Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Siro-Aramaik

victorc's picture

Teks: 2 Raj. 5:1-18

Shalom, selamat pagi saudaraku. Dalam kesempatan kali ini, perkenankan saya melanjutkan sedikit tentang Naaman. Dari teks Kitab Suci kita membaca bahwa raja Aram masih menyembah berhala, dan mungkin Naaman adalah salah satu tokoh dari bangsa Aram yang percaya akan YHWH (ay. 18). Dalam alkitab PL, kata Aram disebut sebanyak 140 kali, termasuk teks Kej. 28:5 yang menyebut Laban, saudara Ribka, sebagai orang Aram. Artinya ada riwayat yang sangat panjang tentang orang-orang beriman dari Aram.
Sejarah juga menunjukkan bahwa bahasa Aram dalam perkembangannya kemudian digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh bangsa Yahudi pada masa Yesus hidup dan melayani di dunia, bahkan kemungkinan besar Yesus pun fasih dan sering menggunakan bahasa Aram tersebut. Selanjutnya, para ahli bahasa menemukan bahwa bahasa Hijazi Arabik (dipengaruhi Syria) digunakan dalam teks Qur'an yang paling kuno, yang ditemukan di mesjid terbesar Sana'a di Yemen. Ini dikenal sebagai  manuskrip Sana'a. Naskah tersebut sekarang disimpan di Dar Al-Makhtutat Library di Yemen. (4)

Mungkinkah ada hubungan historis antara iman Naaman dan orang-orang Kristen berbahasa Aramaik? 
Menurut salah satu peneliti Qur'an yaitu Christoph Luxenberg (1) dalam bukunya yang sempat menghebohkan, versi asli dari Qur'an ditulis di Garshuni, ditulis dalam bahasa Arab namun dalam huruf Siria. Hal inilah yang mungkin menyebabkan bahwa hingga kini sekitar 25% teks Qur'an masih diperdebatkan maknanya.  Bahkan menurutnya, pembacaan Syro-Aramaik terhadap naskah kuno Quran tersebut menyingkapkan banyak hal menarik, misalnya ungkapan yang terkenal bahwa orang yang mati sahid "akan disambut di surga oleh bidadari-bidadari  bermata jeli", mungkin akan lebih tepat dibaca dalam pengaruh bahasa Syro-Aramaik, sehingga artinya menjadi "buah anggur berwarna putih" (Eng.: "We will make you comfortable with white, crystal-clear grapes."). (1) 
Studi filologis yang dilakukan Luxenberg tersebut mungkin akan menarik jika Anda menekuni sastra Timur Tengah khususnya Arab dan Syria. Artinya, hipotesis saya adalah Naaman boleh jadi merupakan salah satu nenek moyang dari kaum berbahasa Aram yang percaya kepada YHWH (Yudaisme), dan ada kemungkinan juga dia merupakan salah satu nenek moyang iman dari kaum Kristen berbahasa Aramaik yang kemudian ikut berpengaruh dalam penulisan versi primitif dari naskah Qur'an. Salah satu petunjuk akan pengaruh kristen ini adalah kisah-kisah tentang masa kecil Yesus, seperti kisah bahwa Yesus membuat burung dari tanah liat lalu ditiup dan menjadi hidup. Atau kisah tentang Yesus saat bayi bersabda sehingga pohon korma membengkok. Kisah-kisah itu bisa diduga berasal dari kitab-kitab apokrif yang tidak termasuk dalam kanon, misalnya Gospel of Infancy (Injil Masa Kanak-kanak Yesus).*
Kumpulan orang kristen yang berbahasa siria/aramaik masih ada sampai saat ini, dan di antaranya dikenal sebagai gereja Maronite di Lebanon. Nama Maronite berasal dari Saint Maron. (6) Lihat misalnya buku Karl-Heinz Ohlig dan Gerd Puin (2). Gerd Puin (University of Saarland) adalah orang yang memimpin proyek restorasi naskah Sana'a.(5)
Dengan kata lain, naskah Qur'an yang dipengaruhi oleh bahasa Aramaik tampaknya menunjukkan kedekatan warisan iman antara Yudaisme, Kristen Arab, dan Islam, meski juga harus diakui bahwa dalam perkembangannya kemudian banyak terdapat perbedaan budaya maupun bahasa.(3)(7)

Penutup
Demikianlah kiranya tulisan ini dapat sedikit membuka wawasan kita akan sekelompok orang yang percaya berbahasa Aramaik yang keberadaannya mungkin bisa ditelusuri sampai ke kisah Naaman. Bagi umat Kristen, kiranya tulisan ini berguna untuk mengingatkan kita akan akar budaya palestina/aramaik dari kekristenan perdana, yang kerap kali terlupakan. Tulisan ini juga dimaksudkan sebagai salah satu pendekatan ke arah dialog teologis antara Kristen-Islam, dengan tetap menghormati perbedaan masing-masing.

Bagaimana pendapat Anda?

versi 1.0: 9 april 2016, pk. 23:14; versi 1.1: 18 april 2016, pk. 21:38.
VC

Catatan:
*Terimakasih atas saran dari Dr. Bambang Noorsena, M.H.

Referensi:
(1) Christoph Luxenberg. The Syro-Aramaic Reading of The Koran: a Contribution to the decoding of the language of the Koran. Berlin: Hans Schiler, 2007. Lihat Chapter 15, mulai hal 247 dst.
(2) Karl-Heinz Ohlig dan Gerd-R. Puin. The Hidden origins of Islam: New research into its early history. New York: Prometheus Books.
(3) Roelf S. Kuitse. Christology in the Qur'an. Missiology: an international review, vol. XX, no. 3. july 1992
(4) http://www.islamic-awareness.org/Quran/Text/Mss/soth.html
(5) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sana%27a_manuscript
(6) Guita G. Hourani. Url: http://www.maronitesofcyprus.com/upload/20080819/1219131385-15439.pdf
(7) Emmanouela Grypeou, Mark Swanson, David Thomas (ed.) The encounter of Eastern Christianity with Early Islam. Leiden, Boston: Brill, 2006.

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.