Submitted by Debu tanah on

Benarkah manusia adalah ciptaan Allah yang mulia? Aku nyaris tidak percaya, karena mataku sendiri telah melihat perbuatan-perbuatan jahat yang sanggup dilakukan oleh manusia yang katanya diciptakan menurut rupa dan gambar Allah…





Seorang yang telah diberi hikmat oleh Allah berkata:



Pengkotbah

3:18 Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: "Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang."

3:19 Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.

3:20 Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.

3:21 Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi.

Hampir setiap hari aku melihat berita di TV: seorang anak tega membunuh orang tua nya, seorang ibu tega membunuh bayi yang baru dilahirkannya, seorang suami membunuh istrinya dan sebaliknya, dst… Mengapa hati manusia penuh dengan kebencian? Bagaimana bisa seorang anak membenci ibunya? Kenapa bisa seorang ibu membenci anaknya sendiri? Kadang aku juga berkata: “Ya, manusia itu hanyalah binatang, sama seperti binatang!”





Aku bertanya: kenapa semua ini terjadi? Allah lah yang telah mengijinkan semua ini terjadi. Ini terjadi karena Allah “terlanjur” menyerahkan dunia ini kepada orang jahat (Ayub 9:24) dan Allah tidak segera menghukum manusia yang berbuat jahat, itulah sebabnya hati manusia penuh dengan niat jahat (Pengkhotbah 8:11).



Seorang yang diberi hikmat oleh Allah saja telah berkata bahwa manusia bisa disamakan dengan binatang yang akan dibinasakan. Siapa kah saya ini? Aku sering tidak percaya, mengapa Dia berkenan menebus saya dari lumpur dosa? Aku sering tidak percaya bahwa Dia sudi mendengar doa ku?



Apakah yang dapat kulakukan ?



Ini yang kulakukan: aku merendahkan diri dihadapan Nya, berharap kepada Nya, semoga Dia mau bermurah hati, semoga Dia mau menyatakan diri-Nya. Dalam hati aku berkata, aku akan “menguji” Allah, bila aku merendahkan diri dihadapanNya dan berseru kepada nama-Nya yang kudus, aku akan melihat apakah Dia akan menepati janji-Nya….



Tetapi dalam hati-ku, aku punya sikap dan prinsip begini: sekalipun Dia tidak mau mendengarkan aku, aku hanyalah debu tanah yang tidak berharga, syukur-syukur Dia berkenan kepadaku…. Bila tidak, aku hanyalah hamba yang tak berguna yang tidak berhak apa-apa…. Namun ada secercah harapan, dalam kitab-Nya ada tertulis seorang hamba-Nya yang bersikap seperti ini, dan dia ditinggikan oleh Tuhan…