Submitted by Liem Sien Liong on

Ayub tidak pernah mengerti mengapa orang benar harus menderita, sebab ia sendiripun berpegang pada konsep “tabur-tuai.” Kitab Ayub hanya menjelaskan bahwa Iblislah yang mendakwa dan berusaha menjatuhkan kepercayaan Ayub kepada Allah (1:6-12; 2:1-6). Namun, mengapa Allah mengizinkannya?

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa Allah mengizinkannya terjadi pada Ayub karena Ia hendak mempermalukan Iblis melalui diri Ayub. Namun hal ini tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sebab jika hal ini adalah benar, maka Allah sedang mempertaruhkan kebenaran-Nya pada pilihan Ayub. Kebesaran-Nya bergantung pada Ayub. Jika Ayub gagal, maka Allah dipermalukan. Jawaban ini jelas tidak Alkitabiah.

Allah begitu membanggakan Ayub dihadapan iblis (2:3), namun kemudian Ia membiarkan Iblis mencobainya. Mengapa Allah melakukannya? Mungkin kita dapat memberikan jawabnya bahwa hal itu terjadi jarena Allah sedang menguji iman Ayub. Jawaban ini tentu saja benar, namun apakah setiap penderitaan berarti ujian terhadap iman? Paulus berkata: “Kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29). Meskipun penderitaan dapat menjadi ujian (Yak. 1:2-3), namun tidak setiap penderitaan adalah ujian, tetapi kasih karunia.

Ayub menderita bukan karena dosanya, tetapi karena Iblis menuduhnya. Ayub menderita juga bukan karena ujian terhadap imannya, karena Allah sendiri telah memberikan kesaksian bahwa dia adalah orang yang saleh, jujur, dan takut akan Allah (2:3). Bahkan di akhir kisah Ayub terbukti bahwa dia memang saleh, jujur dan takut akan Allah. Lalu mengapa Allah mengizinkan Ayub menderita? Jawabannya adalah bisa ujian iman,tetapi juga bukan ujian iman (kasih karunia). Ayub sendiri tidak mencari tahu hal ini. Sebaliknya, dia hanya tetap dalam ketekunannya. Bagaimana dengan kita?