"Arkhhh...sakit!"
Tapi tidak dipedulikannya teriakanku.
Terus saja aku dikerat tanpa ampun. Sesekali aku merasa nyaman dielus, merasa sejuk ditiup hembusan nafasnya. Nikmat yang membuat aku bertahan ditengah tempaan tanpa henti.
Perih dan nyaman, manis dan pahit silih berganti. Takut dan cinta melebur jadi satu. Seharusnya aku benci dia, yang memaksa aku menjadi seperti ini. Namun maafkan aku. Aku telah tergoda. Hasrat melebur dengannya, terlalu memikat.
Dia berhenti. Dia mengangkat dan mempersiapkan aku. Dia menarik tali busurnya kuat-kuat.
pssssssst.
Laksana kilat aku melesat. Didorong tenaga hebat. Sangat kuat.
Sementara terbang, aku dapati diriku dapat bergerak bebas.
Aku coba mengendalikan diriku sendiri, namun ternyata sia-sia. Gerakan tidak searah hanya membuat gesekan angin membakar kulitku. Aku menyadari, bergerak harmoni sesuai arah lebih baik. Dorongan itu, terlalu perkasa.
Aku tertancap. Jauh dari lingkaran sasaran. Meleset.
Aku meleset!
Sorak cemooh terdengar dari sekelilingku. Seolah semua sudah berakhir.
"Buang!"
"Dia menyimpang! Bebal!"
"Bakar dia!"
"Dia bersalah! Siksa dia selamanya!"
aku diam.
aku melihat kepada Sang Pemanah.
Dipenuhi takut dalam cinta, aku menatapnya rela. Berharap anuegerah.
Dia tersenyum padaku.
"Aku Sang Pemanah Kekal Sempurna!"
aku?
hanya anak panah.