Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Tentang Siska

iik j's picture

google

Siska nampak sibuk memilih baju lalu memasukkan satu persatu ke dalam keranjang. Aku hanya memandang semua tingkah lakunya.

 Sesekali dia akan nyeletuk, “Bagus yahh… lucu… aku belum punya yang begini…”

Aku beberapa kali menyunggingkan senyuman, tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkannya dengan baju lucu, indah dan baru tren. Aku sendiri bukan seorang yang ketinggalan mode, tapi aku biasanya membeli jika membutuhkannya saja.

Aku sudah mendengar dari banyak orang tentang Siska yang hobi membeli setumpuk pakaian meski jarang dipakainya.

“Semua nasehat lewat begitu saja” keluh seseorang padaku

Dan kali ini aku menemaninya ‘berburu’ baju dan gaun-gaun cantik di sebuah butik. Entah berapa banyak potong baju yang telah dicobanya dan ditumpuknya dalam keranjang, aku belum mau berkomentar.

“Sepertinya sudah….” kata Siska akhirnya

“Sudah?” tanyaku

“Iya” jawab Siska

“Beneran? Tidak ada lagi?”

“Iya…”

“Yakin?”

Siska menatap mataku tajam, “Apa maksudmu? Aku membeli semua baju ini dengan uangku sendiri…”

“Ga apa-apa… hanya meyakinkan saja… biar sekali jalan ke kasir…” jawabku ringan

“Pertanyaanmu itu menuduh”

“Bagian mana yang menuduh?”

“Kamu…”

Aku mengelus punggungnya pelan, “Ambil aja lagi kalau kamu masih mau… aku akan sabar menunggu”

“Aku…” kata Siska dengan mata berkaca-kaca

Aku diam sambil menyentuh sebuah gaun yang tergantung di dekatku, meraba kainnya, dan melihat alur jahitannya.

“Aku frustasi! Semua orang menuduhku terlalu pemilih, terlalu tinggi menaruh standar seorang pria, terlalu begini begitu…”

“Apa hubungannya semua itu dengan baju…?” tanyaku

“Aku berasa gila! Aku bukannya tidak mau menikah! Tapi belum ada yang cocok! Dan aku tidak mau menikah dengan sembarang orang hanya karena aku sudah berumur 43 tahun! Kalau hanya sekedar lelaki saja… itu gampang, tetapi pernikahan bukan hal yang mudah dilalui… dan …”

Aku masih mendengarkannya sambil menyentuh beberapa gaun cantik di dekatku.  Aku bukan penggila gaun, tapi aku selalu menyukai para pembuatnya, mereka pasti bekerja dengan sangat keras sehingga setiap detilnya terpasang dengan sempurna. Dan aku dengan senang hati sesekali memakai gaun cantik :D

“Kalau belum mau… ya tidak apa-apa… bukannya enak atau tidaknya sebuah pernikahan itu nantinya kamu yang rasakan, bukan mereka, mereka, dan mereka, lalu apa masalahnya?”

“Kamu itu enak sekali bicaranya… kamu bukan aku yang dikejar umur! Aku tahu persis usia biologis wanita! Aku 43! 43! Bukan usia yang muda lagi… tapi aku tidak menyukai pria yang dijodohkan padaku… jadi bagaimana? Mereka bilang mungkin saja ini kesempatan terakhirku… aku frustasi… tapi aku tidak mau merugikan orang lain… makanya ….”

“Makanya kau tumpuk semua gaun itu? Betul begitu? Untuk apa? Bisakah dia mengobati hatimu??” tanyaku

“Aku…” air mata mulai mengalir dari ujung matanya

“Berharaplah hanya pada Tuhan… segala sesuatu telah ditetapkanNYA… kita tidak pernah tahu dimana kita akan bertemu dengannya… pria yang ‘memang untuk kita’ itu. Esok hari dia akan datang untukmu! Dan setelah itu… yang lain lagi untukku!” kataku sambil tersenyum

Siska menatapku tajam, “Aku sudah lama menunggu”

“Tidak apa-apa… toh tidak ada yang sia-sia dengan waktumu selama ini kan…? Kamu orang yang sangat baik… menolong banyak orang… Aku yakin Tuhan akan memberikan yang tepat untukmu! Kita lihat saja!” jawabku

“Aku kembalikan saja semua baju dan gaun ini…”

“Yakin?” godaku

“Kamu itu ah!!” jawab Siska sambil tersenyum

“Keindahan tidak didapat dari berbagai gaun dan riasan, masa depan juga tidak bisa berpatokan dari apa yang terjadi hari ini, segala sesuatu di dunia ini bisa berubah dan berbelok dengan mendadak. Serahkan segala kekuatiran kita padaNYA, bukankah DIA pemelihara jiwa kita?” kataku sambil menepuk punggungnya pelan

***