Ada suatu muslihat yang terdapat dalam Alkitab yang mana saya tidak mengerti. Mungkin hal ini sudah sangat umum di kalangan Kristen. Tapi entah kenapa sampai saat saya menulis blog ini, saya belum menemukan jawaban yang memuaskan. Suara yang berfirman dan Sosok yang nampak. Kedua hal tersebut selalu tampil dalam momen yang bersamaan tapi berbeda satu sama lain.
Dalam suatu peristiwa Musa melihat sosok Malaikat TUHAN dalam wujud nyala api yang keluar dari semak duri. Jelas dikatakan bahwa sosok yang menampakkan diri itu adalah Malaikat TUHAN. Tapi ketika Musa mendekat, terdengar suara yang berfirman dan mengatasnamakan dirinya adalah TUHAN. Saya tidak tahu bagaimana para pembaca menanggap peristiwa penampakan tersebut.
Siapa sebenarnya Malaikat TUHAN itu? Apakah Malaikat TUHAN adalah TUHAN itu sendiri? Saya dan anda mungkin sepakat bahwa Malaikat TUHAN dan TUHAN bukan pribadi yang sama. Dapatkah seorang utusan dikatakan sama dengan yang mengutusnya? Lantas mengapa Malaikat TUHAN yang walaupun hanya seorang utusan/hamba dapat berkata mengatasnamakan dirinya TUHAN? Mungkin anda berkata “oh, mudah saja, Tuhan yang berfirman melalui sosok malaikat/utusan yang terlihat, dia adalah malaikat yang mulutnya dipakai Tuhan untuk berfirman.” Jika demikian, dapatkah jawaban itu mewakili Yesus sebagai seorang utusan yang menyampaikan firman yang mengutus-Nya?
Siapa yang menampakkan diri dan siapa yang berfirman? Ada dua sosok sekaligus dalam satu wujud. Siapakah yang anda sembah? Sosok seorang utusan yang menampakkan diri ataukah suara yang berfirman melalui utusan itu? Ada yang memilih suara yang berfirman, ada yang memilih menyembah sosok seorang utusan.
Saya tidak tahu entah alasan apa sehingga banyak orang beranggapan bahwa Yesus orang Nazaret adalah Allah. Secara Alkitabiah, saya tidak menemukan satu jawabanpun yang mengarah ke hal itu (mungkin para pembaca bersedia membantu saya menemukan jawaban yang tepat karena saya sendiri percaya kepada Yesus). Ayat yang paling kuat mendukung argumen yang keliru itu adalah “Aku dan Bapa adalah satu. Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” Dari ayat inipun saya heran mengapa mereka masih tidak mengerti mengenai sosok yang dapat dilihat dan sosok yang berfirman berbeda. Jika “suara” dan sosok yang nampak dapat dikatakan sama maka Malaikat TUHAN yang dilihat oleh Musa dan TUHAN yang berfirman adalah sama, benarkah demikian?
Saya tidak melihat suatu alasan yang membenarkan hal tersebut selain penggunaan kata ganti orang dalam Alkitab yang menguatkan argumen bahwa Yesus adalah Allah. Dalam Alkitab memang selalu menggunakan huruf kapital (huruf besar) dalam setiap kata ganti orang yang mengacu kepada Allah. Setiap yang mengacu kepada Allah dalam Alkitab selalu menggunakan kata ganti “Ku, Aku, Nya, Dia, Engkau, Mu dll” yang menegaskan kewibawaan sosok yang berfirman tersebut. Dan Alkitab menggunakan kata ganti itu dalam setiap perkataan yang diucapkan Yesus atau yang mengacu kepada Yesus. Hal ini membuat banyak orang berkesimpulan bahwa Yesus setara atau sama dengan Allah.
Itulah muslihat penulisan dalam Alkitab. Namun dapatkah hal itu menjadi alasan untuk menyetarakan Yesus dengan Allah Yang Mahatinggi? Ternyata tidak. Kenapa? Karena ada seorang utusan TUHAN juga memakai nama-Nya ketika berfirman. Siapakah sosok “Ku, Aku, Engkau, Mu, Nya” dalam ayat berikut?
Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia. Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: "Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan. Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup." Lalu berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: "Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang." Tetapi Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: "Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan." Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu. Bilangan 22:21-35
Kita harus lebih cermat meneliti hal-hal rohani. Sama seperti Gideon yang meminta suatu tanda ketika dia mendapat panggilan untuk menyelamatkan orang Israel. Gideon meminta suatu tanda agar dia dapat mengenali SIAPA yang menyuruhnya menyelamatkan orang Israel dari cengkeraman orang Midian.
TUHAN berfirman kepada Gideon: "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!" Hakim-Hakim 6:14.
Jawab Gideon: "Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku. Janganlah kiranya pergi dari sini, sampai aku datang kepada-Mu membawa persembahanku dan meletakkannya di hadapan-Mu." Firman-Nya: "Aku akan tinggal, sampai engkau kembali." Hakim-Hakim 6:17-18
Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya. Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: "Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya." Maka diperbuatnya demikian. Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya. Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: "Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka." Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.
Kita telah sepakat bahwa sosok yang berfirman tidaklah sama dengan sosok yang nampak. Allah itu dikenal sebagai suara atau yang berfirman sedangkan yang nampak hanyalah seorang utusan. Gideon menyuruh supaya sosok yang dianggapnya sebagai TUHAN untuk tidak pergi sampai dia kembali membawa persembahannya, dan setelah dia membawa persembahan itu Malaikat Allah berfirman dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat-Nya dan disinggung-Nya persembahan itu kemudian Dia menghilang dari pandangan Gideon. Maka tahulah Gideon siapa sebenarnya sosok itu.
Sudah seharusnya anda yang menyembah seorang utusan, bertobat dan berbalik kepada Dia yang mengutus. Sebab seorang utusan tidak sama dengan orang yang mengutusnya. Jangan keliru. Sekalipun anda pernah menganggap seorang utusan setara dengan Allah dan layak untuk disembah, tapi Dia yang kamu anggap Tuhan telah memperingatkan anda bahwa Dia tidak layak disembah. Seperti Manoah, ayah Simson, yang diperingatkan Malaikat TUHAN untuk menyembah hanya kepada TUHAN
Kata Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: "Perkenankanlah kami menahan Engkau di sini, supaya kami mengolah anak kambing bagi-Mu." Tetapi jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: "Sekalipun engkau menahan Aku di sini, hidanganmu itu tidak akan Kumakan. Tetapi jika engkau hendak mengolahnya menjadi korban bakaran, persembahkanlah itu kepada TUHAN." Sebab Manoah tidak mengetahui, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN. Hakim-Hakim 13:15-16
Masihkah anda belum mengerti arti cerita sekaligus perumpamaan tentang semak duri yang dilihat oleh Musa? Oleh penglihatan itu Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir selama empat puluh tahun lamanya. Dan selama kepemimpinan Musa yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir membuat mereka menyembah bala tentara langit dan bukan kepada Allah.
Maka berpalinglah Allah dari mereka dan membiarkan mereka beribadah kepada bala tentara langit, seperti yang tertulis dalam kitab nabi-nabi: Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel? Tidak pernah. Kisah Para Rasul 7:42-43
Siapakah Dia yang diam dalam semak duri? Tuhan atau bala tentara langit? Dia yang telah menampakkan diri dalam wujud semak duri hanyalah seorang utusan. Tapi Dia telah dipilih dan diangkat menjadi Raja. Bukankah kamu sudah tahu pasti bahwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem?
Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon. Hakim-Hakim 9:8-15
Seorang utusan dapat dilihat melalui perumpamaan semak duri. Allah itu sabda yang tidak terlihat, Allah itu hanya dikenal sebagai suara yang berfirman. Terlihat kewibawaan Yesus yang mewakili sifat-sifat Ilahi dalam diri-Nya. Letak kebesaran rohani seseorang ada pada kualitas wataknya, yaitu kerendahan hatinya. Ketika banyak orang berbondong-bondong mengikut Dia dan ingin menjadikan-Nya Raja, Yesus malah menolak mereka yang ingin mengangkat-Nya menjadi Raja dan menyuruh mereka pulang. Apakah anda termasuk salah satu yang ingin menjadikan Yesus sebagai Raja? Siap-siap lah anda ditolak Yesus dan menyuruh anda pulang.
Ternyata ada sosok yang unik dalam Alkitab yang memiliki kesaksian menggemparkan. Yesus yang ingin dikenal sebagai “Aku dan Bapa adalah satu”, namun Yohanes Pembaptis hanya ingin dikenal sebagai suara. Kesaksian seperti apa itu? Inilah kesaksian Yohanes Pembaptis tentang dirinya: Aku adalah orang yang berseru di padang gurun. Kenalilah aku sebagai: suara yang berseru. Hanya SUARA. Saudara saudara begitu tertusuknya hati saya ketika saya dapat memahami kualitas kerendahan hati Yohanes Pembaptis. (Untuk mengenal Yohanes Pembaptis lebih dekat silahkan klik disini)
Tidak tahukah anda letak kebesaran rohani Yohanes Pembaptis? Siapa dia, datangnya darimana, siapa yang diutus untuk memberitahukan kelahirannya, atas kepentingan apa datang ke dunia ini, jika kamu tahu semua itu sepertinya dia pantas untuk membanggakan dirinya. Tetapi apakah pernah hal itu menjadi kebanggaannya? Yohanes menjawab mereka yang merendahkannya atas kekalahannya dalam jumlah pengikut dari Yesus: Dia harus semakin besar dan aku harus semakin kecil. Hingga ke titik nol dan lenyaaapp. Tak seorangpun memperhitungkannya pada saat itu.
“Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya." Dan ayat berikutnya: “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang kerajaan Allah telah diserong dan orang yang mencoba menyerongnya mencoba menguasainya”.
Siapa yang tidak dilahirkan oleh perempuan dibumi ini? Tidak ada. Ahh, perkataan Yesus tentang Yohanes Pembaptis itu pastilah berlebihan. Apakah Yesus tidak serius dalam perkataan-Nya? Jika kamu ingin dipakai Allah, maka rendahkanlah hatimu hingga ke titik nol.
Bagaimana kita dapat mengetahui siapa yang terbesar dalam kerajaan Sorga? Allah selalu memakai orang yang paling rendah dan paling hina. Siapa yang merendahkan dirinya di dunia ini akan ditinggikan Allah di kerajaan-Nya, dan siapa yang meninggikan diri akan direndahkan-Nya. Siapa yang terendah dari yang paling rendah di dunia ini, yang terhina dari yang paling hina di dunia ini, dialah yang akan mendapat tempat yang paling tinggi di dalam kerajaan Sorga. Dan Musa akan mendakwa kita nanti tentang nama-NYA yang ajaib. Sebab dia tahu siapa dia yang diam dalam semak duri, dan dia mengenal suara Dia yang berfirman. Suara yang berfirman dari dalam semak duri itu: AKU adalah AKU. Lagi Firman-Nya: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu. Sebuah kata yang tak tergantikan oleh apapun. Nama yang sangat sakral sekaligus ajaib.