Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

4-5 Skisma ala Protestan Indonesia

manguns's picture

Keempat tulisan yang jelas-jelas ngawur tapi serius ini, ini terinspirasi tulisan di situs SS ini hujatan kepada Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, buku Membedah Soteriologi Salib (MSS).

si Luther pada masanya menuangkan pikirannya dalam buku yang bertentangan dengan doktrin/dogma gereja saat itu dan diburu otorittatif saat itu, tapi beruntung dilindungi bangsawan (kuat) jerman sponsornya. Dan sejarah menunjukkan dia menjadi Bapak Protestan.

(ngelencer lagi ... protestan itu kristen nggak yach? Ada sodara kita bertanya Tuhan Yesus ,kristen apa tidak? Kristen Protestan itu letterleknya berarti Pengikut Kristus Tukang Protes? Walah... gue nggak mau ah ngaku protestan... gue kristen aja dah... terserah yang laen, walaupun gw GPIB gw nggak mau ngaku protestan... gw kristen..titik.).

Tapi Bapak Protestan ini setelah melihat kerusuhan yang memakan korban ratusan ribu jiwa umat kristen akibat tulisan2nya, juga  akhirnya menyatakan penyesalannya. Memang menyesal selalu dibelakang. Paragraf ini ditujukan bagi Om IR

Dogma protestan ttg Soteriologi Salib, dimata saya jemaat kristen awam, yang birokrat dan (merasa) intelek, telah mengakibatkan umat kristen protestan (setidaknya di kota besar Indonesia) terbius janji manis keselamatan tanpa diimbangi dogma dan pemahaman bahwa Allah menunggu ungkapan syukur umatnya  melalui kerya-karya yang mempermuliakan DiriNya. Adalah penipuan masal terselubung (delusional) yang menyatakan kita (HANYA) beribadah di gereja. Karena yg ngomong dimimbar itu punya kepentingan banyaknya kolekte.  Kristen yang diselamatkan, beribadah sepanjang nafas kehidupannya, wajib bersyukur dan berkarya tidak hanya di gedung gereja. Paragraf ini ditujukan bagi jemaat.

Bagi para hamba Tuhan: Pendeta, selaku jemaat sy memahami perintah Tuhan Yesus kepada para pendeta: Gembalakanlah domba-dombaku. Perintah ini diulang sampai tiga kali, karena demikian stratejiknya. Pendeta jangan hanya berkhotbah (ngomong doang). Analisis terminologi GEMBALAKAN, ada unsur kebutuhan jasmanai, keamanan,  kesejahteraan,  menuntun. Ada kok di mazmur 23.

 

ferrywar's picture

bukan skisma

Ioanes Rakhmat merasionalisasi imannya dan menyisakan atheisme dalam keyakinannya. Karena ia mantan pendeta, maka orang banyak mengira ada perpecahan dalam tubuh gereja Protestan. Padahal tidak. Ioanes cuma berhenti jadi pendeta sehubungan dengan perubahan keyakinannya. Tidak ada perpecahan dalam tubuh gereja Protestan sehubungan dengannya.

Di Katolik, pemikiran semacam Ioanes sudah banyak dan sudah mendahului puluhan tahun sebelumnya. Tidak terasa ada perpecahan karena penekanan praksisnya ada perbedaan. Di Protestan lebih kearah IMAN (Sola Fide) maka kegiatan berdoa, memuji Tuhan, menyemangati sesama untuk saling percaya adalah hal utama. Di Katolik lebih kearah PERBUATAN maka kegiatan sosial mendapatkan porsi lebih. 

Adanya institusi hirarki (Paus-Uskup-Imam) di Katolik juga membuat umatnya tidak mudah risau oleh pandangan "baru". Umat selalu punya tempat "pelarian" kalau bingung.

Pandangan Ioanes kalau terjadi di kalangan Katolik akan ditanggapi dengan dingin. Sedangkan di Protestan seperti terlihat, ditanggapi dengan ramai bahkan terasa gegar malah sampai disebut "skisma". Padahal terlalu jauh untuk menjadi sebuah skisma.

Ioanes tidak berhadapan hanya dengan mantan umatnya tetapi ia juga berhadapan dengan SEMUA institusi agama. Ia memperbarui INTERPRETASI atas alkitab di gerejanya (GKI). Ketika Facebook dan Blog marak beberapa tahun ini, ia memanfaatkan sarana itu untuk mengungkapkan pendapatnya. Semua orang bisa berinteraksi disana.

Dalam penekanan spiritualisme yang sangat berbeda, De Mello juga begitu. Ia menginterpretasikan alkitab secara berbeda, secara lebih sederhana dan lebih bersifat "common sense". Gereja Katolik mencibir dan agak sengit, tapi karena itu hal biasa di katolik maka buku buku de Mello sempat dicetak dalam jumlah banyak dalam pelbagai bahasa dan menjadi sangat populer sampai saat ini. Setelah Paus Benediktus naik, buku-buku De Mello secara resmi tidak diakui sebagai buku ajaran gereja. Bahkan ketika Kardinal Ratz masih menjadi pembantu Paus JP yang mengurus bagian "hukum agama", beberapa buku De Mello diberi tulisan didepan: "untuk dibaca oleh atheis" atau semacam itu.

Pemikiran tidak bisa dibendung. Waktu berdenyut lanjut. Jaman tak putus. Hanya ada derap maju. Yang berhenti berarti mundur. Filsafat harus diberi tempat. Rasionalisasi harus diberanikan (encouraged). 

Dan interpretasi-interpretasi tidak perlu ditakuti sejauh komunikasi lancar. Novel Dan Brown juga tidak usah dikhawatirkan. Membedah Soteriologi Salib, sama saja. Kita memasuki jaman dimana manusia tidak dicekoki seperti ikan terpaksa menghirup air kehidupan tanpa pernah menyadari air itu apa. Kita sekarang di jaman Aquarius, si Tukang Air dimana manusia MENYADARI dan MENGONTROL air. Selamat datang kemandirian.

Tapi selamat datang juga kesendirian dan kesepian.

 

 

manguns's picture

@feryywar: Skisma atau bukan

Dengan judul skisma ala protestan indonesia, saya selaku jemaat awam, ngenye otoritas protestan, dikit-dikit beda, dikit-dikit pecah, dikit-dikit skisma. Saya yang duduk paling belakang kan bingung..

Kebetulan turunan mbatak, ambil HKBP sebagai contoh kasus. Pecah ke HKI dan GKPI gara2 administtrasi, ke  GKPS dll gara2 bahasa, HKBP perjuangan gara-gara politik dll. Skisma ala batak

Ada lagi model gereja yang berkembang atas dasar individu pedetanya, ada yang jadi besar... banyak yang biasa-saja, banyak juga yang tenggelam. Tergantung kepiawaian jurus marketing pendeta. Tentang dogma... sudah bisa ditebak...berapa hebat sich kemampuan satu individu pendeta merangkai dogma yang kemprehensif. Skisma Alamiah.

Buat jemaat awam: bila itu pecah artinya skisma.