Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Bank dalam Gereja (1)

Purnomo's picture

Setiap Jumat pagi gereja saya menyelenggarakan persekutuan warga lanjut usia. Dari sekitar 250 orang yang terdaftar, rata-rata hadir 130 orang. Setahun sekali mereka mengadakan kebaktian di luar gereja yang tentunya sarat dengan kegiatan rekreasi atau piknik untuk refreshing. Dan selalu saja para pengurus menggerutu karena tidak sedikit yang tidak bisa melunasi kontribusi yang sebesar Rp.20.000,- sehingga terpaksa menggratisi mereka yang menyatakan tidak punya uang.

 

 

 

Karena itu saya mengusulkan agar mereka diminta menabung. Tidak banyak. Lima ratus rupiah setiap Jumaat sudah cukup untuk melunasi ongkos piknik tahun mendatang. Pengurus setuju dan saya diminta menyelenggarakan Tapik – Tabungan Piknik. Maka saya menghubungi mereka yang biasanya minta digratisi untuk mulai menabung. Karena uang Rp.500 pada tahun 2002 tidak lagi tinggi nilainya, mereka setuju. Para ‘nasabah’ saya beri buku notes kecil untuk mencatat setiap ‘transaksi’ mereka sementara saya juga mempunyai ‘kartu nasabah’ sebagai arsipnya. Tabungan ini hanya bisa diambil pada saat piknik.

 

Ketika piknik tahun berikutnya diselenggarakan, jumlah anggota yang harus digratisi menurun drastis. Bagaimana orang bisa menyatakan dirinya ‘miskin’ apabila ia jelas terbukti mempunyai tabungan? Para ‘nasabah’ bisa membayar sendiri bahkan masih punya sisa tabungan untuk bekal. Ada yang membawa uang jajan sebesar Rp.50.000,-. Karena itu departemen lanjut usia meminta kegiatan menabung ini diteruskan. Saya minta seorang pengurus menggantikan saya menangani Tapik ini agar saya bisa merencanakan merubahnya menjadi tabungan simpan pinjam.

 

Kebetulan di kantor gereja saya menemukan buku yang diterbitkan oleh sebuah gereja di Solo beberapa tahun yang lalu. Buku itu berisi pemikiran para tokoh gereja itu akan perlunya sebuah koperasi untuk warga jemaatnya. Anggota gereja itu sebagian besar buruh pabrik tekstil dan banyak di antara mereka yang terpuruk ekonominya akibat banyaknya pabrik tekstil yang gulung tikar setelah kerusuhan 1998. Sayang saya tidak melihat artikel tentang bagaimana koperasi itu akan dioperasikan. Karena itu saya berencana meminta surat pengantar dari majelis gereja agar bisa berkunjung ke gereja itu untuk belajar. Pendeta menemui saya dan memberitahu koperasi itu tidak berumur panjang. Sudah bubar. Mengapa? Karena banyak dari mereka yang berhutang dan tidak mampu melunasi malu ke gereja.

 

Memang kata “tidak mau” sering terucap “tidak mampu” dalam perkara pinjam-meminjam uang khususnya di kalangan sesama orang Kristen. Pendeta saya memberi nama dan alamat seorang pengurus koperasi itu bila saya ingin mendapatkan penjelasan yang rinci. Tetapi saya tidak lagi berhasrat ke kota itu karena itulah titik kritis yang ingin saya ketahui solusinya. Beberapa teman gereja mengeluhkan ketidakmauan orang yang telah ditolongnya untuk mengembalikan pinjaman uangnya. Kata seorang yang dulu tidak mampu tetapi sekarang mampu, “Mengapa ia meributkan uang yang saya pinjam? Uang sejumlah itu bukankah tidak berarti baginya?” Itulah kasih holistik: milikmu milikku, milikku milikku.

Lain lagi komentar seorang yang oleh gereja dibelikan becak dan diminta mengangsurnya. “Gereja kita ini kaya. Mengapa pinjaman itu tidak dirubah menjadi pemberian?” katanya ketika saya ingatkan selama 4 tahun ia belum pernah mengangsurnya. Inilah yang selalu dikeluhkan oleh warga jemaat yang tidak mampu. Mereka ingin gereja memenuhi segala kebutuhan jasmaninya tanpa pamrih. Sebaliknya sikap ini membuat warga yang mampu menjadi enggan menolong. Mereka kecewa karena ditipu. Beberapa orang di antaranya mau meminjami saya modal untuk menyelenggarakan koperasi simpan pinjam asalkan uang itu tidak berkurang. Mereka sudah malas berurusan dengan orang miskin yang kurang ajar.

 

Setelah ke sana ke mari mencari pengetahuan akhirnya saya bertemu seorang Kristen di tengah kota Salatiga yang mengelola sebuah jasa kredit kecil. Ia mendapat modal dari luar negeri untuk meningkatkan usaha para pedagang kecil di kelurahannya. Setiap calon peminjam mengisi formulir yang menjelaskan data dirinya dan usahanya. Satu formulir lagi harus ditandatangani: surat sita terhadap barang miliknya apabila ia dinilai tidak lagi sanggup melunasi sisa pinjamannya.

Setelah melihat beberapa lembar surat sita saya bertanya, “Mengapa semua surat mencantumkan televisi sebagai anggunannya? Mengapa bukan tempat tidur yang walau bekas nilainya lebih tinggi daripada tivi bekas?”

Begini,” jawabnya. “Setiap orangtua tidak suka melihat anak-anaknya susah. Anak-anak tidak mengomel bila harus tidur di lantai. Tetapi tidak demikian bila tidak ada tivi di rumah. Bahkan orangtua lebih susah dan malu bila anaknya ke rumah tetangga untuk numpang nonton tivi.”

Sudah berapa banyak tivi yang pernah disita?”

Tidak ada. Walau kadang-kadang terlambat mengangsur dan kena denda, mereka bisa melunasinya.”

Maaf, logika saya mengatakan surat sita saja tidak cukup ampuh untuk menekan mereka setia mengangsur. Misalnya saja hutang 2 juta rupiah. Tidak rugi bila nasabah tidak membayarnya dan merelakan tivi bekasnya. Dengan uang 2 juta ia bisa beli tivi baru.”

Betul. Faktor lain yang berperan adalah setiap nasabah saling mengenal karena tinggal dalam satu kelurahan. Nama mereka yang masih meminjam dan kelancaran angsurannya ditulis di papan tulis kantor. Sebetulnya ini agar mereka mengerti kalau kami menolak proposal mereka dengan alasan tidak ada uang di kas. Tetapi kemudian ini juga membuat orang yang sedang butuh pinjaman akan mengingatkan mereka yang menunggak agar ia bisa segera meminjam. Kantor saya menyatu dengan kantor kelurahan dan hanya buka pada hari Sabtu ketika kelurahan tutup. Dua orang karyawan kelurahan saya minta membantu. Dua orang ini rajin mendatangi rumah nasabah yang terlambat mengangsur untuk mengingatkannya. Kadang-kadang sedikit mengancam dengan mengatakan nasabah tidak bisa mengurus surat-surat di kelurahan bila tidak disiplin mengangsur pinjamannya.”

Bagaimana bila usahanya pailit?”

Sampai hari ini kami baru memberi pinjaman kepada mereka yang telah membuka usaha. Sebelum pinjaman dicairkan saya melakukan peninjauan dan menyelidiki apakah usahanya masih berjalan baik. Bila tidak, saya tolak proposalnya. Bila ya, saya kemudian mempelajari apakah dengan adanya pinjaman ini usahanya bisa lebih baik.”

Apakah ada penyimpangan pemanfaatan pinjaman? Misalnya, proposalnya mengatakan untuk menambah ragam barang dagangannya, ternyata dipergunakan untuk keperluan lain.”

Ada yang berterus terang mengatakan proposal peningkatan usahanya bohong karena mereka butuh uang untuk biaya uang gedung sekolah anaknya. Karena track record-nya bagus, saya meluluskan proposalnya. Tetapi saya tidak suka pinjaman itu dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.”

 

Setelah meninjau kantornya, saya diajaknya makan siang di sebuah warung makan. Ia menyapa seorang Tionghoa muda berkaos singlet yang sedang meneliti setumpuk kertas di atas meja.

Ini teman saya,” katanya. “Dia aktivis kelenteng.”

Melihat yang ditelitinya adalah fotokopi Kartu Keluarga saya bertanya, “Kok meneliti kartu keluarga? Usaha Engkoh apa?“

Ia menjelaskan kelentengnya secara rutin mendapat bantuan dana dari Taiwan untuk membeli beras bagi penduduk sekitar yang kurang mampu. Pemeriksaan KK dilakukan untuk menghindari adanya satu keluarga mendapat 2 kupon penukaran beras.

Maaf, ada imbalan untuk Engkoh?” tanya saya. “Maksud saya, semacam uang lelah.”

Ia tertawa. “Ini kerja amal. Saya sudah senang kalau tidak nombok karena salah hitung.”

 

Komunitas terbatas yang saling mengenal dan sering bertemu serta kesadaran akan kerja amal. Untuk nombok bolehlah asal tidak banyak. Dengan dasar inilah saya kemudian membuat Tasipa – Tabungan Simpan Pinjam – khusus untuk anggota persekutuan lanjut usia. Mereka yang selama ini memiliki Tapik (Tabungan Piknik) dan telah 30 kali menabung, dananya saya alihkan ke Tasipa. Dengan 30 kali menabung berarti yang bersangkutan rajin datang ke persekutuan. Mereka mendapat buku baru yang bagian depannya berisi kolom-kolom untuk menabung sedangkan bagian belakang diperuntukkan mencatat transaksi peminjaman.

 

Saya mengumpulkan sekitar 25 orang anggota Tapik yang telah ditingkatkan statusnya menjadi anggota Tasipa usai persekutuan untuk memberi penjelasan.

Pertama, mereka bisa menarik uangnya kapan saja.

Kedua, tabungan mereka berbunga. Bunganya lebih tinggi daripada bila ditabung di bank karena saya menghitungnya dengan bunga deposito. Saya menganggap mereka punya ‘share’ dalam deposito pribadi saya. Bunga berbunga dihitung tiap minggu dan dibagikan setiap akhir semester. Dengan mempergunakan komputer hitungan rumit ini jadi mudah.

 

Ketiga, mereka bisa meminjam uang sebanyak 2 kali saldo tabungannya dengan maksimum Rp.100.000,- dan diangsur selama 22 minggu. Saya memberi contoh sederhana. Seorang meminjam uang 100 ribu rupiah. Besar angsurannya adalah jumlah pinjaman dibagi 20 sehingga menjadi 5 ribu rupiah setiap minggu. Walau pada minggu ke-20 ia telah melunasi pinjamannya, ia masih harus 2 kali menyetor 5 ribu rupiah untuk membayar bunganya. Bunga ini bukan untuk saya tetapi pada setiap akhir semester dibagikan kepada seluruh anggota sesuai dengan saldo tabungannya masing-masing.

Apa tidak terlalu berat kalau bunganya 10%?” tanya seorang Oom.

Sepuluh prosen untuk 20 minggu atau 5 bulan. Jadi bunga per bulannya 2%,” jawab saya. “Bapak-Ibu bisa mendapat pinjaman 100 ribu rupiah di luar dengan bunga 2 ribu rupiah setiap bulannya? Lagipula bunga ini akan dibagikan kepada semua anggota bersama dengan bunga tabungannya.”

 

Keempat, selama masih mempunyai pinjaman nasabah tidak boleh menabung atau menarik uang dari tabungannya.

Kelima, apabila sampai akhir masa angsuran masih ada tunggakan, maka otomatis saldo tabungannya akan dipergunakan untuk melunasi sisa pinjamannya.

 

Oom itu kembali mengangkat tangannya. “Ini misalnya. Kita ini sudah tua. Tuhan bisa panggil kita kapan saja seperti yang sering terjadi. Misalnya hari ini ada yang pinjam 100 ribu. Lalu dia pulang. Sampai di rumah masuk angin. Sorenya meninggal. Apa pinjamannya bisa ditarik kembali.”

Saya tertawa. “Bagaimana bisa saya meyakinkan keluarganya yang meninggal punya hutang? Tidak semua warga lansia di sini bisa tandatangan untuk mengesahkan formulir pinjaman. Andaikata ia bisa tanda tangan, apa kita tega menagih hutang kepada keluarganya yang sedang berkesusahan?”

Hutangnya 100 ribu, tabungannya 50 ribu. Lalu siapa yang menanggung kerugian 50 ribu?” tanyanya kembali.

Dua puluh lima ribu saya yang tanggung. Dua puluh lima ribu lainnya ditanggung-renteng oleh semua anggota sesuai dengan besarnya saldo tabungan masing-masing.”

Si penanya membuka mulutnya lagi tetapi batal berkata.

Apa berat kalau 25 ribu rupiah dibagi 25 orang yang berarti setiap orang menanggung seribu rupiah? Tabungan Bapak-Ibu tidak berkurang karena seribu rupiah ini akan dipotongkan dari bunga tabungan dan pembagian sisa hasil usaha,” kata saya. “Jika masih kurang, bisa diperhitungkan di semester berikutnya.”

 

Maka kemudian beroperasilah Tasipa. Saya mengurusnya sendirian. Agar tidak repot, sebelum persekutuan mereka memberikan buku tabungan beserta uang yang akan ditabung. Ketika mereka bersekutu, saya melakukan pekerjaan administratipnya. Usai persekutuan mereka mampir kembali ke meja saya yang ada di luar ruang ibadah untuk mengambil buku tabungannya.

 

Tetapi pada minggu ke-4 mendadak saja hampir semua nasabah menarik seluruh uang tabungannya. Tasipa kena rush. Untung saat itu saya membawa uang tunai hampir 2 juta rupiah sehingga tidak ada nasabah yang kecewa.

Ketika saya membereskan kertas-kertas catatan, Oom yang kritis itu mendekat dan sambil melihat lembar kertas daftar peminjam yang sengaja saya letakkan terbuka di atas meja ia bertanya.

Aku masih bingung. Boleh tanya?”

Silakan Oom.”

Misalnya saja Tasipa ini punya 30 penabung yang masing-masing punya simpanan 50 ribu rupiah. Lalu semua penabung meminjam uang 100 ribu rupiah. Lalu semua tidak lagi datang ke persekutuan, bagaimana?”

Saya akan mendatangi rumahnya untuk menagih.”

Misalnya saja, semua tidak mau membayar bagaimana?”

Ya sudah. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi?”

Lalu uang satu setengah juta yang hilang itu uang siapa?”

Uang saya.”

Apa bukan uang gereja?”

Bukan.”

Jadi, kamu yang dirugikan?”

Tidak. Saya tidak merasa dirugikan.”

Ia tampak bingung. “Aku tidak mengerti.”

Begini, Oom. Saya punya uang karena bekerja. Betul ‘kan? Tetapi bisa saja saya bekerja namun saya tidak menerima uangnya. Misalnya, pulang dari kerja saya mengalami kecelakaan sehingga uang yang saya terima itu habis untuk berobat. Karena itu saya tahu Tuhan jugalah yang memberi uang itu. Biar uang itu sudah ada di tangan, kalau Tuhan tidak mau memberi, uang itu pasti menguap lenyap. Jadi itu bukan uang saya, tetapi uang yang Tuhan titipkan kepada saya.”

 

Ia mengangguk-angguk tetapi wajahnya masih tampak bingung. Ia menunjuk kertas daftar peminjam.

Kalau yang pinjam hanya 4 orang, 200 ribu rupiah kamu pakai uang tabungan orang lain. Betul ya?” tanyanya sambil senyum-senyum membangunkan indera keenam saya. Jangan-jangan . . . . .

Betul, Oom. Pertanyaan yang paling penting sebetulnya adalah bagaimana bila saya yang membawa lari uang tabungan seluruh anggota Tasipa ini.”

Saya pura-pura tidak melihat wajahnya yang memerah. Saya memasukkan semua catatan ke dalam tas. Ia bukan anggota gereja ini sehingga ia tak pernah tahu bagaimana penampilan diri aku ini pada hari Minggu yang jauh lebih bagus daripada hari Jumat. Satu faktor penting telah saya lupakan. Trust! Bagaimana orang bisa memercayai saya memegang uang mereka bila saya datang dengan motor yang sudah berumur 10 tahun dan berpakaian tidak sebagus para pengurus persekutuan lansia serta membawa tas yang sudah kusam warnanya dengan beberapa lobang menghiasi?

Ia masih menunggu jawaban saya. Tetapi saya berpamitan dan membiarkan pertanyaan itu tak terjawab agar sekor tetap satu-satu.

 

Hari Minggu seorang pengurus lansia memberitahu saya bahwa Oom itu pada hari Jumat berbisik ke sana ke mari “jangan menabung lagi, uangmu dipakai untuk meminjami orang lain yang belum tentu mau melunasinya” sehingga Tasipa kena rush.

 

Dua minggu kemudian para penabung yang bersaldo nol mulai menabung lagi. Ada yang hanya menyetor seribu rupiah, ada juga yang mengembalikan seluruh uang yang telah ditariknya. Gairah menabung muncul setelah saya membagikan SHU pada akhir semester pertama. Tetapi itu bukan satu-satunya penyebab kegairahan mereka. Ada penyebab lain yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

 

(bersambung)

smile's picture

Pak Purnomo, melebihi seorang penulis

Pak Purnomo,....tulisan anda selalu bagus dan enak untuk dibaca,....bagi smile tulisan anda jauh lebih bagus dari seorang penulis.....
Apakah anda seorang penulis pak Pur?
 
Jadi penasaran nih....bukan penulis bis ebih baik dari penulis,...itulah ss,..banyak yang hebat tapi ga kelihatan dan gembar gembor,...siapa yang komen? ya jelas yang baca....
 
seperti saya....
Saya banyak belajar dari anda....apa adanya,..dan ga sok......Hebat Pak,....
salam hormat.....
__________________

"I love You Christ, even though sometimes I do not like Christians who do not like You include me, but because you love me, so I also love them"

PlainBread's picture

Seorang Penulis

Smile, seorang penulis itu siapa? Bukankah semua orang yang menulis disebut penulis? Ataukah orang yang punya pekerjaan sebagai penulis?

smile's picture

pekerjaan penulis

maksudnya yang punya pekerjaan sebagai penulis.......
sama seperti anda,...tulisan anda bagi saya, jauh melebihi tulisan seorang penulis asli.
Lebih bagus dan mudah dicerna. dan tidak membosankan.
tapi, itu IMO..PB,..karena setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda.
 
Saya suka dengan tulisan tulisan Purnomo, juga tulisan tulisan anda.
 
 
__________________

"I love You Christ, even though sometimes I do not like Christians who do not like You include me, but because you love me, so I also love them"

PlainBread's picture

@Smile Penulis

Memuji itu tidak mudah buat saya Smile. Bukan karena pelit pujian, tapi karena memuji juga mesti tepat alasannya dan fokus alias semakin sempit arahnya semakin bagus. Buat saya lebih baik memuji langsung daripada memuji sekaligus membandingkan ke pihak lain. Bilang saja bagus, keren, dan lain sebagainya, daripada bilang "lebih daripada ...", apalagi kalo ada orang di sekitar yang memang profesinya sebagai penulis.
 
Terima kasih pujiannya.
joli's picture

Nabung yuuuk, ke Bang PUR

Tulisan inspiratif Pur, sudah di distribusikan ke anggota pengurus kespel (kesaksian pelayanan). Ada banyak hal dan detail-detail yang tidak semua orang terpikirkan, namun dikau melihatnya dengan jeli.
Kasih jempol ah..

Sayang sekali ketika ke Solo kemarin tidak ada waktu untuk mengajar sebagai dosen terbang kepada kespel gereja-ku.
Dicari-cari kemana si Pur ini, eh malah nongkrong di warung susu segar depan gereja, jan tenan bocah satu ini..

@All, terinspirasi tulisan Purnomo ini, yuk kita nabung ke Bang PUR, mulai sekarang, bunga-nya lumayan setara deposito. Jumalha tabungan di setornya kira-kira sendiri dengan target Juni 2011 bisa untuk pergi pulang ke Bali dari kota anda masing-masing.

Ada tanggal bagus antara bulan juni/juli. Mulai tanggal 29 juni sampai tanggal 3 juli 2011. COCOK untuk kopdarnas, silahkan pilih diantaranya. Bagus-nya karena ada tanggal merah dan dekat weekend juga PAS gajian pula :)

Mulai nabung mumpung masih tanggal muda. Caranya PM ke Purnomo. Pendaftaran untuk bulan ini dapat hadiah handuk :p

Purnomo's picture

@Smile, writer and writer

Apakah saya penulis? Ya dan tidak.
Ya, bila penulis berarti one who expresses ideas in writing.
Tidak, bila penulis berarti one whose occupation is writing.
 
"sama seperti anda,...tulisan anda bagi saya, jauh melebihi tulisan seorang penulis asli."
Penulis asli itu seperti apa? Smile, jika yang dimaksud penulis asli adalah whose occupation is writing (maaf untuk PB) saya bersama dengan PB masih jauh di bawah mereka. Contohnya, Philip Yancey yang Kristen dan Karen Amstrong yang sekarang bukan Katolik lagi. Mereka betul-betul profesional karena diharuskan untuk terus makin bagus dalam menulis karena menyangkut periuk nasi dan kredibilitas mereka.
 
Jika blog ini terasa pas dan enak bagi Anda, itu kebetulan pas Anda kepingin gudeg saya sedang bawa gudeg. Lain yang terjadi bila saat Anda kepingin snack saya bawa snake. Sam The Great kalau baca kalimat ini pasti ngakak karena ia tahu pasti saya sedang meracik snake.
 
Salam and thx.
juga untuk PB yang membantu saya menjawab pertanyaan Smile.
manguns's picture

Makasih infonya

Sehubungan kegiatan dana bergulir, dapet deh pointer penting.

  • Fundrising
  • Kredit Usaha Kecil Mandiri
  • Formulir/Proposal
  • Formulir Sita Jaminan
  • Jaminan TV bekas:  (anak rewel, malu ke tetangga)
  • Nasabah dalam komunitas yang saling mengenal
  • Ditulis dalam papan: spy tahu nggak ada duit, dan bantu nagih kredit ke debitur lain
  • Kolaborasi dg kelurahan: gertak kalo nunggak
  • Kredit usaha bukan konsumsi
  • Survei/verifikasi keberadaan usaha

Kebetulan lagi ngurusin proyek Pusat Komunitas Masyarakat Berbasis Panti Asuhan, bisa jadi tambahan prospek layanan.