Nama tengahnya Setyo,
Wajahnya waktu kecil sungguh manis seperti ibunya, makin remaja semakin manis dengan senyumannya yang malu-malu untuk menyembunyikan gigi gingsulnya, padahal gigi gingsul itu tidak mengurangi daya tarik dari senyumnya.
Aku menyayanginya seperti adikku sendiri, entah kenapa setiap melihat wajahnya selalu mengingatkanku pada almarhum kakakku yang sudah dipanggil Tuhan lebih dulu.
Ketika remaja aku meminta ijin ibuku untuk ikut aku dengan menjadi bagian dari keluargaku dan pindah sekolah di Jakarta. Selesai sekolah lanjutan atas dia mengambil kursus-kursus dan kemudian dia diterima bekerja di sebuah bank yang cukup terkenal di Jakarta berkat koneksi dari salah satu teman di gerejaku.
Dia bekerja dengan rajin dan tekun, berangkat pagi dan pulang malam hari, sayang dia tidak mau melanjutkan sekolahnya sehingga karirnyapun tidak bisa meningkat ke posisi yang lebih baik, dan dia cukup puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Meski begitu penghasilannya cukup untuk membiayai hidupnya, terkadang bahkan ada kelebihan yang bisa dipakai untuk membantu famili dan teman-temannya yang sedang kesulitan. Setyo juga rajin dalam kegiatan persekutuan kaum muda di gereja. Banyak pemuda baik-baik yang ingin mengajaknya berumah tangga, tetapi menurutnya belum ada satupun yang menyangkut dihatinya.
Memang ada beberapa pemuda yang pernah disukainya, tapi sayang mereka itu berbeda keyakinan, dan dia sudah berkomitmen untuk tidak akan menikah dengan pemuda yang tidak seiman.
Pernah salah seorang kakakku menegurku kenapa aku tidak mengajarinya bagaimana cara memikat seorang calon suami, karena dianggap aku cukup dekat dengan Setyo ini.
Akupun tidak terima dan menjawabnya meski diajari sampai bagaimanapun kalau anaknya tidak mempedulikan ya percuma saja.
Berkali-kali aku mencoba menolongnya dengan menganjurkan beberapa pemuda baik-baik untuk mendampinginya, tapi semuanya ditolaknya secara halus, akhirnya akupun berhenti untuk membujuknya.
Sampai usianya sudah kepala empat, barulah Setyo mulai berpikir untuk berumah-tangga, sebenarnya sudah telat, namun pada akhirnya dia menerima seorang duda beranak dua yang telah lama ditinggal mati oleh istrinya, yang kelihatan secara lahir sangat baik, maksudnya dalam sikap, tutur kata dan sopan-santunnya sangat menarik. Maka menikahlah Setyo dengan duda tadi atau sebut saja Nano(bukan nama sebenarnya).
Baru beberapa bulan menikah ketahuanlah belangnya si Nano ini, yaitu sebut saja tukang selingkuh dan tukang ngutang, sudah begitu memperlakukannya seperti pembantu.
Setyo harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan makanan buat suami dan anak-anaknya sebelum dia berangkat kerja, meski suaminya hanya memberi uang belanja yang minim, maka terpaksalah Setyo memakai uang dari hasil keringatnya sendiri untuk menutupi kebutuhan belanja.
Ketika kemudian terjadi masalah dikantornya dan ada tawaran buat para karyawan bank yang mau phk dengan pesangon yang cukup menarik, maka Setyo pun memilih menerima tawaran dan berhenti bekerja.
Setelah Setyo berhenti bekerja dan Nano mengetahui kalau Setyo mempunyai uang pesangon, maka berkali-kali Nano memintanya untuk dibelikan motor, ac, hp, dll. Setyo pun berusaha memberinya sebatas itu memang merupakan keperluan yang bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Saat Nano memintanya untuk melunasi mobil kijang cicilannya dan membayar hutang-hutangnya, Setyopun dengan tegas menolaknya.
Saat pertama kali Setyo mengadu ke aku mengenai masalahnya dan juga mengadu ke famili yang lain, hampir semua kecewa dan bereaksi dengan menyarankan untuk meninggalkan suami dan anak-anak tirinya yang kurang ajar itu.
Anak-anak tirinya inipun sudah berani memaki ibunya jika ibunya tidak memberikan apa yang diinginkannya.
Tetapi apa jawaban Setyo ketika kami menyarankannya untuk pisah dengan suaminya ?
Dia bilang ”apa yang sudah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia”.
Lalu akupun menjawabnya memang benar”, tapi itu kan bagaimana dulu karakter si suami, kalau suaminya memang sayang sama istri ya bolehlah seorang istri tunduk kepada si suami, lha kalau suami seperti suamimu yang amburadul itu kan malah bisa betul-betul membuatmu sengsara.
Aku sedih melihatnya seperti itu, wajahnya yang dulu ceria dan manis kini sudah kelihatan berubah menjadi layu dan bahkan menderita kiste diperutnya. Rupa-rupanya kesedihan dihatinya mempengaruhi kondisi tubuhnya. Aku yang selama ini sering menemukan beberapa teman yang suaminya pernah selingkuh, tidak pernah menyangka kalau orang yang saya kasihi akan mengalami hal yang sama.
Meski begitu Setyo dengan tekun memohon kepada Tuhan agar suami dan anak-anaknya menyadari kekeliruannya dan merubah kelakuannya yang tidak baik.
Rupa-rupanya dia hanya ingin curhat saja kalau menemuiku dan bukan untuk mendengarkan nasehat maupun saranku, dia sudah memilih jalan kehidupannya dan menerimanya dengan tulus dan ikhlas, hanya pada saat tertentu ketika dia merasa tidak sanggup dan memerlukan dukungan dia datang kepadaku.
Ketika hari minggu kemarin saat pagi-pagi di gereja untuk mendengarkan kotbah, kebetulan nats nya terambil dari Matius 16:22-23à
21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridnya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ” Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”
23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus:Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”.
Mungkinkah saranku ke Setyo itu termasuk Iblis yang berkedok” untuk membuat Setyo tidak mampu bertahan” dan melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai istri setia yang sudah disatukan oleh Tuhan dan diberkati-Nya”, untuk menolong suaminya (yang katanya termasuk aktivis di komunitasnya tetapi kelakuan dan tidak-tanduknya jauh dari firman Tuhan) berbalik serta mematuhi dan taat kepada Firman Tuhan.
Setyo tidak berhenti berdoa dan berharap pada Tuhan agar diberi kekuatan dan kemampuan untuk selalu bersedia mendoakan Nano agar Nano tetap termasuk dari bagian manusia yang diselamatkan dan segera bertobat.
Rupa-rupanya tidak sia-sia orang tuanya memberi nama Setyo, karena itulah yang menjadi karakternya.
Salam”