Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Penatalayan

victorc's picture
Teks: Lukas 16:1-12

Nats:     9  "Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." Lukas 16:9

Shalom, selamat pagi saudaraku. Hari minggu yang lalu saya menghadiri suatu persekutuan rumahtangga, dan ayat yang kami diskusikan adalah Lukas 16:1-12 tentang bendahara yang tidak jujur.* Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah: bagaimana kita sebaiknya memahami perkataan Yesus tentang Mamon yang tidak jujur? Berikut ini adalah sebuah refleksi atas ayat tersebut.

Penatalayan
Ayat 1-12 dalam teks ini mengungkapkan perubahan sikap dari sang bendahara. Memang tidak disebutkan apakah ia memang benar-benar korupsi atau tidak, namun teks yang kita baca agaknya menunjukkan bahwa ia memang korupsi. Dan korupsi bisa dimaknai secara luas sebagai menyalahgunakan kekuasaan dan jabatan untuk memperkaya diri sendiri. 
Namun setelah ia ketahuan oleh tuannya, ia mulai menyadari kesalahannya. Lalu ia mulai mengubah paradigmanya. Kini ia belajar mempergunakan wewenangnya bukan untuk memperkaya diri, namun untuk memperoleh banyak sahabat. Hal ini mengubahnya menjadi manusia yang altruis.
Dan karena perubahan sikap tersebut, maka tuannya memuji bendahara tersebut, karena kini ia menjadi penatalayan yang baik akan jabatannya. Yesus menyebut orang seperti ini sebagai orang yang cerdik. Perumpamaan ini lalu mendapat perwujudannya dalam teks tentang Zakheus, si pemungut cukai. Dikisahkan bahwa Zakheus menerima Yesus dengan penuh sukacita dalam rumahnya (Luk. 19:6). Setelah bertemu dan bercakap-cakap dengan Yesus, Zakheus kemudian menunjukkan perubahan mentalitas yang drastis, dari birokrat yang korup dan suka memeras menjadi penatalayan yang peduli pada orang-orang miskin:

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Luk. 19:8

Kairos
Dalam pemahaman saya, yang Yesus maksudkan dengan mengikat persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur adalah kita wajib mempergunakan segala kekuatan, kuasa, jabatan, dan kesempatan (kairos), termasuk harta yang dipercayakan kepada kita untuk mengikat persahabatan. 
Yang dimaksud dengan mamon bukan saja uang atau harta, namun juga segala sesuatu yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita. Tujuannya adalah agar kita dapat menjangkau sebanyak mungkin orang.
Demikianlah, Yesus memanggil kita semua khususnya para pejabat dan birokrat di negeri ini untuk menjadi penatalayan yang baik atas segala harta, jabatan, kekuasaan dan wewenang yang dipercayakan kepada Anda. Penatalayan yang baik akan mendayagunakan bahkan melipatgandakan apa yang dipercayakan kepada dirinya untuk kepentingan sesama. Untuk itu diperlukan revolusi mental.
Berikut ini adalah sebuah contoh dari Bangladesh.

Yunus
Dr. Muhammad Yunus adalah seorang ekonom asal Bangladesh yang baru lulus dari Vanderbilt University di Amerika. Ketika ia kembali ke Bangladesh dan mulai mengajar di sebuah kampus di sana, ia merasa prihatin dengan nasib para ibu-ibu yang bekerja banting tulang untuk menbayar hutang beberapa dolar kepada rentenir. Lalu ia mulai berpikir, apa yang dapat dia lakukan untuk memperbaiki kondisi seperti itu? Tidaklah benar kalau ia mengajarkan dan menghitung milyaran dolar dalam kelas, sementara lingkungan di sekitarnya berjuang mati-matian untuk mengembalikan hutang yang hanya beberapa dolar.
Akhirnya ia mulai meminjamkan uang kepada ibu-ibu tersebut tanpa agunan. Ia menerapkan metode yang disebut pengawasan berkelompok, sehingga memotivasi semua anggota untuk mengembalikan hutangnya tepat waktu, sekalipun tanpa agunan.
Ternyata metode mikrokreditnya berkembang pesat, dan itulah cikal bakal berdirinya Grameen Bank di Bangladesh.(2)(4) Kini nilai perputaran modalnya sangat besar, dan metode kredit tanpa agunan tersebut mulai diterapkan di negara-negara lain bahkan termasuk di Amerika Serikat.(1)(3)

Penutup
a. Kiranya perenungan ini memotivasi kita semua untuk belajar menjadi penatalayan yang baik atas segala hal yang dipercayakan kepada kita masing-masing, baik itu jabatan, uang, posisi, pendidikan, teknologi, bahkan kesempatan (kairos).
b. Tentu kita semua mengharapkan upah. Upah kita adalah ini: "jika kita bertekun, kita akan turut memerintah bersama dengan Dia."(2 Tim. 2:12). Kita semua berharap bahwa suatu hari nanti jika Yesus datang sebagai Raja, Ia akan mengenali dan menyambut kita dan berkata: "Mari masuk, hai hambaKu yang setia. Ikutlah memerintah bersama Aku dalam kerajaan 1000 tahun."
c. Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kalimat terkenal dari Theodore Roosevelt: "Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada, sekarang".
Dalam konteks ini, pak Purnomo dan rekan-rekannya telah memelopori sikap penatalayan yang baik khususnya dalam menyantuni anak-anak yang tidak mampu agar dapat terus bersekolah. Tentunya hal ini perlu diteladani dan dikembangkan terus di berbagai tempat. Ayo siapa menyusul?

Versi 1.0: 3 juni 2016, pk. 9:25
VC

*terimakasih kepada Pak Prayogo.

Referensi:
(1) Phil Smith & Eric Thurman. A billion bootstraps. McGraw-Hill Comp., 2007.
(2) Aminur Rahman. Women and microcredit in rural Bangladesh: anthropology study on the rhetoric and realities of Grameen Bank lending. Colorado: Westview Press, 1999.
(3) Alex Counts. Small loans, big dreams. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc., 2008.
(4) Evaristus Mainsah et al. Grameen Bank: Taking capitalism to the poor. Columbia Business School. Url: http://www.its.caltech.edu/~e105/readings/cases/grameen.pdf
(5) Stewardship and the Kingdom economy. Url: http://www.gracecommunityfellowship.com/wp-content/pdf/Stewardship%20and%20the%20Kingdom%20Economy.pdf
(6) www.grameen.com
(7) www.muhammadyunus.org
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.