Submitted by ferrywar on

Bayangkan sebuah alkitab diletakkan diatas meja. Apa yang ada di pikiran anda ketika melihatnya? Apa kesan yang LANGSUNG muncul pertama kali di kepala?. Setiap orang tentu berbeda-beda. Tapi bagi saya, kesan yang muncul adalah:

  1. Suatu buku KUNO yang dicetak baru berkali-kali.
  2. Suatu kumpulan tulisan yang berisi nilai nilai JAMAN DAHULU, disuatu masyarakat tertentu.
  3. Suatu SARANA untuk orang beralasan tidak berbuat apa apa untuk mengatasi masalah nyata, tapi tetap disebut "membantu" dengan doa dan mengutip tulisan-tulisan.
  4. Suatu benda yang bisa dibuang setelah orang mendapatkan intinya yaitu KASIH.
  5. Sebuah benda yang bakal menghuni museum di masa depan.
  6. Sebuah kumpulan tulisan yang menyebabkan sepertiga manusia bumi berkelahi dan menyebabkan penderitaan hanya karena berbeda pendapat tentangnya.

Setelah saya amati dari lima butir itu, ternyata rata-rata kesan negatif. Bukan positif. Berbeda kalau saya melihat BUKU KUNING (Yellow Pages) yang kesan pertama adalah:

  1. Sumber informasi dalam berbisnis
  2. Bisa diloak atau buat ganjel pintu kalau perlu.
  3. Sebuah buku yang sistematika penyajiannya cukup canggih.

Kesan Buku Kuning ternyata lebih positif di obenak saya....

Jadi singkatnya, ada rasa MALAS luar biasa ketika melihat buku yang namanya alkitab itu. Apakah rasa malas ini menular? Apakah sudah ada di benak banyak orang? Saya tak henti hentinya berpikir tentang itu.

Tentang "Firman", saya lebih nyaring mendengarnya ketika melihat anak kecil menawarkan payung sewaannya ditengah hujan deras dengan pakaian basah kuyup dan bibir gemetar kedinginan. Alkitab dibandingkan anak kecil itu, bedanya seperti menikmati rasanya "resep masakan" dengan menikmati rasanya "makanan".

Alkitab saya tidak saya buang. Saya letakkan berjajar dengan "kitab suci"  agama2 lain di rak buku. Saya hanya butuhkan untuk keperluan BERDEBAT dan BERKELAHI adu pendapat yang memerlukan sitiran ayat-ayat secara cermat. Diluar urusan BERKELAHI itu, kalau ingin mendengarkan "suara tuhan", saya lebih suka hidup wajar tanpa dihantui tuhannya alkitab.

Apakah menjadikan alkitab sebagai ALAT BERKELAHI itu juga sudah ada di benak orang banyak? Sayapun tak berhenti berpikir tentang itu. Dan menduga-duga.