Submitted by kia on

Ateis biasanya secara terang-terangan menyatakan bahwa “tidak ada Tuhan”. Apakah pernyataan ini secara logis dapat dipertahankan? Menurut Ron Rhodes (http://home.earthlink.net/~ronrhodes/Atheism.html), hanya seseorang yang mampu berada di semua tempat pada saat yang bersamaan (mahahadir) dan dengan pengetahuan yang sempurna dari semua yang ada di alam semesta (mahatahu), dapat membuat pernyataan seperti itu. Dengan kata lain, seseorang harus menjadi Tuhan untuk mengatakan tidak ada Tuhan.



Dalam berdiskusi dengan atheis, sebetulnya kita cukup menunjukkan ketidaklogisan dari sistem kepercayaannya. Berikut ini adalah beberapa tips dan strategi yang saya kumpulkan dari sumber yang berpengalaman, yang mungkin bisa kita terapkan.



1. Sebelum berdebat dengan mereka, mesti establish definisi dulu. Tanyakan mereka apa yang mereka maksudkan dengan kata “Tuhan”. Jika tidak ada kesepakatan, percuma berdebat dengan atheis tentang Tuhan. Jangan pernah berasumsi definisinya sama dengan kita.



Atheis yang mengatakan “Tuhan tidak ada” berkewajiban untuk membuktikannya. Burden of proof ada dipihak mereka. Selalu asumsi merekalah yang harus menjelaskan posisinya. Alasannya sebenarnya gamblang. Selalu jauh lebih gampang menyalahkan pendapat orang lain, daripada menerangkan posisi sendiri. Jadi selalu perlu minta penjelasan atas argumen mereka, dan kadang perlu mengelak menjawab pertanyaan mereka.



Contoh: jangan pernah mau diminta membuktikan Tuhan ada. Minta mereka dulu, untuk membuktikan Tuhan tidak ada. Orang tak percaya, selalu ingin kita yg membuktikan apakah Tuhan ada. Seolah2 kitalah yg bersalah dan harus menjelaskan.



Kita mesti balikkan, minta mereka buktikan Tuhan tidak ada. Dan jauh2 lebih sulit membuktikan Tuhan tidak ada, daripada membuktikan Tuhan ada. Jika ateis itu cukup lihai biasanya akan selalu berusaha mengelak dan tidak mau, dan minta kita yg buktikan dulu. Tapi tidak usah mengalah. Kalau mereka tidak mau, kita juga tidak perlu.



2. Jangan menggunakan argumentasi: “segala sesuatu pasti diciptakan, Atau “Semua ada penyebabnya. maka ini membuktikan adanya Tuhan”. Jika Anda berargumentasi demikian, anda akan mati langkah kalau di-skak, “jika segala sesuatu harus ada penciptanya.. lalu siapa yang menciptakan Tuhan??”. “Jika semua ada penyebabnya, lalu Tuhan apa penyebabnya?”. By definition, Tuhan bukan ciptaan.



Yang benar adalah Semua akibat ada penyebabnya. Saya ada karena ortu saya. Maka ortu saya adalah penyebab dan saya adalah akibat. Tapi ortu ada, karena kakek nenek. Jadi ortu, itu sekaligus penyebab dan akibat. Terhadap saya, ia penyebab, terhadap kakek nenek, ia akibat. Nah, kalau ditelusuri terus, akan sampai pada satu titik, penyebab yg bukan akibat. Penyebab yg tidak disebabkan. Kita berargumen, itu lah prima causa. Penyebab pertama. Plato mengatakan the Unmoved Mover. Penggerak yg tidak digerakkan.



3. Logika itu penting. Logika tidak sama dengan rationalists atau sekedar mengandalkan otak saja. Orang tak beriman selalu memandang iman Kristen tak rasional. Ini mesti dibantah.. Namun, Jangan menerangkan Tritunggal kepada orang tak percaya. Orang percaya saja susah mengerti, dan tak mungkin dimengerti secara keseluruhan, karena merupakan misteri. Jadi, itu tindakan bunuh diri, nanti hanya menguatkan asumsi mereka bahwa kita tidak rasional. Jangan mencoba menerangkan ayat Alkitab, percuma saja. Ngak bakalan dimengerti juga. Tanya saja, apa mereka percaya Alkitab itu Firman Allah. Kalau tidak. Ya, sudah.



4. Jangan biarkan mereka masuk arena kita; diskusi prinsip2 umum saja. Katakan, soal Alkitab, itu soal keyakinan. Jangan berikan bukti yang ada di Alkitab.



5. Akhirnya, tujuan debat bukanlah untk memenangkan mereka, tapi cukup menunjukkan ketidak-konsisten-an sistem mereka. jika Tuhan tidak mau membuka hati mereka, tidak ada yang bisa menerima kebenaran



Mat 13:14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.



Khotbah Yesus saja, tidak semua orang mau menerima, dan seorang hamba tidak lebih dari Tuannya ... maka kebenaran tidak akan bisa dimengerti semua orang, kecuali yg dibukakan hatinya oleh Roh Kudus ...

 



Semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua..



Mungkin ada rekan-rekan yang mau menambahkan atau mengkoreksi.. dipersilakan.

Tuhan memberkati.