Dalam keluarga : sbg anak sulung aku ga becus, krn tidak bisa dekat dgn keluarga. Bapak saya galak, suka nyiksa gak ada kecuali mau ank perempuan sekalipun main hajar. Sempat benci setengah mati sampe saya alergi, dlm mata saya sosok satu ini bnr2 ga tau malu dan egois bisanya nuntut dan nuntut: nuntut dihormati, dilayani, dan dipatuhi. Jangan harap suatu timbal balik yg adil! Tapi, waktu mengubah diri perlahan namun pasti, saat dimana saya dipenuhi rasa damai dan sukacita yg tak terperi shg sya bs mengampuni. Ibu saya super sibuk menafkahi shg tidak ada sisa waktu buat kami. Sebagai gantinya kami limpah dengan materi tapi tak pernah cukup untuk menggantikan kekosongan dalam hati. Ya, seperti itulah keluargaku.. AKU..adik-adikku! Tak becus aku tuk mengubahnya!
Dalam pertemanan : sbg teman ga becus tuk mengenal diri! Tak mampu kupahami seperti apa itu, apakah u/ berteman harus ada sll yg dikorbankan sekalipun itu jati diri? Yg seperti apakah itu arti memberi, seberapa banyak, seberapa besar? Apakah lebih dari yang ada dalam diri? Memang diriku yang terlalu memaksa diri untuk disebut si baik hati, percuma! SEMU dan aku sedang menipu diri.
Dalam cinta : terlebih sangat tidak becus, rasa rendah diri yg menjadi teraliku untuk membuka hati karena takut tersakiti. Perlu wktu lama tuk bisa mengalami kisah cintaku ini, bermula dari kepergian mereka yang kukasihi. Segera aku mencari perlindungan diri, dan aku temukan. Tapi sayng, bukan cinta yang dia beri melainkan nafsu birahi. Sial…sial…sial!
Dalam kehidupan : naïf, ketika ku berfikir mudah tuk jalani hari-hari. Sekali lagi takdir menyiksa, menertawai diri meskipun ku tak sudi. Dalam sekejap, semuanya pergi meninggalkan ku sendiri. Lalu, bagaimana ini? Apakah ini mimpi, tp mengapa terasa nyeri? Hilang, pergi dan tak kembali. Salah apa aku ini? Aku memang enggak becus!
Ya sudahlah, tak perlu ku mengasihani diri
Masih banyak waktu lagi dan nanti tuk membenahi diri jika ku bnr2 peduli!
