Submitted by Vantillian on
Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. ( Roma 7:14-15 )
 
Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? ( I korintus 10:29)
 
Manusia selalu menjunjung tinggi kebebasan. Kebebasan dalam berbicara, menyampaikan pendapat, mendapat pendidikan yang layak, demokrasi. Dalam bidang manapun, kebebasan adalah isu sentral yang seringkali mengendalikan arus sejarah dunia. Lihatlah semua sejarah dunia dan pemberontakan yang terjadi, itu semua adalah atas dasar KEBEBASAN. Freedom. Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan. Kebebasan selalu diidentikkan dengan kebenaran dan keadilan. Siapa yang bisa disebut adil? Dialah yang menjunjung tinggi kebebasan. Siapa yang bisa disebut benar? Dialah yang memperjuangkan kebebasan. Kebebasan adalah isu dalam segala kehidupan. Dalam mendidik anak, sang anak harus diberi kebebasan memilih. Dalam mengajar murid, sang murid harus diberi kebebasan belajar. Dalam memilih jodoh, orang tua harus memberikan kebebasan bagi anak. Mengekang kebebasan adalah perbuatan tak bermoral. Karena itu salah. Seorang manusia hanya bisa disebut MANUSIA jika ia BEBAS. Jika masih terikat atau budak, berarti perikemanusiaannya terkekang. Seorang anak yang dewasa harus bisa memutuskan arah hidupnya dengan bebas. 
 
Kebebasan juga merupakan isu sentral dalam doktrin kekristenan. Mulai dari sifat Allah, karya keselamatan, iman sampai kita menjalani hidup, semua itu berhubungan dengan kata kebebasan. Apakah orang yang memilih percaya dan tidak percaya disebut manusia bebas? Apakah Injil adalah Kabar Baik bagi kebebasan manusia? Apakah injil menawarkan kepada manusia suatu kebebasan memilih? 
 
Tema yang paling disinggung dalam hal kebebasan adalah doktrin predestinasi. Apakah predestinasi meniadakan kebebasan manusia? Apakah kalau Allah bertindak, manusia menjadi tidak bebas? Apakah kehendak manusia bisa membatalkan kehendak Allah? Apakah manusia bisa menarik paksa tangan Allah untuk turun dari sorga dan melakukan mujizat? 
 
PANDANGAN SEORANG VANTILLIAN
 
Definisi Kebebasan adalah definisi yang paling tidak jelas didefinisikan. Bebas apa artinya? Apakah itu berarti saya bebas memilih sepatu mana yang akan saya pakai? Atau memilih jodoh saya? Atau bahkan memilih percaya atau tidak percaya kepada Yesus?
 
Vantillian mengartikan kebebasan adalah kehendak yang dapat melakukan suatu pemilihan atas dasar independensi diri. Maksudnya tidak dipengaruhi oleh FAKTOR LUAR apapun. Itulah kebebasan sejati. Saya mencintai, karena saya hanya ingin mencintai. tetapi apakah definisi vantillian memadai? Bukankah ketika seorang kekasih mengatakan kalimat : Saya mencintai kamu, karena saya bebas ingin mencintai kamu, maka orang yang dikasihinya akan merasa kurang puas? Apakah bebas mencintai adalah alasan yang cukup kuat? Seandainya diuji, maka cinta secara bebas akan menjadi tak bermakna. Kita diharuskan mencintai karena ada faktor lain. Bukankah ketika kita mengatakan saya bebas ingin mencintai kepada istri kita, mungkin istri kita akan mengganggap kita egois? Jadi, cinta kita hanya karena kita bebas? Bukankah lebih baik kita katakan : Saya mencintai engkau, karena engkau cantik, kaya, tampan, dan bisa diandalkan?
 
Bebas selalu mengaitkan dengan PRESUPOSISI bebas, yaitu harus ada suatu dasar kebebasan untuk menjadikan kebebasan itu menjadi berarti. Memperjuangkan kebebasan bagi penjajahan itu adalah hal yang baik dan suatu keharusan. Tetapi sekedar memperjuangkan kebebasan adalah hal yang absurd. Bebas untuk apa? Bebas dari apa? Untuk apa bebas kalau terikat lebih baik? Bukankah demokrasi juga terbentur dengan dilema ini? Demokrasi yang ke-blabla-san. Demokrasi adalah hal yang absurd. Memang demokrasi harus diperjuangkan. tetapi untuk apa? Untuk mewujudkan kebebasan? Kalau semua merasa kebebasan sendiri harus diperjuangkan, demokrasi menjadi kacau. Kebebasan akhirnya mematikan kebebasan itu sendiri.
 
Kebebasan tentu harus dibatasi. Tidak ada yang setuju dengan kebebasan yang sembarangan. Tetapi kebebasan yang dibatasi, apakah itu kebebasan sejati? Bukankah ini berarti kita cuma bebas secara semu? Ada yang harus kita pikirkan lebih dalam. Benarkah kita bebas? Bebas memilih tanpa ada faktor luar? Saya suka warna hitam. Saya akan bebas memilih warna baju hitam dibandingkan warna lain, tapi apakah dengan demikian saya dikatakan bebas memilih? Bukankah banyak faktor yang menyebabkan saya memilih hitam? Mengapa saya suka hitam? Saya suka karena saya bebas suka? Bukankah kesukaan kita ada hubungan dengan masa lalu dan genetika kita? Bukankah sepertinya wanita dan pria telah terprogram dalam melakukan sesuatu sehingga keduanya sering bertentangan? Dengan demikian vantillian menyatakan bahwa kehendak bebas itu ada secara semu. Sepertinya ada, tetapi terikat. Sepertinya bebas, tapi mesti ada aturan. 
 
PETA TELADAN MANUSIA
 
Pembelaan terhadap kehendak bebas manusia sering didasarkan atas peta teladan Allah. Manusia adalah Gambar rupa Allah. Karena ALlah bebas, maka manusia juga bebas. Bukankah ini adalah penyederhanaan berlebihan? Pernyataan ini harus didasarkan atas pertanyaan MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA? Apakah Allah menciptakan manusia untuk menjadi makhluk bebas? Peta Teladan Allah dalam diri manusia apa maksudnya? 
Kejadian  1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
 
Kejadian 5:3 Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.
 
Bukankah Peta teladan Allah dalam diri manusia adalah PERWAKILAN dan MANDAT yang diberikan Allah kepada manusia untuk berkuasa atas alam? Manusia mewakili Allah dalam menjalankan mandatnya di dunia. Manusia TERIKAT kepada perwakilan ini. Allah tidak memberikan kepada manusia KEBEBASAN MEMILIH untuk MENGIKUT DIA atau TIDAK. Sekali lagi saya tuliskan : Allah tidak memberikan kepada manusia KEBEBASAN MEMILIH untuk MENGIKUT DIA atau TIDAK.
Dengan demikian, manusia terikat kepada Penciptanya. Inilah dasar yang penting perbedaan PENCIPTA dan CIPTAAN. Salah memahami hal ini, akan mengakibatkan pemahaman yang keliru. Salah memahami ini, maka ciptaan akan berebut menjadi pencipta. Itulah akar dosa. Bukankah Hawa tergoda karena ingin menjadi pencipta? bukankah itu adalah esensi kebebasan? Bebas dari Allah?
 
II Korintus  3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Kolose  3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
 
Keselamatan dari Allah untuk orang yang percaya akan memperbaharui gambar Allah yang telah rusak. Gambar yang diubahkan adalah gambar yang mengikatkan kembali manusia dengan Penciptanya. Gambar yang dimana manusia kembali menjadi wakil Allah untuk menjalankan fungsi sebagai orang yang telah ditebus. Dimana manusia tidak bebas lagi sebagai manusia yang lepas dari kebenaran. Tetapi terikat kepada kebenaran. Kita tidak ditebus supaya hidup bebas. Kita ditebus dan dimerdekakan dari dosa. Untuk terikat kepada kebenaran. Tidak ada kebebasan orang kristen yang lepas dari kebenaran.
 
I Korintus 7:35 Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.
 
HAMBA KEBENARAN dan HAMBA DOSA
Roma 6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Menarik sekali, Alkitab seringkali hanya mengkutubkan dua kebenaran ini : Menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran.
Roma  6:20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.
 
Ketika saya bebas memilih, maka saya akan memilih apakah saya mau menjadi hamba dosa atau kebenaran. Tapi nyatanya, tidak ada yang bebas, karena semua manusia adalah hamba dosa. Bahkan ketika kita telah ditebus, kita disebut hamba kebenaran. Yesus sering menggunakan perumpamaan tentang hamba. Bukankah hamba tidak dapat memilih Tuannya? Bukankah hamba tidak dapat menggunakan hak pilihnya dengan bebas?
 
DOSA adalah pelanggaran hukum Allah
 
Dosa adalah kondisi kehilangan kemuliaan Allah. Pelanggaran hukum Allah. Seorang murid melanggar peraturan sekolah, itu menandakan bahwa murid tersebut terikat kepada peraturan tersebut. Tidak ada pilihan bagi siswa selain menaati peraturan. Ketika tidak menaati, itu namanya pelanggaran. Jadi, pelanggaran bukan merupakan pilihan bebas kita untuk melanggar. Ketika ditanya, apakah siswa tersebut INGIN secara BEBAS melanggar peraturan? Adakah siswa yang menjawab, saya memang ingin melanggar peraturan? Kondisi inilah yang dialami oleh Adam dan Hawa. Itulah dosa. Dosa adalah pelanggaran. Apakah Adam dan Hawa sengaja BEBAS INGIN melanggar hukum Allah?
 
KEHENDAK BEBAS TERIKAT DAN SEMU
 
Sampai akhir perenungan seorang vantillian, kehendak bebas tetap tidak bisa terpikirkan dan terdefinisikan dengan baik. Apakah saya bebas? BENAR-BENAR bebas? Atau bebas secara semu? Atau mungkin ada perenungan dari blogger SS yang lebih memadai? Semoga menjadi berkat...
 
Sola Scriptura