Submitted by tonypaulo on

Mengapa Pendeta menjadi sasaran penghakiman beberapa orang Kristen? Berjemaat dengan pendeta tersebut untuk mengetahui karakter sesungguhnya para pendeta itupun tidak, mengetahui seberapa dekat hubungan para pendeta itu dengan Tuhan pun tidak, jadi apa yang digunakan untuk menghakimi para pendeta tersebut?

 

Sebenarnya hampir tidak ada, informasi yang tidak lengkap, yang sepotong-potong itu mirip gambar pisau yang sedang mau ditusukan ke perut seseorang yang ingin dibedah, Nampak kejam jika hanya dilihat potretnya namun jika dilihat videonya malah sebaliknya.  namun mengapa para orang Kristen ada begitu berani untuk menghakimi hamba Tuhan tersebut?

 

Ada suatu fenomena yang memang biasa terjadi di masyarakat dimanapun, merasa baik jika melihat atau membicarakan ketidakbaikan orang lain, padahal urusannya tidak ada dan belum tentu juga membicarakan ketidakbaikan orang lain memberikan suatu solusi atau pencerahan bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

Kalau menjadi komentator masalah politik atau perekonomian, tentu komentator tersebut mempunyai track record yang jelas dibidang keahlian tersebut, setidaknya secara akademis dan latar belakang pengalaman adalah orang-orang yang memang kompeten dan mempunyai kapabilitas dibidang tersebut, kalau untuk menjadi komentator sport, biasanya para wartawan, atau pernah melatih atau pernag menjadi pemain. Namun jadi komentator pendeta?

Apakah orang-orang tersebut wartawan yang biasa meliput ruang lingkup pendeta? Atau mantan pendeta atau….?

 

Karena itu predikat komentatorpun masih belum pantas disematkan kepada orang-orang yang suka mengomentari pendeta tanpa memberikan solusi yang jelas, menginginkan kesempurnaan seorang pendeta? Bagaimana menguraikan kategori kesempurnaan tersebut? Lebih ironisnya para Pendeta yang dihakimi, hanya karena tarif atau persembahan kasih atau jam terbaru dan termahal yang digunakannya, bukannya suatu otokritik yang lebih konstruktif, misalnya mengapa para Pendeta yang berkelimpahan materi itu tidak mensharingkan berkatnya untuk para pendeta-pendeta yang masih berkekurangan di pelosok daerah karena keterbatasan akses ekonomi?

 

Tanpa juga mau tahu mungkin Pendeta tersebut sebelum jadi pendeta sudah memang hidup berkelimpahan atau setidaknya ada jemaat yang begitu tergerak untuk memberikan hadiah berupa jam tangan, mobil ataupun sebuah rumah, sementara jemaat yang member tidak merasa berkeberatan memberi pemberian jasmani tersebut karena sudah merasa dilayani oleh Pendeta itu dan mendapatkan berkat rohani melalui Pendeta tersebut, kok para orang Kristen yang kemungkinan belum pernah memberikan apapun sebagai hadiah kepada Pendeta tersebut, merasa risih? Tanpa alasan yang jelas? Tanpa solusi dan perbuatan yang jelas juga, bukannya belajar untuk member bukan hanya kepada Pendeta, kepada siapapun juga malah sibuk mengurusi tarif Pendeta yang sebenarnya bukan urusannya.

 

Kemudian apakah salah Pendeta seakan-akan persembahan kasihnya yang dianggap tarif, menentukan standar berapa dia harus “dibayar”? mungkin kondisi ini hanya dialami oleh gereja-gereja yang bercorak kharismatik ataupun persekutuan-persekutuan professional.

 

Itupun harus dilihat dengan proposional, karena gereja-gereja Kharismatik, dalam membantuk suatu unit gereja itu otonom dan tidak ada badan khusus yang mensupport pendanaan bagi tumbuh kembang gereja tersebut, benar-benar dari nol, berbeda dengan gereja-gereja Khatolik atau Tradisional lainnya, yang sebagian besar didukung secara financial dan sumber daya. Ketika gereja-gereja Kharismatik ini “membesar” dan bertumbuh secara luar biasa pesat, tidak wajarkah untuk para hamba-hamba Tuhan itu menikmati buah dari pekerjaan tangan dan apa yang dirintisnya? Apakah memang diwajibkan Pendeta itu hidup melarat, berkekurangan, tidak boleh punya mobil, tidak boleh punya jam tangan mahal?

 

Saya pribadi tidak pernah memandang materi-materi yang dimiliki oleh para Pendeta sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan atau dipergunjingkan, karena jika motivasi Pendeta itu hanya kebendaan semata, Tuhan bukan Tuhan yang “mudah” untuk dibohongi, apalagi menyangkut pengembalaan suat jemaat, tentu Tuhan akan berurusan dengan Pendeta tersebut. Dan ketika itu sudah menjadi “wilayah” Tuhan untuk berpekara, lebih baik orang-orang percaya tidak perlu “ikut campur” hak preogatif Tuhan.

 

Pendeta bukanlah malaikat, saya pernah hidup satu atap dengan 2 orang pendeta, seorang pendeta yang adalah gembala sidang dan bekas teman kuliah saya yang memilih menjadi pendeta muda, dan berinteraksi dengan beberapa pendeta, saya menjadi saksi mata dari keseharian Pendeta-Pendeta yang saya kenali, meskipun tidak sempurna, saya sangat respect dan salute dengan mereka.

 

Betapa tidak, selama satu tahun saya perhatikan kehidupan mereka, working hoursnya 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 30/31 hari dalam sebulan, hampir-hampir dalam satu hari tidur 4-5 jam saja, memliki jam doa 4-5 jam dalam sehari, mengunjungi orang sakit, berkotbah dimana-mana dengan suara yang serak dan hampir habis, sampai teman saya menjadi langganan rumah sakit, karena sering memaksakan fisiknya sehingga harus diinfus dan beristirahat total di rumah sakit, bukan karena tidak pandai mengatur waktu, namun ditengah perintisan jemaat dan jaringan pelayanannya, memang konsekuensinya demikian.

 

Ketika teman saya pendeta muda tersebut berulang tahun, banyak para jemaat yang memberikan hadiah-hadiah yang cukup bernilai, saya melihatnya sebagai suatu yang memang sepatutnya ia terima, karena dedikasi pelayanan dan kerja kerasnya bagi Tuhan, sebuah mobil ataupun sebuah rumahpun saya rasa layak diberikan kepadanya, karena bagi seorang Pendeta di sebuah gereja yang merintis dengan 20 orang jemaat saja, tentu hanya karena kemurahan Tuhan saja yang dapat mencukupi kebutuhan kesehariannya.

 

Kembali kepada pendeta yang “pasang tarif”, apakah benar pendeta itu “pasang tarif”? saya rasa tidak, itu hanya rumor atau gossip belaka, namun sering menjadi suatu pembicaraan yang seoang-olah itu kenyataan, kalaupun ada satu-dua Pendeta yang demikian apakah lantas semua Pendeta bisa digenarlisasikan demikian? Tentu tidak

 

Perlu dipikirkan juga kalau Pendeta tersebut mempunyai tim pelayanan, bagaimana tim pelayanannya harus menyekolahkan anak-anaknya, menghidupi anak-anaknya, dsb, ketika ada seseorang yang membicarakan tanpa memikirkan bagaimana kelangsungan hidup dari tim pelayanan Pendeta tersebut, seharusnya sebelum bicara, berpikirlah baik-baik, berprasangka baiklah selalu daripada berprasangka jahat kepada orang lain, kemudian cari informasi yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan, karena seharusnya kelangsungan hidup dari tim pelayanan tersebut juga menjadi pertimbangan orang-orang yang suka membicarakan Pendeta tapi tanpa fakta.

 

Lalu bagaimana bersikap kepada Pendeta-pendeta yang begitu berkelimpahan secara materi? Prasangka baik saya, Tuhan memberikan kelimpahan materi sedemikian banyaknya kepada mereka, pertama ; karena Pendeta itu sudah bisa dipercayakan secara keuangan oleh Tuhan untuk diberikan talenta yang sangat besar, kedua; ada maksud Tuhan untuk mengembangkan pelayanan khususnya pelayanan Diakonia yang diembah oleh Pendeta tersebut (pembangunan Rumah Sakit, Sekolah, dan fasilitas umum lainnya) ketiga; ada tanggung jawab yang besar untuk memproses para Pendeta tersebut agar tidak terikat dan terpedaya oleh gelimangan miliaran rupiah, karena Pendeta hanya sebagai pengelola saja, sebagai pengelola tentu akan terus dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan

 

Pendetapun masih manusia yang juga terus diproses oleh Tuhan, namun “stature”nya berbeda dengan jemaat biasa, mereka adalah Imam-imam yang jika dalam kehidupan mereka ditemukan ketidakbenaran dan ketidakkudusan termasuk soalh uang, biarlah Tuhan sendiri yang berpekara terhadap itu, tidak perlu orang percaya ikut campur tangan dengan ketidaktahuan apa masalahnya, hanya melihat sepintas langsung berasumsi ini dan itu, sementara untuk menata kehidupan sendiripun terkadang masih “kekurangan” waktu

Sudut pandang yang tendensius yang tidak dapat membedakan yang mana fakta yang mana hanya imajinasi, terus bergulir mengumpal seperti bola salju membesar dan semakin membesar, sehingga sulit dibedakan yang mana yang fakta yang mana yang imajinasi namun dibesar-besarkan, kemudian tak ada solusi kreatif yang dapat menuntaskan kesalahpahaman atau kesalahan yang tak jelas dimananya.

 

Mempersalahkan itu mudah, namun menunjuk dengan jelas kesalahan itu tidak mudah, apalagi untuk memberikan solusi terhadap kesalahan yang sudah berhasil ditunjukan, tidak banyak dilakukan oleh orang-orang yang senang mencari kesalahan orang lain untuk merasa tetap dan semakin benar. padahal hanya Tuhanlah yang tetap benar, seorangpun manusia tidak ada yang benar, seorangpun….



 

GBU