).
***
“sekalipun mulutku sampai berbusa ngomong sama kamu, itu tak akan pernah merubah semuanya, kalo dari kamu sendiri tidak pernah mau berubah”, itu isi SMSku, yang aku pikir akan menjadi SMS terakhir pada seseorang yang sudah teralalu sering aku ingatin.
Meski sampai sekarang aku masih saja sering mengingatkannya, aku pikir itu pekerjaan Roh Kudus. Karena sebenarnya, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mahluk yang satu ini. Tapi aku tetap saja mengirimkan SMS padanya, apabila aku merasa perlu mengingatkannya. Karena menurutku apa yang ia lakukan tidak baik bagi seorang gadis, yang bisa sangat merugikan diri sendiri dan keluarganya.
***
“kak, ini cara supaya aku tidak bosan dan bete” kata seseorang lagi padaku, ketika aku menatapnya dengan mata agak melotot, tanpa berpaling sedikit pun, saat ia mulai membuka bungkus itu dan mengeluarkan isinya dan menjepitnya di kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
Mahluk yang satu ini, memang paling pintar berkelit dan membela diri, bahkan ia mengajakku berdebat supaya ia bisa mempertahankan pendapatnya. Pembelaannya terlihat masuk akal, tapi aku tak ingin itu menjadi alasan untuk aku berhenti mengingatkannya. Karena pembelaannya menurutku, bukan alasan tapi lebih pada perasaan tidak mampu yang seharusnya dapat ia sadari.
***
Lagi tentang seseorang teman, yang waktu itu dalam kondisi tidak normal, sempat bercerita padaku. Ia kembali lagi pada kekasih lamanya, yaitu botol-botol kesayangannya. Alasan klasik, karena orang-orang di sekitarnya tidak pernah mendukungnya, apalagi gadis yang ia taksir selama ini, menolaknya mentah-mentah, dengan alasan bahwa gadis itu belum mau pacaran. Tapi beberapa minggu selang kejadian itu, gadis tersebut terlihat sering jalan berdua dengan sahabatnya sendiri.
Ia berpendapat, bahwa apa yang kembali ia lakukan adalah hal terbaik untuk menghilangkan rasa kecewa dan jenuhnya.
Saat mendengar cerita itu, aku hanya bisa menjadi seorang pendengar tanpa ingin berkomentar, karena percuma saja bila saat itu aku komentar.
Selang beberapa hari, aku kembali bertanya tentang perkembangannya, ia hanya tertawa hambar dan masih dengan pendapat yang sama, “begitu lebih baik, dari pada aku menjadikan mereka musuh” katanya dengan nada sumbang.
Satu kalimat, yang aku ingat sempat aku katakan padanya, “ketika seseorang melakukan perubahan yang tidak didasari pada kesadaran pribadi, maka perubahan itu tidak akan tahan uji”. Mungkin kalimat itu tidak akan berpengaruh, tapi setidaknya aku sudah melakukan apa yang dapat aku lakukan.
Sampai sekarang, aku masih mendengar kabar, bila dia masih ada dalam kebiasaannya.
***
Terakhir tentang seorang yang aku anggap senior, yang sangat suka menguasai gitar ketika kami sedang persekutuan.
Meskipun tidak semua musik yang ia mainkan salah, tapi sangat sering kami harus berhenti bernyanyi, untuk menyesuaikan suara kami dengan musik yang ia mainkan atau bila terpaksa, kami tetap bernyanyi meskipun musiknya sudah berlainan arah.
Sesekali ia berkomentar, “nada kalian salah, sehingga aku kesulitan untuk mengirinya.”
Aku pikir untuk yang satu ini, aku tidak perlu mengingatkan, karena yang lebih senior saja tidak terlihat pernah menyinggung caranya bermain, mungkin saja mereka sudah dapat menebak apa yang akan ia katakan, apalagi ia (si pemain musik), dengan sifat koleriknya, jarang sekali mau menerima saran, apabila ia sendiri merasa sudah melakukan hal yang benar. (Tapi, aku pikir orang seperti ini, perlu juga untuk melengkapi sebuah tim, supaya dapat belajar lebih sabar, hehehehehe).
***
Dari cerita-cerita di atas, aku sebenarnya bisa dikatakan termasuk salah seorang dari orang-orang yang sangat susah menerima pendapat orang lain, apabila merasa pendapat sendiri sudah benar, padahal belum tentu benar.
Hanya saja, ketika berdoa tanpa sadar, aku sering meminta kepada Tuhan, supaya Tuhan menunjukkan apa yang benar kepadaku. Sehingga tidak jarang, Tuhan mengingatkanku terhadap kesalahan yang sudah aku lakukan dan terkadang aku harus mendapat ganjaran dari kesalahanku.
Dan terhadap mereka yang sering mempertahankan pendapat yang tidak layak, mungkin saja, aku perlu bersikap tetap diam setelah melakukan apa yang bisa aku lakukan dan berdoa bagi mereka supaya sadar, jika apa yang mereka lakukan memang salah. (…
…).
Siapa lagi yang bisa merubah kita, kalau bukan diri kita sendiri dan pekerjaan Tuhan.