Di dalam pembicaraan singkat dengan seorang teman setelah persekutuan mengenai kotbah yang disampaikan, saya bilang harus dibedakan pembicara tamu dengan pembicara tetap dari dalam gereja itu sendiri, dalam hal ini bukan maksud saya membuat diskriminasi, tetapi mau tidak mau kita tidak bisa menyamaratakan pembicara tamu dengan pembicara tetap, saya jadi ingat seorang hamba Tuhan pernah mengucapkan kalimat ini: “hamba Tuhan (anak manusia) lebih dihargai di gereja (tempat) lain daripada di gereja (tempat) asalnya”, saya rasa ada benarnya juga walaupun tidak 100% seperti itu. Ada beberapa hal/alasan kita tidak bisa menyamaratakan keduanya
1. Style menyampaikan kotbah pembicara tetap yang sudah dikenal, sedangkan pembicara tamu baru pertama kali, biasanya segala sesuatu yang baru pertama kali, rasanya lebih wah, kepuasan akan menurun setelah merasakan beberapa kali (hukum ekonomi?)
2. Pembicara tamu bebas dari asosiasi ataupun persepsi dari pendengar/jemaat, tidak ada beban dalam hal ini, sedangkan untuk pembicara tetap, jemaat sudah melihat, mengenal lebih dekat, sehingga bisa saja sudah ada asosiasi dan persepsi di dalam jemaat, di sini akhirnya akan timbul istilah menjadi batu sandungan, apa yang disampaikan di mimbar, tidak sama dengan perbuatannya.
3. Pembicara tetap yang sudah melayani lama, bisa mengalami kekeringan, kehabisan ide atau bahan, keadaan tersebut menjadi lebih buruk karena jemaat menuntut suatu inovasi/perubahan, makanya tidak heran ada Sabathical leave, sebagai sarana untuk refreshing. Pembicara tamu lebih mudah dalam menyiapkan materi, bisa me-recycle materi yang disampaikan di tempat lain dengan modifikasi seperlunya.
Gereja-gereja tertentu memberikan aturan ketat kriteria hamba Tuhan yang bisa menyampaikan kotbah (Firman Tuhan) di mimbar, haruslah seorang pendeta, atau paling tidak seorang hamba Tuhan yang senior, sebelumnya saya setuju mimbar sebagai tempat menyampaikan kotbah haruslah dijaga, tidak bisa sembarangan orang, tetapi jika hanya berdasarkan kriteria harus pendeta atau yang senior, sepertinya terlalu sempit, dan tidak relevan lagi dengan zaman sekarang, jabatan pendeta atau senioritas tidak menjamin 100% baik atau buruknya kotbah yang disampaikan. Di samping kriteria jabatan pendeta dan senioritas, kriteria lainnya adalah karakter dan hi