Siang itu kami -saya dan beberapa rekan sekerja- tengah menyantap makan siang di kafetaria kampus. Seperti biasa, setelah semua selesai menandaskan menu favorit masing-masing, kami tak lekas beranjak kembali ke 'pangkalan'; kami memilih duduk sejenak untuk memberi waktu pada perut mencerna makanan sambil menghabiskan jatah waktu istirahat. Seperti biasa pula salah seorang rekan pria saya kemudian meminta ijin untuk menyulut rokok, dan seperti biasa juga tidak ada yang keberatan. Tiba-tiba seorang wanita -sebut saja namanya Sinta- menghampiri meja kami dan kemudian berbagi meja dengan kami. Wanita awal 30-an itupun kemudian meminta ijin, 'Nggak keberatan kan kalau saya merokok?' Saya menjawab tidak; namun saya kaget atas reaksi saya sendiri. Reaksi kaget yang tentunya terbaca jelas di wajah saya; karena di lingkungan terdekat saya nyaris tidak ada seorang perempuan pun yang merokok.
Saya bukan perokok, namun bukan pula anti pada perokok. Saya menghargai keputusan bebas yang diambil oleh masing-masing orang selama keputusan mereka tidak membahayakan orang lain; dan siang itu saya separuh memarahi diri saya sendiri. Mengapa saya, kalau mau bicara jujur, tidak dapat menerima teman wanita saya itu merokok di hadapan saya sedangkan saya santai saja menghadapi teman pria saya yang juga merokok pada waktu dan tempat yang sama? Padahal biasanya saya termasuk yang paling getol saat bicara isu kesetaraan gender; bahwa wanita dan pria itu setara dan sama-sama memiliki kehendak bebas atas kehidupan mereka. Kenapa kemudian saya menjadi berpikir sempit dan terkotak-kotak? Pria boleh merokok, sementara wanita tidak. Apakah ini karena bias budaya Jawa yang sudah mulai mewarnai jalan pikiran saya?
Saat saya mencoba menuangkan 'sempitnya' pikiran saya pada tulisan ini, saya mencoba melihat fenomena ini secara objektif. Asumsi saya adalah merokok sama bahayanya pada pria dan wanita. Bahkan perusahaan rokok pun sudah mengakuinya dengan mencantumkan peringatan pada tiap iklan dan kemasan rokok yang kira-kira bunyinya, 'merokok dapat menimbulkan serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin dan impotensi.' Mungkin tidak persis sama. Maklumlah tidak ada satu pun kemasan rokok di dekat saya saat saya menumpahkan ide dalam coretan ini. Penelusuran saya membawa pada fakta bahwa satu dari tiga kematian akibat rokok disebabkan oleh serangan jantung atau terhambatnya saluran pernapasan. Nikotin dalam rokok yang berpadu dengan karbonmonoksida dalam asap rokok merusak pembuluh darah dan membuat darah menjadi lebih kental. Hal ini tentu dapat terjadi pada pria dan wanita. Jadi tidak ada alasan membedakan pria dan wanita dalam kasus ini.
Masih belum puas, sisi subjektif dari diri saya bertanya, 'Lho, bukankan seorang wanita itu nantinya akan menjadi ibu? (dalam kasus teman saya ini- dia adalah seorang ibu satu anak balita); dan seorang ibu harus bisa memberi contoh yang baik pada anaknya. Padahal anak belajar paling cepat lewat proses imitasi' Namun kemudian, sisi objektif saya pun muncul. Tanggung jawab mengasuh anak itu tidak tepat diletakkan seluruhnya pada ibu. Ayah juga harus dapat menjadi model yang baik bagi anaknya; bukan hanya ibu. Saya pun teringat pada penuturan salah seorang murid saya beberapa waktu lalu, 'Aku ingin cepat besar, biar bisa merokok seperti papa.' Lagi-lagi gender bukan merupakan satu variabel pembeda disini.
Kesimpulannya, saya memang telah berpikiran sempit dan subjektif dengan mengkotakkan wanita sebagai golongan yang tidak pantas merokok sementara pria sah-sah saja melakukannya. Mungkin cara pandang saya sudah terpola oleh pandangan budaya saya yang menganggap wanita tidak boleh merokok. Setelah mencoba memandangnya dari sudut pandang objektif, saya sampai pada pemahaman bahwa merokok sama berbahayanya pada pria dan wanita.
Begitupun, saya paham benar betapa sulitnya membebaskan diri dari rokok. Baru-baru ini salah seorang teman wanita saya - yang tak pernah saya duga dan lihat sebagai seorang perokok- mengungkapkan indahnya perasaannya saat merokok. Katanya,' kalau mau tahu alasannya jawabnya nggak tahu. Aku cuma senang merasakan sensasi asap itu masuk ke paru-paruku yang pink itu, dan menghembuskannya lewat hidungku. Rasanya tenang. I just cannot stop." Saya yakin betul dia tahu resiko yang dihadapinya karena dia adalah salah satu gadis cerdas yang saya kenal. Begitu pula dengan teman wanita yang erbagi meja dengan kami, dan rekan pria saya. Kecerdasannya di atas rata-rata. Mereka tahu betul bahayanya. Namun mengetahui ternyata belum cukup untuk mengambil pilihan untuk berhenti. Saya percaya hidup adalah pilihan dan TUHAN dengan murah hatinya memberi kita kehendak bebas untuk memilih. Jadi meskipun sulit saya yakin bila kita berani memilih dan mengikuti pilihan itu dengan konsisten tak ada yang mustahil. Termasuk pilihan untuk berhenti merokok.
***
Kepulan asap dari kedua teman saya itu sebenarnya mengganggu saya. Mau tidak mau akhirnya saya jadi perokok juga; meski berstatus sebagai perokok pasif. Kalau begini, pilihan bebas mereka sejujurnya sudah mengganggu pilihan saya untuk tidak menjadi perokok dan kebebasan untuk menghirup nikmatnya udara segar. Rekan pria saya tampaknya lebih peka dan berpindah posisi supaya asap yang dikepulkannya tidak mengganggu rekan-rekannya yang lain; justru rekan wanita saya, yang mungkin karena sudah pernah merasakan tinggal di negeri barat, cuek-cuek saja.
Sementara saya bertanya-tanya dalam hati. Pada jaman Yesus hidup apakah rokok sudah ditemukan? Kalau menurut literatur yang saya baca jawabnya adalah belum. Rokok baru ditemukan pada tahun 1500-an. Lalu, seandainya pada masa itu rokok sudah ada, apa kiranya yang akan dikatakan oleh-Nya ya?
Yang pasti DIA tidak akan bilang, laki-laki boleh merokok sedangkan perempuan tidak ^_^.
PS:
Buat teman-teman yang sedang berusaha berhenti merokok bisa klik di sini untuk tips-tips berhenti merokok dan sejumlah fakta mengenai rokok.