjara. Selama ia terkurung di sana, dari hari ke hari nasi putih selalu menjadi makanan pokoknya, baik untuk sarapan pagi, makan siang, bahkan untuk makan malam. Schapelle mengatakan, bahwa ia sudah merasa muak menyaksikan nasi yang sama dihidangkan kepadanya di atas piring aluminium penjara! Ia rindu akan makanan pokok negaranya sendiri, yaitu: roti, yang menurut dia merupakan satu-satunya bahan makanan yang bisa membuat dirinya merasa puas!

Bagi orang-orang barat lainnya yang selalu berkelana di dunia, ungkapannya bukan merupakan sesuatu hal yang aneh, karena tentu saja sesuai dengan pengalaman yang mereka lalui sendiri, mereka dapat menghayati rasa jengkel yang diutarakan oleh Schapelle Corby.

Begitu juga kebalikannya, … setiap orang yang berasal dari salah satu negara di benua Asia, yang sebelum pergi merantau, sepanjang hidupnya memakan nasi putih pagi, siang dan malam, tentu akan mengalami kesulitan yang sama, jika sepanjang hari perut mereka tidak dipuaskan oleh makanan pokok tersebut.

Berdasarkan hasil percakapan-percakapan dan diskusi-diskusi mengenai pengalaman banyak orang dari pelbagai negara di Asia, yang sedang hidup dirantau orang di negara-negara barat, dapat disimpulkan suatu persamaan pendapat yang amat menakjubkan. Dengan penuh keseragaman mereka mengakui, bahwa seolah-olah di dalam tubuh mereka terdapat dua perut yang terletak berdampingan.

Perut yang pertama bisa menerima berbagai jenis santapan, yang seketika itu juga dapat memuaskan diri mereka, meskipun untuk jangka waktu sekejab saja. Tetapi perut mereka yang kedua, yang terpenting, hanya dapat dipuaskan oleh makanan pokok mereka sendiri, yaitu nasi putih. Setiap kali mereka merebahkan diri untuk beristirahat di waktu malam, tubuh mereka akan selalu merasa tidak lengkap, jika hanya perut yang pertama saja yang terisi oleh sayur, daging, roti, kentang, pasta, atau bahan-bahan makanan lainnya. Karena … perut yang kedua masih tetap menunggu kehadiran nasi putih di dalamnya!

Melalui keselarasannya, analogi sederhana tersebut tampak sangat mudah untuk dipakai sebagai suatu landasan guna menjelaskan sebab-sebab ketidak-puasan hidup umat manusia. Karena bagaikan kiasan dua bagian perut yang berada di dalam tubuh orang-orang Asia, ditinjau secara rohani, seolah-olah di dalam diri setiap orang juga terdapat dua ruang kehidupan yang terletak berdampingan, yang selalu rindu untuk diperhatikan. 

Ruang kehidupan yang pertama adalah sebuah ruang yang mudah sekali dipuaskan oleh segala sesuatu yang telah dicapai seseorang, diukur dari standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia, seperti: kesibukan atau kesuksesan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga yang patut dijadikan teladan orang-orang lain, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, harta kekayaan yang berkelimpahan, melakukan tindakan amal, penampilan yang ‘sempurna’, dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang ruang tersebut dijejali dengan kepuasan-kepuasan semu yang didapatkan melalui penyalah-gunaan obat-obat bius atau dari hubungan-hubungan tanpa moral yang sudah direstui oleh umum.

Semua itu dapat segera memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan yang pertama. Tetapi rasa puas tersebut akan menjadi luntur, dan berlalu secepat berubahnya pendapat atau sikap manusia! Mereka akan merasa bosan, dan menuntut kesempatan-kesempatan lain yang belum terjangkau, seperti yang sudah diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel dan Count Leo Tolstoy sebelumnya. 

Tanpa sadar, mereka terus berusaha melengkapi hidup dengan memenuhi dan mengisi ruang yang pertama saja! Padahal ruang kehidupan mereka yang kedua tetap kosong, terbengkalai dan tak terpuaskan, karena ruang itu masih terus menantikan SESUATU yang paling penting, yang dapat mengubah sikap hidup mereka!

Apakah atau SIAPAKAH, yang satu-satunya dapat mengisi dan memuaskan ruang kehidupan yang kedua? Apakah ruang tersebut terus menanti-nantikan kehadiran KASIH sejati, yang dapat memenuhi dan memuaskannya, seperti teriakan memilukan syair lagu ‘I Want to Know What Love is’?

“Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” (Mazmur 107:9)

(Bersambung) 

KASIH:‘I WANT TO KNOW WHAT LOVE IS’ (5) 

SANTAPAN KASIH