Submitted by sweetyimel on

Mati, semua kita pasti mati. Kodrat, semua yang hidup suatu hari nanti pasti mati entah itu disengaja atau memang sudah waktunya. Bagaimana rasanya mati, mati sebenarnya! Ketika waktu benar-benar telah habis dan tak ada kesempatan lagi. Kemarin, ibu dari seorang sahabatku telah dipanggilNya, tak disangka-sangka sang maut datang tiba-tiba. Bahkan, hampir saya saya tidak percaya mendengar kabar itu. Sungguh mustahil seseorang yang sehat bisa meninggal begitu saja. Bingung, sedih  dan tak tahu harus berbuat apa, saat itu yang terpikir bahwa saya hanya ingin secepatnya berada dekat sahabatku ini. Segera saya berangkat menuju rumahnya dan disana ‘’sang ibu’’ telah terbujur kaku dibalut kebaya merah dan tangisan orang-orang di sekelilingnya. Saya melihat sahabat saya, dan segera memeluknya. Mencoba tegar untuknya tapi tak kuasa air mata meleleh juga.

Teringat sebuah peristiwa lampau yang menyakitkan hati ketika mendiang ibu saya pergi untuk selama-lamanya. Mungkin perasaan seperti itu yang kini sedang berkecamuk dalam hatinya. Pedih dan selalu tak mudah untuk ditinggal orang tercinta terlebih ibu kita! Tua muda siapapun kita, pasti pernah menangis! Menangis karena rasa kehilangan akan seseorang yang kita kasihi. Ibu, orang yang teramat dekat dengan kita. Seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan merawat kita. Ibu yang selalu ada untuk kita ketika kita sakit, susah dan sekedar hanya ingin bermanja-manja dengannya. Ibu yang selalu mendoakan kita. Dan kini ibu itu sudah tiada, tak ada yang mampu menggantikannya.

Perasan kehilangan semoga lekas lekas terobati. Setiap kenangan indah bersama sang ibu kiranya mampu mengusir rasa rindu di pelupuk hati. Relakan saja karena kepergiannya yang terbaik yang Tuhan inginkan. Karena firmannya berkata bahwa begitu berharganya kematian seseorang yang Dia kasihi. Kisah sang Ibu telah usai, dan tugasnya sudah selesai. Dia telah kembali berpulang ke rumah Bapa di surga dan tinggal di dalamnya. Hanya saja kita yang hidup, adakah kita siap untuk datangnya sang maut. Atau kematian bagi kita adalah sebuah keuntungan. Entahlah….  

Dan harta, gelimang harta tak mampu kita bawa baik ke surga ataupun neraka! Jadi untuk apa hartamu, kekayaanmu … semuanya itu fana! HARTA, berapa banyak orang yang mati sia-sia karena harta? Berapa banyak yang salah mengira dengan gelimang harta maka dirinya dapat luput dari maut ataupun hukuman kekal? Berapa banyak juga orang yang hidup yang menggantungkan kebahagiaan bahkan harga dirinya dengan HARTA? Banyak bukan. Adakah mereka lupa bahwa harta dunia tak bisa dibawa? Bukan berapa banyak hartamu yang nanti DIA tanyakan kepada kita! Bukan. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga;  di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

Selamat jalan Ibu! Doakan kami anak-anakmu, kelak sampai berjumpa lagi.