Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Mengapa kita mengenal 4 Injil?

victorc's picture

Mengapa kita mengenal 4 Injil?

Oleh Victor Christianto

 

Shalom aleikhem,

Mungkin ini salah satu pertanyaan klasik yang kerap diajukan oleh mereka yang belum atau baru percaya.

Dari sudut teologi Perjanjian Baru, biasanya dibedakan antara ketiga Injil Sinoptik: Matius, Markus, Lukas, dengan Injil Yohanes yang dianggap agak berbeda dari Injil Sinoptik tersebut.

Secara umum, dikenal suatu masalah yaitu banyaknya kemiripan yang mencolok dari ketiga Injil Sinoptik. Hal ini disebut problem Sinoptik.

Ada hipotesis yang umum dipegang oleh para ahli Perjanjian Baru yaitu adanya sumber bersama dari ketiga Injil Sinoptik tersebut. Beberapa alternatif atau varian dari kemungkinan penyebab sumber bersama tersebut:

a. Markan Priority

b. Mathean Priority

c. Hipotesis 2 sumber

d. Dll

 

Pada intinya yang disebut dengan Markan Priority adalah suatu hipotesis bahwa Markus dan sumber lain yang belum ditemukan (disebut Q) yang menjadi sumber rujukan utama dari Injil Matius dan Lukas. Q tersebut dari Quelle yang dalam bahasa Jerman berarti sumber.

Dan yang disebut dengan Mathean Priority adalah suatu hipotesis bahwa Matius dan sumber lain yang belum ditemukan (disebut Q) yang menjadi sumber rujukan utama dari Injil Markus dan Lukas.

Hingga kini perdebatan terus berlangsung antara pendukung masing masing hipotesis. Bahkan ada kelompok yang disebut Jesus Seminar, pernah membundel keempat Injil bersama dengan Injil Thomas, mungkin dengan asumsi bahwa Injil Thomas yang berisi perkataan perkataan Yesus kepada Thomas, dianggap lebih dekat dengan Q yang lama belum ditemukan.(3)

 

Eta Linnemann

Penulis sangat bersyukur berkesempatan membaca salah satu buku karya Prof Eta Linnemann (alm). (1)

Beliau adalah profesor ahli Perjanjian Baru, salah seorang murid terbaik dari Rudolf Bultmann. Beliau sangat paham dan terlatih dalam menggunakan metode historis kritis dalam menganalisis teks teks Kitab Suci. Setelah mengajar cukup lama di almamaternya sebagai pakar Perjanjian Baru, dan buku-buku yang ditulisnya menjadi buku pegangan di berbagai seminari, akhirnya suatu hari beliau mengalami pertobatan yang mengguncangkan seluruh landasan pengetahuan yang telah dimiliki.

Setelah proses pertobatan itu, beliau memutuskan untuk meninggalkan jabatannya sebagai profesor Perjanjian Baru di Jerman, lalu memilih untuk mengajar di suatu seminari di Indonesia. Kini beliau sudah menghadap Sang Khalik.

Salah satu hal yang beliau tulis dalam buku mengenai teologi kontemporer (pasca pertobatan dan setelah tinggal di Indonesia), adalah bahwa problem Sinoptik dan juga teori prioritas Markan dan prioritas Mathean itu hanyalah fiksi belaka. (1)

Sebaliknya beliau menegaskan, bahwa alasan sesungguhnya mengapa kita mengenal 4 Injil adalah karena menurut hukum Taurat, sebuah perkara dapat diputuskan jika telah ada kesaksian dari 2 orang saksi. 

Ulangan 19:15

"Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat seseorang mengenai perkara kesalahan apa pun atau dosa apa pun yang mungkin dilakukannya; baru atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan."

 

Dengan adanya 4 Injil, yang dua di antaranya ditulis oleh saksi mata dari apa yang dilakukan Yesus Kristus semasa Dia hidup, dan dua lagi ditulis oleh pelaku sejarah yang hidup semasa dengan para rasul (Markus adalah murid langsung Rasul Petrus dan dokter Lukas adalah murid dan rekan seperjalanan Rasul Paulus), maka seharusnya kita bisa yakin akan kesaksian keempat Injil tersebut, sekalipun memang keempat penulis Injil menulis dengan gaya dan penekanan yang khas masing-masing.

Saya kira kesimpulan beliau mirip dengan hasil pencarian seorang wartawan yang skeptis, namun akhirnya percaya akan berita Injil, yakni Lee Strobel. Karya Strobel, the Case for Christ, sudah difilmkan.(2)

Saya yakin sebagai mantan gurubesar Perjanjian Baru, Prof Eta Linnemann (alm.) tahu apa yang dikatakannya.

Namun tentunya kembali kepada para pembaca apakah akan mempercayai berita keselamatan melalui Yesus Kristus atau tidak.

Seperti petikan salah satu dialog dalam film The Case for Christ, semua bukti menguatkan sudah tersedia, pertanyaannya adalah: apakah kita mau mengambil lompatan iman?

Tuhan Yesus memberkati pembaca sekalian.

 

Versi 1.0: 4 Januari 2021, pk. 08.01

VC

 

Bacaan lanjutan:

(1) Eta Linnemann. Teologi Kontemporer: Ilmu atau praduga? Url: https://www.google.com/amp/s/shopee.co.id/amp/Teologi-Kontemporer..Prof.DR.Eta-Linnemann-i.91209160.3650401746

(2) Lee Strobel. The Case for Christ, movie review (2017). Url: https://m.imdb.com/title/tt6113488/

(3) Jesus Seminar: presuppositions and pretensions. Url : https://www.reasonablefaith.org/writings/popular-writings/jesus-of-nazareth/presuppositions-and-pretensions-of-the-jesus-seminar/

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.