Beberapa waktu lalu aku menyediakan diri menerima ajakan seorang teman, sebut saja namanya Gin, menghadiri resepsi pernikahan teman kuliahnya dulu. Kebetulan istri dan anak-anak lagi di luar kota.
Sepulang dari acara ada sesuatu menggelitik benak. Tak ingin dihanguskan rasa penasaran, kubuka pembicaraan mengawali ulasan.
"Pasangan yang unik."
Sedetik Gin menoleh ke arahku. Sebelum kemudian kembali menekuni ramai lalu lintas di hadapannya. Dia pegang setir.
"Kalimat diplomatis," senyum Gin mengembang."Bilang aja kalo penasaran."
Tampaknya dia menangkap arah pembicaraanku.
"OK." Aku menyerah. " Katamu kalian cukup dekat, so bisa dong kau memberi penjelasannya. Soalnya terus terang, baru kali ini aku temui. Kalo yang jauh lebih cakep yang cewek sih... udah banyak. N lumrah kalee... Tapi ini...?"
"Yee..., diskriminatif!"
Tawa kami pecah di antara lembut alunan musik yang mengalun dari radio tape mobil Gin.
"Menurut **** (pengantin pria), ****** (pengantin wanita) itu orangnya baik banget. Penuh perhatian, ngemong, n lemah lembut. Pokoknya dewasa banget." Akhirnya penjelasan meluncur dari mulut Gin.
0oo.Begitu.
Aku manggut-manggut.
Terus terang, di tengah acara tadi, tak sedikit kasak kusuk di antara undangan. Di antaranya: Masa si pria mau yach.... Dipelet kali.... Karena kasian kali... Hutang budi kali.... Ceweknya orang kaya kali...
Satu sisi, tidak bijaksana, atau lebih tepatnya: sok tahu. Namun di sisi yang lain, pada pendapatku, wajar juga. Soalnya memang ketampanan si cowok sangat menyolok disanding kesederhanaan si cewek.
Sejujurnya di kepalaku tadi juga, menghujam sepotong tanya, why?
Kini terjawab sudah. Selalu ada alasan untuk setiap keputusan.
Aku kagum pada sang pengantin pria. Mendaulatnya sebagai seorang bijaksana. Dan, sebagai seorang yang dilabel beroleh anugerah karena memilki istri yang cantik, sering menepuk dada bangga untuk itu, harus kuakui, daya rekat terkuat adalah kemolekan hati.
Beruntung pria yang memiliki wanita berhati molek.
Ahh, sekarang, rasa kangen pada istri dan anak-anak yang menghanguskanku.