Submitted by PlainBread on

"Bencana kemarin di Papua kenapa tidak ada media yang meliput?"

"Media itu seperti pemerintah, mau melakukan sesuatu kalau ada keuntungan. Jadi wajar 'kan kalau daerah-daerah mau berpisah dari NKRI? Kenapa juga Presiden takut ke Belanda, takut ada pengadilan yang sungguh-sungguh menjalankan tugasnya yah, tidak seperti di Indonesia? "

 

Sekilas percakapan antara dua teman saya.

Sepertinya terdengar berbahaya dan radikal ide yang dilontarkan ke dalam percakapan tersebut. Tapi sebenarnya tidak. Ide itu sederhana. Bangsa atau negara terbentuk dengan tujuan dasar yang satu dan hanya satu: Untuk kesejahteraan rakyat. Jika tujuan tersebut tidak tercapai, maka arah bangsa atau negara perlu dipertanyakan kembali.

Tapi nanti dulu.

Benarkah bahwa dulu rakyat itu sejahtera, rakyat itu makmur, rakyat itu damai sentosa di jaman raja-raja di Nusantara?

Sebenarnya tidak. Situasi dan kondisi tersebut adalah utopia. Tidak pernah dicapai, bahkan tidak tercatat di dalam sejarah. Manusia hidup dengan sesama manusia lainnya pastilah ada gesekan, ada konflik. Itu sesuatu yang harus bisa diterima sebagai kenyataan dan dimaklumi sebagai bagian dari hidup.

Tentu saja ada banyak orang yang uring-uringan yang melihat, membaca dan menyaksikan berita-berita yang disajikan oleh media massa dan media elektronik. Karena dari kecil kita sudah dicekoki oleh propaganda bahwa jaman raja-raja dulu kehidupan serba enak, serba makmur, gemah ripah loh jinawi, tidak seperti sekarang ini yang carut marut. Begitulah kita dipaksa menelan propaganda yang diturunkan dari generasi ke generasi, dari penguasa ke penguasa lain. Bahwa dulu itu lebih baik daripada sekarang.

 

Padahal kalau mau berbicara fakta dan kenyataan, konflik dan carut marut sudah ada dari dahulu kala. Lihatlah bagaimana kerajaan Dharmawangsa runtuh karena serangan kerajaan Sriwijaya. Atau bagaimana dinasti Chola terus menerus menggempur kerajaan Sriwijaya di abad 11. Atau bagaimana Sriwijaya juga mengalami banyak konflik dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Atau bagaimana kerajaan Singasari mengalami konflik dengan Kubilai Khan dari China. Atau bagaimana Sriwijaya mampu dihalau pengaruhnya di pulau Jawa oleh kerajaan Singasari.

Konflik-konflik tersebut memakan korban ratusan bahkan ribuan jiwa. Memperebutkan harta, wilayah dan kekuasaan. Dan tentu kita tidak lupa dengan pembunuhan dan pertumpahan darah yang terjadi antara perseorangan. Tidak sedikit yang mati dibunuh atau diracun. Misalnya Jayakatwang yang membunuh Kertanegara.

Bagaimana dengan penghancuran dan pembakaran rumah ibadah? Ah, itu bukan berita baru lagi. Bukan saja dari sejak jaman Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah di mana di dalam agama yang sama terjadi chaos, saling tuduh sesat menyesat dan sebagainya. Silahkan tonton film Sang Pencerah kalau tidak percaya [promosi film Indonesia].

 

Apakah saya membenarkan tindakan-tindakan semuanya itu? Tentu tidak. Salah adalah salah. Kriminal adalah kriminal. Pembunuhan tetap pembunuhan. 

Jadi apa kalau begitu?

Sejarah berulang lagi, selama dalam peradaban manusia. Peristiwa tokoh diracun, alim ulama dizolimi, ditusuk, dikeroyok bahkan dibunuh. Kejadian-kejadian di mana adanya kelaparan, kelicikan dan peperangan terjadi, itu sudah menjadi bagian dari peradaban manusia.

Inilah yang tidak banyak diungkap oleh media-media, terutama mainstream media. Sudah terlampau sering saya melihat orang panik, khawatir, atau ketakutan melihat berita yang dilaporkan oleh media. Bukan saja masyarakat akhirnya membandingkannya dengan kehidupan yang mereka alami sewaktu jaman Orde Baru, namun juga sudah mulai membandingkan dengan kehidupan di jaman pra-Indonesia alias Nusantara.

Di jaman Orde Lama atau Orde Baru dahulu, media belum sebanyak sekarang. Mungkin cuma RRI atau TVRI. Enak katanya, setelah Orde Baru tiba. Inflasi di bawah dua digit. Setiap kali ada acara Laporan Khusus di TVRI, selalu isi ceritanya tentang beras yang berkelimpahan, atau panen yang memuaskan, atau melihat kaisar Presiden Soeharto memancing ikan dan mendapatkan ikan-ikan yang besar. Bahkan setelah Orde Baru runtuh, mulai ramai terdengar selentingan bahwa setiap kali ada liputan Bapak Pembangunan tersebut memancing, pasukan khusus Angkatan Laut sudah siap di dalam laut mengambilkan ikan-ikan yang besar untuk dipancingkan ke dalam kail beliau.

Tapi bukan itu fokus saya. Melainkan bagaimana mainstream media beroperasi. Mungkin ini menyangkut psikologi seseorang juga. Setiap hari kalau seseorang didoktrinasi mengenai yang jelek-jelek, akhirnya percaya juga yang jelek-jelek. Gelas setengah kosong. Teriakkan saja terus menerus seperti itu. Atau gelas setengah penuh, seperti jaman Orde Baru. Doktrinasikan saja bahwa gelas itu setengah penuh, biar rakyat merasa nyaman. Dengan gelas yang sama tapi dikatakan setengah kosong, rakyat bisa ketakutan dan panik. Menarik, gelas dan isinya sama, tapi bisa memicu perilaku yang berbeda.

 

Jadi bagaimana menyikapinya, melihat Munir tewas diracun, pendeta dan jemaat HKBP ditusuk sampai masuk rumah sakit,  rumah ibadah dibakar, ada preman dari organisasi agama tertentu, ada pejabat dan wakil rakyat yang cuma mengeruk keuntungan pribadi, bencana di seberang timur sana yang tidak diliput dan susah dijangkau (dari 30-40 tahun yang lalu memang masih susah dijangkau, tidak berubah), atau baru pergantian Kapolri saja sudah dipaksakan sebagai topik yang menjual? Terima saja itu sebagai suatu kenyataan. Kenyataan bahwa konflik, masalah, perseteruan, sudah ada dari sejak jaman Orde Baru, Orde Lama, Nusantara, bahkan sejak sejarah peradaban manusia ditulis di kitab-kitab suci.

Kenyataan bahwa hampir segala sesuatunya bisa di-twist dan di-spin untuk mencari keuntungan finansial. Misalnya calon Kapolri si "HutaBARAT" berkata,"semua elemen masyarakat termasuk FPI punya peranan dalam menjaga keamanan masyarakat." Toh pernyataan tersebut adalah pernyataan yang standar. Jangankan orang awam, bekas kriminal pun adalah bagian dari elemen masyarakat. Nah Ini tinggal di-twist dan spin. Headline berita akan berbunyi,"Calon Kapolri berkata bahwa FPI diperlukan dalam menjaga keamanan." Yang tadinya tidak ada berita yang menjual, jadi ada sesuatu yang bisa dijual.  Untuk membuat orang marah itu ternyata tidak susah.

 

Kalau begitu, apakah kita harus apati dengan semakin gencarnya berita-berita negatif yang diliput media-media? Tidak juga. Tentu kita sebagai manusia punya sifat yang simpati, dan perasaan. Namun patut diingat juga bahwa sudah ada orang-orang yang memiliki tugas dan peranan di situ. Misalnya polisi, wakil rakyat, aktivis kemanusiaan, alim ulama dan sebagainya.

Jadi bukankah tugas media itu bagus, karena bisa memaparkan apa yang terjadi di Indonesia? Betul. Memang bagus. Tapi yang dipaparkan tentu sampai kapanpun tidak akan berimbang. Berita yang sensasional dan memicu gejolak emosi seseorang jauh lebih menjual daripada berita yang "biasa saja" (alias berita keberhasilan dan kesuksesan). Rekan saya yang bekerja di salah satu media malah berani berujar,"Media cuma memberikan apa yang masyarakat ingin dengar." Oh iya, saya setuju. Sama seperti pemimpin-pemimpin agama dalam berkotbah, berikan saja apa yang umat mau dengar [sarcastic mode on].  Akhirnya seperti menyaksikan film Horor. Ada perasaan takut, cemas, tapi tidak kapok untuk menonton film yang bergenre sama. Begitu juga dengan masyarakat. Darah mendidih menyaksikan ketidakadilan yang diliput di koran dan televisi, tapi masih mau terus menonton lagi setiap hari. Rasanya tidak enak, sakit, marah, kesal, tapi rasa itu tetap dinikmati sampai harus tune-in terus menyaksikan liputan berita.

 

Jadi bagaimana menyikapinya, kok dari awal seperti diajak berputar-putar tapi pertanyaannya tidak dijawab? Yah kalau mau tidak berputar-putar, mudah saja. Matikan TV dan berhenti berlangganan koran. Bahkan kalau perlu jual televisi anda. Toh ada komputer atau internet yang bisa memberikan anda berita dan informasi sewaktu-waktu. Itu yang saya dan istri saya lakukan. Hidup jadi lebih nyaman dijalaninya.