20 Oktober 1993
20 Oktober 2009
Cerita ini sengaja kutulis untuk mengingat kembali.... keberadaan sejarah seorang pribadi yang kucintai... Yang tepat 16 tahun silam, pergi.... Bapak...
Kisah ini sudah terjadi sangat lama sekali. Ya, kira-kira 15 tahun yang lalu, saat aku masih balita.
Sudah beberapa hari itu aku tinggal di rumah eyang. Ibu, menitipkan aku di sana karna ibu harus ke rumah sakit untuk menjaga bapak yang sudah cukup lama dirawat.
Sore itu, lain daripada yang lain. Luka bakar di punggung kakiku akibat ulahku main api beberapa hari lalu, belum juga sembuh. Takut kalau-kalau bakal infeksi, rencananya sore itu bulik dan eyang akan memeriksakan lukaku itu ke dokter. Sontak aja, namanya juga anak kecil, aku langsung nangis sejadi-jadinya. "nggak mau ke dokter.. nggak mau.. nggaaaaaakkk....!!" teriakku menunjukkan aksi penolakan.
Bulik ma eyang jadi kebingungan. Segala bentuk bujuk rayuan n tipu muslihat, ku tolak mentah-mentah. Mulai dari mo dibeliin permen, es krim, sampai diajak jalan-jalan, semuanya nggak mempan buat ngeluluhin hatiku. Setelah cukup lama bernegosiasi, akhirnya aku luluh juga ma sebuah penawaran menarik. Sore itu, mereka bilang, kalau aku mau ke dokter, nanti bakal diajak njenguk bapak di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, aku langsung mau. Mau banget!!
Selama bapak di rumah sakit, aku belum pernah menjenguk. Kata orang2 tua sih, alasannya anak kecil nggak boleh masuk rumah sakit. Hiks, jahat banget...
Akhirnya, aku, eyang, n bulik berangkat ke dokter. Aku lega banget ternyata diperiksa tu nggak sakit sama sekali. Cuma lukaku dilihat pake senter, trus dikasih obat yang sebelumnya di'uleg dulu.
Sepulangnya dari sana, aku langsung nagih janji, "Bulik, jadi jenguk bapak ke rumah sakit kan?"
"Iya", jawab bulik sambil menggendongku.
Sepulangnya dari dokter, kami bertiga langsung ke rumah sakit tempat bapak di rawat. Perjalanan ke rumah sakit waktu itu terasa sangat menegangkan. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami sampai di rumah sakit tempat bapak dirawat. Di parkiran, aku meronta dari gendongan bulik, ingin jalan sendiri. Aku berlari nggak sabar sambil menggandeng tangan bulik.
"Bulik, ayo cepet, rini pengen ketemu bapak!" kataku sambil mencoba mempercepat laju kaki meskipun sakit.
Setelah beberapa saat berjalan melewati koridor-koridor kamar yang menjulang tinggi dalam pandangan gadis balita seperti aku, akhirnya kami sampai di muka pintu kamar bapak dirawat. Takut dan bahagia bercampur jadi satu.
Bulik memegang handle pintu, dan beberapa saat kemudian, terpampang di hadapanku sebuah ranjang yang cukup tinggi. Aku berlari mendekati ranjang itu untuk melihat apakah bapak yang berbaring di sana. Karna aku belum cukup tinggi untuk dapat melihat wajah bapak, maka bulik mengangkat dan menggendongku.
Saat itu, perasaan haru luar biasa benar2 melanda seluruh relung hatiku. Saking bahagianya, aku sampai tak memperhatikan betapa terlukiskan kekagetan di wajah ibu dan bapak waktu itu. Tetapi, sebelum mereka sempat bertanya, eyang sudah menjelaskan alasan kenapa aku bisa sampai di sana.
"Bapak kapan pulang?", rengekku sambil memandang penuh kagum dan ngeri pada alat-alat medis rumah sakit. Selang oksigen, darah, dan segala tetek mbengek yang terpasang di tubuh bapak. "Bapak nggak pa pa kan? pulang yuk?"
Aku menangis. Tak tega melihat orang yang kukasihi terbaring dalam keadaan seperti itu. Meskipun saat itu aku masih sangat kecil, aku mampu merasakan betapa tersiksanya bapak di pembaringannya.
Bapak pasti tahu kegundahanku. Dia mencoba tersenyum tegar sambil mengusap rambutku. Kemudian, dia meminta bulik untuk meletakkanku di atas tubuh bapak. Awalnya aku ragu, takut kalau-kalau bapak jadi tambah sakit karna memangkuku di perutnya. Tapi, sekali lagi senyumnya mencoba memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Bapak, aku kangen banget..!!" kataku penuh kejujuran sambil memeluk tubuh lemah bapak.
Melihat tingkahku seperti itu, ibu mendekat dan menurunkanku. Ibu takut kalau berat badanku bakal melukai bapak.
"Ibu, kapan bapak pulang? Aku pengen maen-maen sama bapak lagi di rumah." isakku dalam gendongan ibuku.
"Iya sayang, nanti bapak pasti pulang kok. Rini sekarang pulang dulu sama bulik dan eyang ya?" rayu ibundaku sambil mengecup kening mungilku. Akhirnya, aku, bulik, dan eyang pulang.
Benar. Beberapa hari setelah kunjunganku ke rumah sakit, bapak pulang. Aku tak tahu pasti kenapa hari itu bapak pulang. Sudah sembuhkah? Atau....? Entahlah... Yang jelas, beberapa minggu setelah itu, bapak telah pergi menghadap Seorang Pribadi yang Tertinggi..
Surakarta, 20 Oktober 2009
weha setyorini
Submitted by
weha setyorini
on